Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Waspadai Klaster Restoran

Foto : ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj

Pengemudi ojek daring memadati gerai McDonald’s Raden Saleh di Jakarta, Rabu (9/6/2021). Puluhan pengemudi ojek daring tersebut terlihat mengabaikan protokol kesehatan saat mengantre untuk mengambil pesanan BTS Meal yang merupakan menu kolaborasi "boy band" asal Korea BTS dengan McDonald's yang hadir di 50 negara, termasuk Indonesia.

A   A   A   Pengaturan Font

Satgas ­Covid-19 perlu kembali memberlakukan hanya take away alias ­dibawa pulang ­makanannya.

Setelah Lebaran, lonjakan persebaran Covid-19 benar-benar mengerikan sebagaimana telah diprediksi. Kalau sebelum Idul Fitri jumlah pasien terkonfirmasi Covid-19 sempat berada di angka 2.000-an, pasca-Lebaran angkanya sudah mencapai 6.000-an lagi.

Hal itu terjadi karena masyarakat tetap melaksanakan ujung atau saling mendatangi untuk silaturahmi. Mereka tetap ujung walau sudah terus menerus diingatkan pemerintah agar silaturahmi dilakukan secara virtual saja. Dampak masyarakat yang tidak peduli imbauan pemerintah berbuah lonjakan Covid-19.

Kenaikan jumlah pasien Covid-19 tampaknya akan terus tak tertahankan karena potensial sekali terjadi klaster restoran. Hal itu dapat dicermati dengan membeludaknya serbuan Army (pendukung BTS, grup nyanyi Korsel) ke gerai-gerai McDonald's (McD) baik secara langsung maupun melalui para ojek online. Mereka mengejar promo BTS Meal.

Lantaran tanpa antisipasi secara baik, serbuan tersebut telah membeludak yang tentu saja mengabaikan protokol kesehatan. Hal ini dikhawatirkan menjadi klaster baru penularan Covid-19 bernama klaster restoran.

Mestinya membeludaknya ojol bisa dicegah kalau restoran tidak "kemaruk" mengejar pemasukan. Sistem algoritma memungkinkan mereka menyetop pesanan, katakanlah, kalau sudah 50. Setelah selesai, baru pesanan dibuka lagi. Restoran juga tidak menyediakan penjaga di luar untuk mengatur ojol. Belum lagi jumlah pelayan di dalam juga tidak sebanding dengan melimpahnya ojol.

Pengaturan pesanan mesti disesuikan dengan kemampuan pelayanan. Ini mesti dicermati betul karena promo bakal berjalan sebulan.

Selain itu, untuk mencegah klaster restoran atau tempat kuliner lain, Satgas Covid-19 perlu kembali memberlakukan, untuk sementara, hanya take away alias dibawa pulang. Pemberlakuan tidak makan di tempat sangat penting untuk meredam persebaran Covid-19. Sebab makan di tempat cenderung tidak menjaga jarak, tentu saja tidak mengenakan masker, dan mereka ngobrol. Inilah kondisi paling memungkinkan terjadi persebaran Covid-19 di tempat kuliner.

Kecuali itu, sebenarnya makan di warung, restoran atau tempat kuliner sangat berbahaya. Selain banyak orang, kerap kali, penyaji tidak bermasker. Makanan terbuka yang memungkinkan menerima droplet.

Paling aman, membeli makanan lalu dibawa pulang dan dipanasi lagi untuk membunuh kuman atau virus, sebelum disantap. Makan paling aman tentu saja masak sendiri.

Harus ada petugas Satgas Covid-19 yang terus menerus berkeliling ke tempat-tempat kuliner, warung, dan restoran guna menindak penyaji yang tidak mengenakan masker.


Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Muhamad Ma'rup

Komentar

Komentar
()

Top