Masyarakat Harus Siap Hadapi Krisis Pangan

Jumat, 10 Jun 2022, 00:04 WIB

» Lahan pertanian produktif terus menyusut akibat alih fungsi lahan.

» Penerapan teknologi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani.

Ket. Foto: ANDI WIDJAJANTO Gubernur Lemhanas RI - Jadi, yang sering diungkapkan oleh Bapak Presiden, sense of crisis-nya ditingkatkan sehingga kita memiliki sensitivitas ketika indikator- indikator yang ada bergerak ke arah sana, pada saat kita bergerak ke arah krisis. Nah, tone-nya itu sudah tone survival. — Sumber: ISTIMEWA

JAKARTA - Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI meminta masyarakat harus siap menghadapi berbagai ancaman krisis, termasuk krisis pangan. Gubernur Lemhanas, Andi Widjajanto, dalam diskusi bertajuk "Perkembangan Ekonomi, Pangan, dan Geopolitik Dunia" di Jakarta baru-baru ini mengatakan perlunya kesiapan masyarakat itu karena selama ini yang jadi masalah adalah banyak yang tidak sadar kalau sedang menuju krisis.

"Kita sekarang belum menuju krisis pangan, tapi kuadrannya bukan kuadran yang ideal dari skenario yang ada. Kalau kita belajar tentang pengelolaan krisis yang pertama, masalah terbesar pada saat kita bersiap menghadapi krisis adalah kita tidak sadar kita menuju krisis. Kemudian, masalah terbesarnya pada saat pengelolaan krisis. Kita tidak sadar kita sedang krisis," kata Andi.

Arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), kata Andi, sudah jelas bahwa seluruh pemangku kepentingan harus dapat meningkatkan rasa krisis, sehingga diharapkan bangsa Indonesia akan lebih siap menghadapi krisis apa pun.

"Jadi, yang sering diungkapkan oleh Bapak Presiden, sense of crisis-nya ditingkatkan sehingga kita memiliki sensitivitas ketika indikator-indikator yang ada bergerak ke arah sana, pada saat kita bergerak ke arah krisis. Nah, tone-nya itu sudah tone survival," jelas Andi.

Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, dalam kesempatan yang sama mengatakan perjalanan sejarah menunjukkan 70 tahun lalu, saat peletakan batu pertama pendirian fakultas pertanian yang kini menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB), Presiden pertama RI, Soekarno, mengingatkan bahwa persoalan pangan adalah tentang hidup dan matinya suatu bangsa.

Kondisi tersebut, papar Lestari, menuntut semua pihak untuk tidak sekadar berbicara mewujudkan tantangan, tetapi penting mewujudkan kedaulatan pangan yang tecermin dari ketersediaan bahan pangan yang cukup.

"Bicara ketahanan pangan, banyak sekali masalah yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan satu sama lain. Kita juga berbicara lahan pertanian produktif yang terus menyusut, kemudian bagaimana berkurangnya jumlah tanah persawahan, alih fungsinya tanah persawahan, dan masih banyak lagi hal-hal yang perlu menjadi perhatian kita semua," kata Lestari.

Adopsi Teknologi

Menanggapi ancaman krisis itu, Peneliti Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Adinova Fauri, mengatakan pemerintah harus meningkatkan produksi pangan domestik, termasuk menjaga kelancaran arus produksi dan distribusi barang serta jasa antarwilayah di seluruh Indonesia.

"Hal ini tentu sangat penting terutama bahan pangan seperti beras dan sembako yang memiliki bobot besar dalam perhitungan inflasi," kata Adinova.

Pemerintah juga perlu mempercepat adopsi teknologi di sektor pertanian dan perkebunan. Penambahan lahan bukan satu-satunya opsi yang berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

"Penggunaan teknologi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani dan pekebun demi menjaga ketahanan pangan Indonesia," kata Adinova.

Hal yang tak kalah penting, tambahnya, adalah reformasi institusi. Setiap kebijakan pangan perlu diintegrasikan pada suatu sistem dalam institusi yang baik, sehingga ketahanan pangan terus terjaga. Pembentukan dan penetapan early warning indicators dapat menjadi awal untuk menjaga pemenuhan kebutuhan domestik. Badan Pangan Nasional harus mendorong transformasi tata kelola kebijakan pangan yang lebih baik," katanya.

Sementara itu, pengamat pertanian dari UPN Veteran Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat, mengatakan ancaman krisis pangan sangat nyata dan hanya pertanian berkelanjutan yang dapat menjadi solusi untuk antisipasi krisis ke depan.

"Selain penurunan produksi, kompetisi dalam mengonsumsi hasil pertanian semakin memicu kelangkaan pangan," kata Ramdan.

Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengingatkan pemerintah harus berhati- hati dengan kebergantungan pada pangan dari korporasi pascaliberalisasi ekonomi yang membuat kita rentan krisis pangan.

"Liberalisasi pangan membuat kebergantungan impor pangan kita tinggi sehingga rentan terhadap ancaman krisis pangan," kata Awan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Perkuat Komitmen pada Asuransi Inklusif, AXA Mandiri Raih ESG Award 2026 by KEHATI

Menag Bertemu Dubes Mesir, Grand Syekh Al-Azhar Dipastikan Hadiri IGIC 2026.

Universitas Thailand Tawarkan Kuliah dan Beasiswa di Jakarta

Secercah Harapan Rehabilitasi 300 Orangutan Menanti Kesiapan Pelepasliaran yang Aman

Intensifkan Pemasaran WashTower, LG Bentuk Kolaborasi Dengan Mitra Dealer Spesialis

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Rumah Harimau Sumatera Ikut Hangus Dilalap Kebakaran Hutan

Aturan Baru Tarif Pengantaran Barang dan Makanan Ojol Digodok Kemkomdigi, Tak Adopsi Skema 92:8, Fokus bagi Hasil Adil

LG UltraGear Native 1000Hz Segera Hadir di Indonesia

Impor Udang Vaname 120 Ton Lewat Kawasan Berikat, KKP Minta Industri Utamakan Produksi Lokal

D'Masiv Bikin Album Full Berbahasa Inggris, Beri Warna Baru bagi Massivers

Tapak Tumbuh Hadir di JIA Curated 2026, Ubah Jejak Bumi Menjadi Pengalaman Spasial

Waspada! Modus Paket Umrah di Bawah Rp26 Juta, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Indikasi Penipuan

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

FLONA 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Pamerkan Kekayaan Flora-Fauna Nusantara

PLN Berhasil Pulihkan Keseluruhan Sistem Kelistrikan Flores Pasca Gempa M7,7

Pertamina Tambah Fasilitas Dermaga Jetty di Terminal BBM Manggis Bali, Amankan Pasokan BBM Bali-Nusra

PT KAI dan KCIC Gelar Program EduTrain bagi 81 Anak Panti Asuhan

Gubernur Pramono Lantik 7 Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Ini Daftar Nama dan Jabatannya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.