Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
In Memoriam Husen Hamidy

Ucapan "Selamat Siang" Itu Tak Akan Pernah Lagi Kami Dengar

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

"Selamat siang Pak Marcel, selamat siang Pak Ismail, selamat siang Pak Huda, selamat siang Pak Widi, selamat siang Pak Yebdi, selamat siang Bang Yono...."

Itulah yang diucapkan Husen Hamidy, Editor atau Redaktur Desk Megapolitan, Koran Jakarta, bila tiba dan memasuki ruang Redaksi, di lantai 26, The Belleza Permata Hijau, setiap hari kerja.

Husen menyapa setiap teman yang dilewatinya dengan ucapan "selamat siang" sambil tersenyum menuju meja kerjanya.

Kami pun menjawab salam dari Pak Husen sambil tersenyum. Terkadang dibarengi dengan tambahan celetukan dan guyonan sebagai bentuk keakraban kami satu dengan yang lainnya.

Kini… ucapan "selamat siang" itu tidak akan pernah lagi kami dengar setelah saudara kembarnya, Hasan, memberi tahu kami bahwa Husen Hamidy telah berpulang ke pangkuan Ilahi, Senin (3/5) pukul 03.30 WIB.

Husen telah pergi setelah selama dua minggu melawan virus korona Covid-19, penyakit yang sangat menakutkan umat dunia saat ini.

Bukan hanya Husen saja, istri dan anaknya juga terkena Covid-19 yang saat ini masih dalam tahap perawatan dan penyembuhan. Husen adalah kawan dan sahabat yang baik. Dia pekerja keras dan tidak pernah mengeluh diberi tugas seberat apa pun.

"Sedih…. Selamat Jalan Pak Husen Hamidy. Terima kasih telah menjadi redaktur yang baik selama saya di Koran Jakarta," kata Frans Oland Simorangkir.

"Almarhum memang baik banget, nggak pernah marah sama gue tuh, padahal gue bandel banget jadi anak buahnya," tambah Frans.

Peri Irawan juga merasakan hal sama saat bergabung sebagai reporter di Desk Megapolitan Koran Jakarta.

"Kami menyaksikan kebaikan beliau selama ini. Tak pernah mengeluh, terus memancarkan semangat. Menjadi reporter-nya bertahun-tahun, banyak pelajaran yang diberikan," kata Peri.

Kerja bareng bersama Husen memang selalu menyenangkan. Dia tidak pernah berkata kasar. Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya.
Kalaupun berbeda pendapat dan tidak setuju dengan pemikiran temannya, dia menyampaikannya dengan santun sambil bercanda.

Tidak hanya di Koran Jakarta, pengalaman itu juga yang dirasakan oleh Eko Suprihanto mengenang masa-masa saat Husen Hamidy menjadi pengelola Desk Opini harian Media Indonesia dulu.

"Kami saling memahami pikiran masing-masing. Kami tidak pernah memaksakan keinginan dalam menurunkan naskah," kata Eko Suprihanto.
Selamat jalan sahabat.

Tugasmu sudah selesai. Jalanlah menuju keabadian Tuhan. Sakit yang kamu derita menjelang kepergianmu, insya Allah akan menggugurkan dosa-dosamu selama ini. Insya Allah husnul khotimah. Aamiin.

(ril/G-1)
Redaktur : Aloysius Widiyatmaka

Komentar

Komentar
()

Top