Perguruan Tinggi Bantu Perkuat Riset Mobil Listrik

Kamis, 05 Jul 2018, 01:00 WIB

Jakarta - Sejumlah Perguruan Tinggi (PT) bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Toyota Indonesia bersama-sama melakukan riset dan studi secara komperehensif tentang pentahapan teknologi electrified vehicle di dalam negeri. Langkah itu sebagai bentuk dukungan PT memperkuat pengembangan mobil listrik di Indonesia.

Menteri Periindustrian, Airlangga Hartarto menegaskan langkah ini akan menjadi masukkan bagi pemerintah menerapkan kebijakan pengembangan kendaraan listrik sehingga target 20 persen untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/ LCEV) pada 2025 dapat tercapai.

Ket. Foto: Serahkan Mobil I Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono (kanan) mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kanan) melakukan test drive usai penyerahan secara simbolis kunci mobil elektrifikasi Toyota kepada sejumlah pimpinan perguruan tinggi, pada kick-off Riset Komprehensif Electrified Vehicle dengan Melibatkan Perguruan Tinggi, di Jakarta, Rabu (4/6). — Sumber: ANTARA/Audy Alwi

"Pemerintah saat ini terus berupaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi otomotif yang ramah lingkungan melalui program LCEV," ungkap Airlangga saat Kickoff Electrified Vehicle Comprehensive Study di Jakarta, Rabu (4/7).

Menurut Airlangga, sasaran tersebut tidak terlepas dari komitmen Pemerintah untuk menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen pada 2030 dan sekaligus menjaga energi sekuriti, khususnya di sektor transportasi darat. Apalagi, selama ini industri otomotif memberikan kontribusi cukup signifikan bagi perekonomian nasional.

"Sebagai salah satu sektor andalan di dalam roadmap Making Indonesia 4.0, industri otomotif nasional diharapkan menjadi basis produksi kendaraan bermotor baik internal combustion engine (ICE) maupun electrified vehicle (EV) untuk pasar domestik maupun ekspor," paparnya.

Dalam implementasinya, Kemenperin berkolaborasi dengan sejumlah akademisi dan Toyota Indonesia sebagai pelaku industri otomotif nasional guna memperkenalkan teknologi pengembangan kendaraan ramah lingkungan. Riset bersama ini dijadwalkan berangsung selama dua tahun (2018-2019).

Pembagian tugas kepada keenam perguruan tinggi negeri tersebut akan menjadi dua tahap. Pada tahap pertama, riset akan dilakukan bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI). Selanjutnya, tahap ke-2, dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Udayana.

Airlangga menyampaikan, keterlibatan perguruan tinggi pada riset ini tidak terlepas dari peran aktif dan partisipasi mereka dalam upaya pengembangan kendaraan bermotor listrik beserta komponennya di dalam negeri. Misalnya, berupa komponen software maupun hardware, termasuk di antaranya adalah baterai, motor listrik, power control unit, hinggasistem charging station.

"Melalui riset dan studi bersama ini, kita juga cari solusi yang meliputi kenyamanan berkendara oleh para pengguna, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, serta adopsi teknologi dan regulasi,"kata Airlangga. Selain itu, diharapkan adanya dukungan kebijakan fiskal agar kendaraan listrik dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa harus dibebani biaya tambahan yang tinggi.

Adapun kendaraan listrik dalam riset kali ini adalah jenis Hybrid dan Plug-in Hybrid yang bakal dibandingkan dengan kendaraan konvensional (ICE) yang menggunakan teknologi advanced engine.

Dukungan Alat

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono menyatakan, pihaknya mendukung kegiatan riset dan studi bersama itu untuk memahami secara lebih menyeluruh aspek-aspek yang dapat memengaruhi pengembangan kendaraan elektrifikasi. Hal itu terutama mengenai preferensi konsumen. Selain itu, dari sisi industrinya, meliputi rantai pasok serta kebutuhan infrastruktur pendukung.

"Kami memberikan dukungan berbentuk penyediaan alat berupa kendaraan, data logger, charger, dan asistensi lainnya yang dapat dipergunaan oleh para peneliti dari universitas-universitas di Indonesia tersebut," ungkapnya.

ers/E-10

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.