Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

TMII

Foto : ANTARA/Asprilla Dwi Adha
A   A   A   Pengaturan Font

Siapa yang tidak kenal atau tidak pernah dengar Taman Mini Indonesia Indah? Bagi generasi yang lahir di bawah tahun 1990-an pasti kenal atau pernah dengar nama taman wisata yang bertema budaya Indonesia ini.

Di pertengahan tahun 1970-an hingga awal 1990-an, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), begitu nama lengkapnya, menjadi destinasi utama wisatawan domestik. Tidak lengkap rasanya ke Jakarta kalau belum berkunjung ke TMII.

Sebagai taman yang menjadi pengikat berbagai budaya Indonesia, TMII punya tempat tersendiri di hati pengunjungnya. Dari daerah mana pun asalnya, mereka merasa berada di rumah sendiri karena bisa menikmati budaya dan kehidupan sehari-hari yang terwakil di 26 anjungan masing-masing provinsi. Kini, jumlah provinsi sudah 34, semoga saja provinsi-provinsi baru masih terwakili di anjungan provinsi induknya.

Itu cerita dulu. Zaman sudah berubah. TMII tidak lagi menjadi destinasi utama wisatawan domestik. Jangankan bagi rakyat Indonesia yang berada jauh dari pusat pemerintahan, bagi warga DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten sendiri, lebih khusus lagi bagi warga jabodetabek, TMII tidak lagi seperti lampu neon yang magnet yang mampu menarik perhatian laron-laron untuk berkumpul.

Baca Juga :
Kudeta di Myanmar

TMII kalah bersaing. TMII tidak mengikuti perkembangan zaman, tidak hanya dengan tempat wisata baru, dengan Taman Impian Jaya Ancol pun TMII kalah jauh. Ancol bersolek mengikuti perkembangan zaman. Itu tidak lepas dari pengelolanya, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, yang sudah menjual sahamnya ke masyarakat. Walau saham yang dilepas ke masyarakat hanya 10 persen, itu sudah cukup bagi publik menekan manajemen untuk bekerja secara profesional.

Makanya, begitu mendengar kabar pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara akan mengambil alih pengelolaan manajemen TMII dari Yayasan Harapan Kita (YHK), yang muncul di benak kita adalah kawasan wisata seluas 150 hektare tersebut akan dikelola secara profesional. TMII akan berubah, berkembang menjadi destinasi modern yang tidak hanya tujuan utama bagi wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara.

Salah satu alasan dikembalikannya pengelolaan TMII dari YHK ke Kemensetneg karena rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) agar kualitas pengelolaan aset negara menjadi lebih baik. Kemensetneg juga telah sejak lama memberikan pengarahan kepada pengelola TMII agar meningkatkan kualitas layanan.

Dengan berbagai temuan dan rekomendasi itu, Kemensetneg mengajukan untuk mengambil alih kembali pengelolaan TMII. Setelah pengajuan dari Kementerian Sekretariat Negara, Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 19/2021 tentang Pengelolaan TMII. Perpres itu menegaskan penguasaan dan pengelolaan TMII oleh Kementerian Sekretariat Negara serta berakhirnya pengelolaan oleh Yayasan Harapan Kita.

Semoga saja di bawah manajemen baru nanti, TMII mampu bersaing dengan tempat wisata lain. Harusnya TMII yang merupakan miniatur Nusantara bisa menjadi ikon wisata Indonesia, seperti Mini Europe, di Bruparck, Brussels, yang sudah menjadi ikon wisata Belgia.

Jangan sampai di masa transisi pengelolaan selama tiga bulan dari YHK Kementerian Sekretariat Negara, banyak persoalan muncul. Pastikan tidak ada masalah yang menyangkut hak-hak para pegawai. Tentu itu bukan pekerjaan mudah karena TMII harus tetap buka agar tidak semakin dilupakan.

(MSS/mss)
Redaktur : M. Selamet Susanto

Komentar

Komentar
()

Top