Perjuangan Kemanusiaan Gus Dur dan Gus Mus

Sabtu, 13 Okt 2018, 06:00 WIB

Pandangan Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Mustofa Bisri (Gus Mus) sampai sekarang mewarnai gerak bangsa. Kendatipun Gus Dur sudah wafat, puluhan buku kemanusiaannya masih terus dikaji dan diperjuangkan.

Adapun Gus Mus masih aktif menulis tema serupa. Buku ini berusaha menelusuri nilai kemanusiaan yang mereka perjuangkan. Bagi Gus Dur, kemanusiaan di atas segalanya.

Ket. Foto: Kebencian mudah tumbuh dan menyebar akibat rendahnya kemahiran literasi bangsa berhadapan dengan gempuran informasi. Acap kali mereka mudah percaya terhadap berita tanpa mengklarifikasi lebih jauh. — Sumber: istimewa

Dia puncak yang disokong agama, budaya, dan ilmu. Walaupun atas nama agama (termasuk Islam), setiap aktivitas yang menyebabkan kegiatan kemanusiaan mundur, harus ditentang (hlm 26).

Bagi Gus Dur, Tuhan menurunkan agama untuk kebaikan manusia. Tuhan tidak butuh agama. Tidak logis kemudian jika agama dilantangkan untuk membela Tuhan dengan cara menindas nilai-nilai kemanusiaan.

Itu menyalahi kodrat fungsi agama. Lebih jauh lagi, Gus Dur memandang manusia representasi Tuhan dalam skala mikro. Menistakan manusia dengan alasan apa pun sebenarnya menistakan Tuhan sendiri.

Gus Dur bergerak lintas etnis, kepercayaan, ideologi, dan agama guna menonjolkan sisi kemanusiaan di atas perbedaan superfisial tersebut.

Pembelaan Gus Dur terhadap golongan minoritas dan tertindas didorong kesadarannya, mereka juga manusia yang harus disayangi.

Semua ingat, Gus Dur membela Salman Rushdie, Arswendo, Inul Daratista, HB Jassin, Ahmad Wahib, Ulil Abshar Abdalla, Ahmadiyah, PKI dan berbagai golongan tertindas yang hak asasinya diberangus terutama kelompok mayoritas (hlm 31).

Perjuangan Gus Dur ditentang penguasa, kelompok garis keras, dan sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU).

Dia dihina, dibenci, difitnah, dan bahkan hendak dibunuh. Ketika Soeharto berkuasa, Gus Dur tiga kali hendak dibunuh.

Ancaman itu juga Gus Dur terima ketika dia membentengi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dari Front Pembela Islam (FPI).

"Kalau mau melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan, lawan kenyataan kalau yakin itu benar dan buat kenyataan baru," kata cucu pendiri NU ini (hlm 84).

Gus Mus tidak jauh berbeda. Dia berjuang dari sisi kultural dan keagamaan. Sebagai salah satu sesepuh NU dan cendekiawan senior muslim, namanya sangat diperhitungkan.

Sayang, acap kali namanya dicatut diam-diam untuk diselipkan pada ucapan yang sebenarnya bukan pernyataannya. Ini dilakukan kelompok berkepentingan untuk menciptakan chaos.

"Tolong jangan bawa-bawa namaku untuk berkelahi. Aku tidak suka berkelahi dengan siapa pun dan alasan apa pun. Aku mencintai kalian semua," tegasnya (hlm 149).

Belakangan, dia banyak mengulas tema kebencian. Menurutnya, kadar akal rakyat sudah banyak berkurang akibat ditutupi kebencian. Epidemi kebencian mudah menjangkiti ideologi, pemikiran, agama, dan partai politik.

Ketika kebencian didulukan, apa pun kebaikan dari pihak yang dibenci pasti tampak jelek. "Kebencian melahirkan ketidakadilan.

Orang yang sudah benci dari awal tidak mungkin bersikap adil," kata budayawan tersebut (hlm 156). Kebencian mudah tumbuh dan menyebar akibat rendahnya kemahiran literasi bangsa berhadapan dengan gempuran informasi.

Acap kali mereka mudah percaya terhadap berita tanpa mengklarifikasi lebih jauh. Tidak hanya akal sehat yang hilang, namun juga rasa aman seturut dengan gumpalan kebencian yang mudah mengobarkan tindakan anarkistis.

Di tengah eskalasi yang makin panas karena pertikaian partai untuk merebut suara dalam pilpres, buku ini bisa jadi bacaan tentang arti penting perbuatan terhadap kebaikan sesama.

Akal diharapkan senantiasa waras agar tetap jadi manusia otentik dalam menghadapi gempuran kampanye politis yang menyeret beragam hal yang sering kali tidak manusiawi lagi.Diresensi Habibullah, Alumnus Pascasarjana UIN Malang

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.