Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Waspadai Klaster Banjir

Waspadai Klaster Banjir
Foto : ANTARA/M Ibnu Chazar
A   A   A   Pengaturan Font

Kurang dua minggu lagi pandemi Covid-19 tepat setahun melanda Indonesia. Vaksinasi dengan menggunakan vaksin Sinovac dari Tiongkok sudah dilakukan sejak sebulan lalu, namun tanda-tanda pandemi yang sudah merenggut korban meninggal sebanyak 34 ribu jiwa ini akan berakhir tampaknya masih jauh. Apalagi, saat ini banjir tengah melanda beberapa wilayah di Indonesia, terutama di Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi) akibat curah hujan yang tinggi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan dampak fenomena La Nina, yaitu curah hujan yang lebih tinggi dibanding musim hujan tahun-tahun sebelumnya masih akan berlangsung hingga Mei 2021.

Akibat curah hujan yang tinggi, banjir merendam rumah-rumah dan benda-benda berharga, seperti mobil dan sepeda motor. Beberapa ruas jalan utama, seperti jalan tol JORR (Jakarta Outer Ring Road) di TB Simatupang tidak bisa dilalui. Di Jakarta saja setidaknya 1.380 warga terpaksa mengungsi karena tingginya air yang masuk ke rumah.

Baca Juga :
.Pemakzulan Trump

Mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan 26 lokasi pengungsian. Selain menyiapkan tenda pengungsi, Pemprov DKI juga menyiapkan logistik dan dapur umum serta kebutuhan bagi pengungsi, termasuk tenda khusus untuk isolasi mandiri bagi penderita Covid-19.

Banjir akan menurunkan kemampuan masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Di situasi normal saja masih banyak warga masyarakat yang tidak disiplin, apalagi di masa banjir, terutama di tempat pengungsian. Maka dari itu, kita harus tetap ekstra hati-hati terhadap penularan Covid-19 di tempat pengungsian. Di tempat tersebut, interaksi antar-orang begitu tinggi karena sangat padat. Tidak ada yang bisa menjamin orang yang berinteraksi di tempat pengungsian tersebut mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.

Kita memang berharap kesadaran mengikuti protokol kesehatan muncul dari semua orang yang berada di tempat pengungsian. Namun, tidak ada salahnya jika pemerintah atau Satgas Covid-19 menyiapkan satu atau beberapa orang penegak disiplin yang bisa mencegah penularan Covid-19 sehingga berbagai upaya untuk meredakan pandemi seperti vaksinasi dan berbagai program pemulihan ekonomi yang menghabiskan anggaran ratusan trilun rupiah tidak sia-sia.

Pemerintah harus melakukan pengawasan lebih ketat lagi. Para pejabat atau petinggi harus memastikan lagi bahwa apa yang sudah direncanakan, berjalan baik di lapangan. Karena di lapangan ditemukan bahwa fasilitas penunjang protokol kesehatan masih sangat minim. Belum ada akses sanitasi, seperti air, toilet bersih, sabun, hand sanitizer, dan juga masker untuk pengungsi.

Jumlah posko pengungsian juga harus ditambah untuk mengurangi terjadinya kerumunan, tidak bisa seperti keadaan normal. Semua itu harus dilakukan kalau kita tidak menginginkan munculnya klaster banjir beberapa hari ke depan. Dan yang lebih penting, sungai-sungai yang melalui di wilayah Jadetabek harus mampu menampung air di saat curah hujan sangat tinggi. Bebas, mau pakai nama normalisasi atau naturalisasi yang penting dilaksanakan.

Baca Juga :
Tahan Diri


(ril/mss)
Redaktur : M. Selamet Susanto

Komentar

Komentar
()

Top