Geonas
Minggu, 29 Januari 2012 | 00:09:09 WIB

 
Wawolesea
Wawolesea
dok

Karst Wawolesea di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra), tergolong paling unik dan langka. Dari kawasan batuan karbonat itu, memancar air panas nan asin yang berasal dari lorong-lorong sungai bawah tanah. Mengapa hal itu dapat terjadi?

Karst–atau batuan karbonat yang memiliki bentang alam khas akibat proses pelarutan air–Wawolesea di Kecamatan Lasolo itu memang penuh pesona. Sumur air panas yang terbentuk akibat luapan air kalsium karbonat itu seolah dibuat tangan-tangan terampil.

Pilar-pilar travertin berwarna putih itu menyangga altar, layaknya sebuah bangunan. Itulah keunikan dan kelangkaannya. Pilar-pilar itu terbentuk alami dari proses pengendapan ulang kalsium karbonat (CaCo3) selama jutaan tahun sehingga menghasilkan sebuah bentang alam yang sangat memukau.

Bukan itu saja. Dari dasar pilar-pilar tersebut memancar air hangat bersuhu 35 sampai 45 derajat Celcius. Ini bukan sembarang air hangat. Maklum, air itu terasa asin.

Sistem Hidrologi
Pakar geologi, Hanang Samodra, dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, dalam bukunya, Nilai Strategis Kawasan Karst di Indonesia, Pengelolaan dan Perlindungannya (2001), mengungkapkan kawasan kars Wawolesea memiliki kekhasan tersendiri. Karst yang tersusun oleh batu gamping berumur Neogen Akhir itu dicirikan oleh sistem hidrologi yang dikuasai oleh air panas dan asin.

Dia menjelaskan proses pemanasan itu berkaitan dengan sistem tektonik aktif di daerah tersebut. "Pergerakan beberapa sesar aktif menghasilkan akumulasi energi panas di sepanjang jalur dan bidang sesar yang berada di kedalaman."

Aliran air tanah atau akuiler yang berdekatan dengan sumber panas tersebut akan menerima radiasi energi sehingga dalam kurun dan waktu geologi yang ada akhirnya berubah menjadi air panas.

"Suhu air tersebut berkisar 35–45 derajat Celcius dan cenderung tetap baik pada musim hujan maupun kemarau," ungkap dia.

Sementara itu, sifat asin dari air tersebut dipengaruhi oleh air laut yang pada saat pasang masuk ke darat melalui sistem lorong gua yang ada. Lorong-lorong tersebut bermuara beberapa meter di bawah permukaan laut.

Pada musim hujan, nilai salinitas (kadar garamnya) mengecil karena mengalami pengenceran air tawar. Sebaliknya, pada musim kemarau, airnya terasa menjadi lebih asin karena jumlah air tawarnya relatif lebih sedikit.

Kolam air panas yang asin itu semakin unik lantaran munculnya gelembung-gelembung udara dari dasar genangan. Genangan air panas seluas 500 m2 tersebut membuih karena banyaknya gelembung udara yang dilepaskan dari dasar kolam. Gelembung-gelembung gas tersebut tidak terbakar dan sedikit berbau belerang.

Samodra menambahkan lorong-lorong sungai bawah tanah yang berair panas dan asin itu letaknya tidak begitu jauh dari permukaan, antara 1–5 meter. Runtuhnya atap lorong menyebabkan aliran sungai bawah tanah tersingkap, menyisakan jembatan-jembatan alam (natural brigde).

"Luapan air jenuh CaCO3 di permukaan membentuk undak-undak alam, pilar-pilar travertine, dan dinding sumur berwarna putih yang indah." Larutan jenuh itu bahkan melingkupi daun dan buah pinus yang berserakan di permukaan tanah, menghasilkan bangun-bangun alami yang unik.

Ikan Berlimpah
Kalau Anda baru pertama kali ke karst tersebut, pasti mengira pilar-pilar dan dinding yang membendung air bening di kolam tersebut adalah buatan manusia. Tentu saja Anda keliru karena bentang alam itu terjadi tanpa peran manusia.

Berada di sana, udara terasa hangat. Dipadukan dengan semilir angin sepoi-sepoi rasanya menyegarkan badan meskipun sesekali terhidup bau belerang.

Di sekitar kolam air panas, vegetasi hijau menghampar. Panorama itu juga terkesan unik karena tanah tempat berpijak vegetasi tersebut sebenarnya gersang dan tandus. Hal itu dapat dimakumi karena lahan tersebut berasal dari endapan belerang.

Coba perhatikan kondisi tegakan pinus, cemara, dan vegetasi lainnya. Konon, ukuran pohon-pohon tersebut senantiasa tetap, tak bertambah besar. Uniknya lagi, pohon-pohon itu mudah dicabut namun tak mudah tumbang diterpa angin kencang sekalipun.

Secara ilmiah, hal itu dapat diterangkan sebagai berikut. Ukuran batang bisa saja tak bertambah besar karena memang tanah tempat dia tumbuh miskin hara. Praktis, pertumbuhannya sangat lambat atau bahkan relatif tetap dari waktu ke waktu.

Begitu juga dengan daya cengkeram akar-akarnya. Karena hanya menempel di bebatuan karbonat, tumbuhan tersebut dengan mudah dapat dicabut. Namun dia tidak mudah tumbang ditiup angin.

Sayangnya, panorama alam yang unik dan langka belum banyak dikenal. Kawasan itu hanya sedikit dikunjungi oleh warga. Kunjungan sedikit agak ramai di hari-hari libur, selebihnya kawasan itu masih sunyi senyap.

Akses menuju Wawolesea sebenarnya tak sulit. Kalau Anda dari Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, hanya berjarak sekitar 80 km. Itu artinya lokasi tersebut dapat dicapai hanya dalam waktu sekitar 1,5 jam dengan mobil atau sepeda motor.
Jika dari Pantai Tanjung Taipa, jarak karst Wawolesea hanyalah 10 km. Jadi, tak ada salahnya kalau suatu saat merencanakan dan melakukan kunjungan ke tempat yang unik dan langka ini.

Apalagi bagi pencinta anggrek. Berbagai jenis anggrek hutan yang terselip di antara rerimbunan vegetasi itu siap mencuci mata dan menghibur hati Anda.

Begitu juga dengan fauna endemiknya. Anoa atau sejenis kerbau mini, burung hutan, dan maleo masih dengan mudah ditemui di kawasan yang memang tampak masih asri itu.

Jika Anda penasaran, coba saja ikuti aliran air panas yang mengalir dari sumbernya hingga ke laut. Ketika aliran air panas itu bertemu dengan air laut, di situlah fishing ground (lokasi gerombolan ikan) berada.

Beragam jenis ikan konsumsi seperti belana dan baronang berenang gembira seolah-olah menyambut kehangatan air tadi. Jadi, silakan bergabung bersama keceriaan flora dan fauna yang terhampar di karst Wawolesea.


b siswo



Tempat Favorit bagi Maleo Bertelur

Dulu, ratusan burung maleo bertelur, kini hanya tinggal beberapa ekor.

Satu lagi atraksi unik ketika Anda berada di kawasan karst Wawolesea, yakni melihat burung maleo (Macrocephalon maleo) bertelur. Satwa endemik khas Sulawesi itu menjadikan hamparan pasir putih sebagai tempat meletakkan telur-telurnya.
Ukuran telurnya sangat besar, sekitar 240–270 gram atau lima sampai delapan kali lipat ukuran telur ayam.

Seusai bertelur, dia menguruk telur-telur itu dengan pasir. Maleo pun terbang ke rerimbunan hutan tak jauh dari hamparan pasir putih tadi.

Ya, Wawolesea telah menjadi salah satu tempat favorit bagi maleo bertelur. Apalagi pada tahun 1990-an, ratusan maleo setia bertelur di kawasan tersebut. Jadi, tak sulit bagi kita untuk melihat langsung atraksi tersebut.

Kini, peristiwa unik itu memang sudah sangat jauh berkurang frekuensinya. Maklum, perburuan telur maleo begitu intensif.
Banyak penduduk memburu telur-telur itu, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual. Harganya lumayan menggiurkan, sekitar 25.000 rupiah per butir.

Akibat perburuan tersebut, telur-telur itu tak sempat menetas. Dampaknya, populasi maleo terus menyusut dari waktu ke waktu. Kita pun semakin sulit melihat atraksi ketika telur-telur itu menetas, tak lama setelah itu anak burung terbang.
Kini, maleo terancam punah. Setiap jengkal habitatnya tak lagi nyaman untuk meneruskan generasinya.

b siswo

Ada 0 Komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar Anda
Silahkan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar :

Disclaimer : Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Untuk pengutipan berita wajib mencantumkan link portal Koran Jakarta. Semua berita dan foto dilindungi oleh hak cipta dan tidak diperkenankan untuk menyalahgunakannya tanpa seizin pengelola situs.