Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengurai Biomassa Sisa Panen Menjadi Pupuk

30 Selasa, 14 Des 2021, 00:00 WIB | Oleh:
Mengurai Biomassa Sisa Panen Menjadi Pupuk Mengurai Biomassa Sisa Panen Menjadi Pupuk Doc: istimewa

Setiap musim gugur ketika panen telah selesai, Anil Kalyan dari Desa Kutail di Negara Bagian Haryana, India utara, akan bergabung dengan puluhan ribu petani padi lainnya. Mereka akan beramai-ramai membakar sisa batang padi yang masih hidup sebagai cara membersihkan ladang pertanian untuk ditanami gandum pada musim yang lebih sejuk.
Namun tahun ini, Kalyan tidak melakukannya. Ia ingin merubah kebiasaannya yang mencemari udara sehingga menciptakan kabut asap di Delhi dan mengurangi hasil panen, dengan mendaftarkan tanahnya untuk percobaan yang diadakan pemerintah di Negara Bagian Haryana dan Punjab yang saling berdekatan.
Lahan Kalyna seluas 16 hektare akan disemprot dengan alat yang dipasang pada traktor. Semprotannya berupa biodekomposer berbentuk enzim, yang berperan mengurai sisa batang padi atau tungkul menjadi pupuk dalam waktu kurang dari sebulan.
"(Solusi baru) ini akan sangat bermanfaat bagi kami. Ini akan mengurangi biaya, meningkatkan hasil panen beberapa kali lipat, dan mengurangi polusi," ujar Kalyan seperti dikutip The Guardian.
Membakar tungkul cukup merugikan bukan hanya dari sisi polusi udara saja. Panas yang ditimbulkan dari pembakaran mematikan mikroba yang mengakibatkan tanah kehilangan kesuburan.
Program penguraian materi selulosa tanaman menggunakan enzim menjadi pupuk menjadi proyek terbesar yang pernah dilakukan di India. Langkah ini diharapkan mengakhiri pembakaran jerami pada lahan sawah seluas 2,3 juta hektare setiap tahunnya.
Skema ini disusun dan dipimpin oleh Nurture.farm, sebuah platform digital untuk pertanian berkelanjutan yang diluncurkan 18 bulan lalu. Lebih dari 700 mesin penyemprot dikerahkan di 170.000 hektare di 23 distrik. Lebih dari 25.000 petani terlibat dalam dalam percobaan.
Meski masih sekedar percobaan, langkah yang dilakukan dapat mencegah emisi karbon sebanyak 1 juta ton. Enzim yang dikembangkan oleh Institut Penelitian Pertanian India, meningkatkan jumlah karbon organik di dalam tanah dan menjaga kesehatan tanah secara keseluruhan.
Pembakaran jerami terjadi di lahan pertanian banyak negara. Namun di India, negara pengekspor beras terbesar di dunia, nilai dan dampaknya bagi lingkungan menjadi sangat tinggi. Selain itu pembakaran itu mengurangi nutrisi dalam tanah serta menambah polusi udara.

Label Berkelanjutan
Menurut ahli meteorologi pemerintah, selama musim pembakaran tanaman, praktik tersebut dapat menyebabkan hingga 45 persen polusi Delhi. Chief operating officer di Nurture.farm, Dhruv Sawhney, mengatakan lebih dari 70.000 kebakaran pertanian terdeteksi oleh citra satelit di musim pembakaran jerami tahun ini di India.
"Pembakaran tungkul sekarang telah menjadi masalah abadi karena ketidaksesuaian kebijakan dan praktik pertanian dan yang terpenting, kurangnya pilihan yang tersedia bagi petani," ungkap Sawhney.
Ia ingin memberikan kredit karbon kepada petani untuk praktik pertanian yang baik, untuk mempertahankan dan meningkatkan proyek. Perusahaan kemudian meluncurkan label "beras yang ditanam secara berkelanjutan" sehingga orang dapat membeli beras dari ladang di mana tidak lagi terjadi pembakaran.
"Kami juga mempertimbangkan untuk menghasilkan lebih banyak kredit karbon dengan memperkenalkan praktik berkelanjutan tambahan seperti pembasahan dan pengeringan alternatif [padi], yang akan menghemat air dan mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Sawhney.
Program penggunaan enzim untuk mengurai sisa tanaman padi itu akan diperluas tahun depan. Praktek ini akan mencakup sekitar 800.000 hektare lahan. Pada lahan tersebut pada umumnya sekitar 40 persen dari area biasanya terbakar karena proses tersebut.
Pemerintah India telah melarang pembakaran jerami kering sebelumnya dengan ancaman denda. Namun ancaman hukuman yang tersebut tidak banyak membantu para petani, yang melihatnya sebagai satu-satunya pilihan untuk menyiapkan ladang dalam waktu singkat di antara dua tanaman.
"Kalau hanya dengan menghukum petani, pembakaran tungkul bisa dihentikan, seharusnya kita sudah bisa mengakhirinya sekarang," kata Kepala Program Udara Bersih di Pusat Sains dan Lingkungan India, Anumita Roychowdhury.
Roychowdhury memiliki bukti pada daerah yang menerapkan penguraian sisa batang padi dengan enzim insiden kebakaran mengalami penurunan. Baginya memberi hukuman tanpa pernah memberikan solusi tidak akan berhasil.
"Penalti tanpa akses ke solusi tidak akan berhasil," pungkas Roychowdhury. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

Dalam Sesi Latihan Bebas Pertama MM Terdepan di Sepang

55 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Dalam Sesi Latihan Bebas Pe...

Balapan MotoGP Malaysia Minus Raul Fernandez

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Balapan MotoGP Malaysia Min...
Daerah
Harga Cabai Naik? Jangan Kh...
Nasional
Wamendagri Ingatkan Kepala ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Gua Harimau, Melihat Jejak Manusia Prasejarah di Sumatera Selatan

Gua Harimau, Melihat Jejak Manusia Prasejarah di Sumatera Selatan

30 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.