Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Edisi Weekend Foto Video Infografis
Hubungan Multilateral

Tiongkok dan UE Perlu Capai Konsensus untuk Kerja Sama Energi Baru

Foto : ANTARA/XINHUA/REN PENGFEI

Masyarakat mengunjungi stan produsen mobil Tiongkok Xpeng saat International Motor Show 2023, yang secara resmi dikenal sebagai IAA MOBILITY 2023, di Munich, Jerman, beberapa waktu lalu.

A   A   A   Pengaturan Font

BEIJING - Uni Eropa (UE) harus menghindari gesekan perdagangan dengan Tiongkok dan kedua belah pihak perlu mencapai konsensus mengenai kerja sama energi baru. Demikian disampaikan para pelaku dan analis industri seraya membahas peluang pasar bernilai miliaran dollar AS dan target-target iklim global.

Hildegard Mueller, Presiden Asosiasi Industri Otomotif Jerman (German Association of the Automotive Industry) mengatakan kerja sama otomotif antara Tiongkok dan Jerman dalam transformasi hijau dan konektivitas pintar sangatlah penting.

Seperti dikutip dari Antara, Mueller mendorong kedua pihak untuk terus menjadi mitra penting dalam mencapai target-target iklim. "Saya percaya kedua pasar harus terhubung dengan erat," ujarnya, seraya menambahkan perusahaan-perusahaan Tiongkok disambut baik di Jerman.

Sementara itu dari pihak Jerman, tambah dia, para produsen mobilnya telah menunjukkan ketertarikan tidak hanya untuk mengekspor, tetapi juga untuk melakukan aktivitas produksi di Tiongkok.

Bagi para produsen mobil Eropa, termasuk perusahaan otomotif raksasa, seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Volkswagen, Tiongkok menonjol sebagai pasar tunggal terbesar.

Pusat Litbang

Pada kuartal pertama (Q1), sekitar sepertiga dari pendapatan penjualan BMW berasal dari Tiongkok. Negara tersebut juga menjadi lokasi pendirian pusat penelitian dan pengembangan (litbang) terbesar BMW Group di luar Jerman.

"Inovasi yang kami capai di Tiongkok memungkinkan kami untuk terus memenuhi kebutuhan para pelanggan Tiongkok, sehingga dapat mendorong inovasi global," ungkap Oliver Zipse, Ketua Dewan Manajemen BMW AG.

Meningkatnya eksistensi perusahaan-perusahaan Tiongkok di Benua Eropa menggarisbawahi hubungan yang semakin kuat antara kedua belah pihak. Pada April lalu, perusahaan otomotif Tiongkok, Chery Automobile, menandatangani perjanjian dengan perusahaan otomotif Spanyol, Ebro-EV Motors, untuk memproduksi mobil di pabrik pertamanya di Eropa.

Seperti dilansir Reuters, langkah ini diharapkan dapat membantu mengembalikan sebagian dari 1.600 pekerjaan langsung yang hilang ketika produsen otomotif Jepang Nissan menutup pabriknya pada 2021.

Yan Shaohua, associate research fellow di Pusat Hubungan Tiongkok-Eropa di Universitas Fudan, mengatakan produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Tiongkok yang menjajaki negara-negara Eropa telah membantu mendorong pengembangan rantai industri EV lokal dan mempercepat transisi digital serta ramah lingkungan di negara-negara tersebut.

Tiongkok dan UE merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi satu sama lain. Data resmi menunjukkan rata-rata nilai perdagangan keduanya mendekati hampir 1,5 juta dollar AS (1 dollar AS = 16.218 rupiah) per menit, sementara investasi dua arah menembus angka 250 miliar dollar AS.

Bagi Eropa, Tiongkok juga memainkan peran penting sebagai pemasok utama bahan baku seperti sel fotovoltaik dan turbin angin, yang merupakan komponen penting bagi UE mengingat organisasi itu memiliki target ambisius, yakni menjadi benua netral iklim pertama di dunia per 2050.

Sekitar 98 persen tanah jarang UE diimpor dari Tiongkok, dan lebih dari 93 persen magnesiumnya juga berasal dari Tiongkok, menurut Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Kedua material tersebut sangat diperlukan dalam pembuatan suku cadang otomotif.

Terlepas dari pasang surutnya hubungan Tiongkok-UE dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama tetap menjadi tema utama dalam hubungan bilateral. Sektor industri, rantai pasokan, dan rantai nilai kedua belah pihak terjalin dengan begitu erat, membuat keduanya tak terpisahkan.

Ketika mengunjungi Eropa pekan ini, Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wentao, menjelaskan langkah-langkah proteksionisme bukanlah solusi yang tepat, melainkan jalan buntu yang berbahaya.

"Tiongkok bersedia untuk terlibat dalam diskusi dengan UE terkait masalah ekonomi dan perdagangan dengan pijakan yang setara serta berpartisipasi dalam persaingan yang adil berdasarkan kerja sama yang diperluas," ujar Wang.


Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Eko S

Komentar

Komentar
()

Top