Dari Pameran Bersama NASA, Venzha Christ Luncurkan Karya NFT Pertamanya Saat HUT ke-76 Kemerdekaan RI
Selasa, 17 Agu 2021, 20:56 WIBYOGYAKARTA - Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada Selasa 17 Agustus, Venzha Christ, seniman asal Yogya yang banyak berkarya dengan tema luar angkasa ini, meluncurkan karya NFT (Non-Fungible Token) pertamanya.
NFT, sebuah aset seni kripto di jaringan blockchain yang popular dalam beberapa tahun terakhir, yang diluncurkan Venzha untuk pertamakalinya ini berupa sebuah blueprint 3D animasi dari karya live performance-nya dalam sebuah perhelatan pameran bersama NASA di ArtScience Museum 2016-2017.
Karya tersebut mempunyai judul asli Listening for The Dark, yaitu membangun sebuah antenna besar yang dihubungkan dengan tubuh manusia sebagai medium sensornya. Antena ini bertugas untuk menangkap frekwensi dari luar planet Bumi dan diperdengarkan secara live sebagai sebuah komposisi musik eksperimental.
"Sebagai karya NFT kemudian saya beri judul humanradio_NASAproject#01," kata Venzha di Yogya, Selasa (17/8).
Karya live performance ini sebenarnya adalah salah satu rangkaian dari sebuah pameran besar NASA yang mengundang Venzha Christ sebagai satu-satunya seniman yang berkolaborasi. Dan untuk pameran besar tersebut Venzha Christ membangun dan menampilkan karya berupa instalasi DIY Radio Astronomy beserta dengan visualisasi frekwensi yang bisa dilihat dan diperdengarkan. Karya ini dipamerkan selama 4 bulan pada tahun 2016, dan dibangun oleh v.u.f.o.c lab dan diusung oleh Indonesia Space Science Society (ISSS).
Untuk karya NFT pertamanya ini Venzha Christ bergabung dalam ide dari Metarupa untuk memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 76, dengan #HENonesia. Yaitu dengan memasang harga 1.7845 tez per itemnya, yang menggambarkan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia 17-8-1945, dan dibuat dalam 76 edisi melambangkan HUT ke-76 RI. Karya ini diluncurkan pada tanggal 12 Agustus 2021 lalu di portal Hicetnunc.
Terkait karya seni NFT, Direktur Indonesia Space Science Society (ISSS) ini mengatakan saat ini pelaku dan komunitas NFT di Indonesia sudah lumayan banyak dan perkembangannya juga sangat cepat. Sebut saja beberapa pegiat dan pelakunya seperti Metarupa, Zenavi, Ruanth Chrisley, Diela Maharanie, Rimbawan Gerilya, Jeffri Honesta, Hari Prast, Arnold Poernomo, Ykha Amelz, Lafrich, dan masih banyak lagi lainnya.
Venzha Christ menambahkan ke depan dia akan menampilkan (dengan istilah me-minting) berbagai blueprint dari karya-karya yang pernah dibuatnya, yang memang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Karya-karya berbasis riset dalam ranah space science dan space exploration ini adalah hasil kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai lembaga, institusi, maupun universitas dari berbagai negara.
Tercatat sudah lebih dari 40 institusi yang sudah menjalin hubungan dan bahkan juga berkolaborasi, sebut saja NASA, Mars Society, JAXA, SpaceX, CERN - LHC, ESA, SETI, LAM, IRAM, CEOU, ELSI, CNES, SCASS, dan lainnya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
JICAF 2026 Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Seni Kontemporer Selama Tiga Pekan
-
Midea Celest Inverter AC Berteknologi AI dengan Fitur Pendinginan Cepat dan Pembersihan Otomatis
-
Karhutla Tak Kunjung Padam, MUI Ajak Gelar Shalat Istisqa Agar Hujan Turun
-
Menjaga Ekistensi Adat dan Budaya yang Menopang Pariwisata
-
Bukan Karena Miskin, Ternyata Ini Penyebab Utama Stunting Anak Melonjak di Sampang
-
Abu Gunung Anak Krakatau Makin Meluas, Kini Terdeteksi di 23 Kecamatan di Kabupaten Serang
-
Mentan Sebut Kemandirian Pangan Lindungi Rakyat dari Gejolak Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.