Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pengembangan Genetik Baru Pacu Produksi Pangan

📅 Jumat, 17 Mar 2023, 08:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pengembangan Genetik Baru Pacu Produksi Pangan Doc: istimewa

YOGYAKARTA - Kepala Pusat Inovasi Agrotenologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada (UGM) Taryono mengatakan pengembangan material genetik baru jenis tanaman pangan diperlukan untuk mendukung peningkatan produksi pangan nasional.

"Program pengembangan material genetik baru merupakan terobosan utama untuk memecah kebuntuan dalam skenario peningkatan produksi pangan," ujar Taryono melalui keterangan resmi UGM di Yogyakarta, Kamis (16/3).

Menurutnya, bangsa Indonesia memerlukan upaya percepatan pemanfaatan sumber daya genetik untuk mewujudkan material genetik baru tanaman pangan yang lebih produktif dengan mutu hasil tinggi, tahan berbagai tekanan lingkungan abiotik, dan tahan terhadap tekanan lingkungan biotik seperti hama, penyakit, dan gulma.

PIAT UGM bekerja sama dengan tim peneliti dari fakultas Pertanian UGM, kata Taryono, tengah melakukan serangkaian program pemuliaan untuk mendapatkan material genetik baru tanaman pangan seperti padi, bawang merah, tomat, cabai rawit, jagung, terong, mentimun, kedelai, kacang panjang, kacang hijau, kacang koro, dan melon.

"Salah satu material genetik baru tanaman padi yang sudah mendapatkan izin pelepasan varietas dari Kementerian Pertanian RI yaitu Gamagora 7," kata dia.

Menurut dia, varietas padi baru dirancang untuk memiliki sifat produktivitas tinggi dengan potensi hasil gabah kering giling mencapai 9,80 ton per hektare per musim.

Bahkan mutu citarasa varietas itu menyamai beras pulen dan tahan dinamika cuaca ekstrem.

Taryono mengatakan peningkatan produksi pangan dapat dilakukan melalui dua skenario yaitu perluasan areal tanam atau ekstensifikasi dan optimalisasi operasional produksi atau intensifikasi.

Namun demikian, skenario ekstensifikasi pada beberapa tahun ke depan terkendala akibat dari penguasaan lahan per petani yang terus menyempit.

Dia menyebutkan pada 1960, rerata penguasaan lahan per petani mencapai 5.000 meter persegi dan pada 2020 menurun signifikan menjadi 2.000 meter persegi.

Karena itu, Taryono menilai pengembangan material genetik baru untuk jenis tanaman pangan diperlukan dalam rangka mewujudkan peningkatan produksi pangan melalui skenario intensifikasi.

Terobosan Utama

Sementara itu, Peneliti Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung Prof Agung Karuniawan menuturkan program pemuliaan tanaman melalui pemanfaatan kelimpahan sumber daya genetik merupakan terobosan utama untuk mewujudkan produktivitas pangan yang tinggi dan berkelanjutan.

"Saya kira tren dalam program pemuliaan ke depan juga memasukkan aspek kekayaan metabolit di dalam produk untuk mendukung produksi pangan fungsional," jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.