Warga Diminta Tak Sambut Tahun Baru di Gamalama

Senin, 31 Des 2018, 06:00 WIB

Akibat masih aktifnya Gunung Gamalama dan berstatus waspada, para wisatawan diminta tidak menyambut Tahun Baru di puncak gunung tersebut.

TERNATE - Masyarakat di Ternate, Maluku Utara (Malut), termasuk wisatawan diimbau tidak menyambut malam Tahun Baru 2019 di puncak Gunung Gamalama. Imbauan itu disampaikan karena gunung api itu masih dalam status Waspada atau Level II.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

"Dengan status Waspada itu maka masyarakat tidak boleh mendekati minimal 1,5 kilometer dari kawah gunung," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Gamalama, Darno Lamane, di Ternate, Minggu (30/12).

Imbauan itu, tambah Darno, disampaikan menyusul adanya masyarakat, termasuk wisatawan yang ingin menyambut malam Tahun Baru 2019, di puncak Gunung Gamalama. Mereka, para pendaki ini berharap bisa menyaksikan terbitnya matahari pada 1 Januari 2019 dari puncak gunung setinggi 1.700 meter dari permukaan laut itu.

Menurut Darno, berada di puncak Gunung Gamalama dalam status Level II sangat berbahaya, karena tidak tertutup kemungkinan aktivitas vulkanik gunung itu tiba-tiba meningkat. Apalagi karakteristik aktivitas vulkanik Gunung Gamalama perubahannya sangat cepat, misalnya pada pukul 08.00 WIT menunjukkan peningkatan vulkanik maka dalam beberapa jam kemudian bisa langsung meletus.

Selama ini, kata Darno, tidak jarang masyarakat yang mendaki di Gunung Gamalama mengalami musibah dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Perawatan harus diterima para wisatawan karena mereka ketika mendaki tidak memperhatikan larangan dari instansi terkait.

Hal lain yang harus menjadi perhatian bagi masyarakat, tambah Darno, termasuk wisatawan yang ingin menyambut Tahun Baru di puncak Gunung Gamalama adalah Ternate saat ini masuk puncak musim hujan. Jika ada hujan lebat saat berada di puncak gunung maka akan menimbulkan bahaya tersendiri.

Dia mengimbau masyarakat Ternate, terutama yang berada di bantaran kali alur aliran lahar dingin Gunung Gamalama untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir lahar dingin saat hujan turun dengan intensitas lebat, terutama jika hujan itu turun di Gunung Gamalama.

Di Ternate sudah beberapa kali dilanda banjir lahar dingin Gunung Gamalama, di antaranya pada 2012 yang mengakibatkan belasan warga tewas terseret banjir lahar dingin dan merusak ratusan rumah warga.

Meningkatkan aktivitas gunung juga terjadi pada Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali. Kepala Pos Pantau Gunung Agung, Dewa Made Merthe Yasa mengatakan Gunung Agung kembali erupsi selama sekitar 3 menit pada pukul 04.09 Wita setelah beberapa bulan menunjukkan kondisi yang tenang. Namun, kolom abu erupsi tidak teramati karena tertutup kabut.

Menurut Made, erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dengan durasi sekitar 3 menit 8 detik. Erupsi sesaat pada penghujung tahun 2018 itu menunjukkan gunung api dengan tinggi 3.142 meter di atas permukaan laut tersebut masih belum sepenuhnya kondusif.

Sementara itu dari pengamatan visual gunung yang disucikan umat Hindu tersebut hingga pukul 06.00 Wita, asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dengan tinggi 700 meter di atas puncak kawah. Saat ini PVMBG masih menetapkan gunung api itu dalam status siaga atau level III.

Untuk itu, PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki atau wisatawan agar tidak berada atau tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu seluruh area di dalam radius 4 km dari kawah puncak gunung. Zona perkiraan bahaya itu, kata Made, bersifaf dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru.

SM/Ant/N-3

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara, Henri pelupessy

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.