Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Tak Pernah Jadi Danrem atau Pangdam, Jenderal Angker Ini Dipilih Presiden Jadi Panglima TNI

Foto : Istimewa

Jenderal Leonardus Benny Moerdani.

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Tak pernah jadi Danrem, Pangdam apalagi Kepala Staf Angkatan Darat, jenderal yang dikenal berwajah dingin dan angker ini sukses melenggang jadi Panglima TNI. Saat itu TNI masih bernama ABRI.

Padahal, lazimnya, seperti sekarang ini, jenderal angkatan darat yang ditunjuk jadi Panglima TNI, minimal dia itu pernah jadi Panglima Kodam atau Pangdam. Lebih banyaknya lagi, sempat jadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dulu sebelum diangkat jadi Panglima TNI.

Misalnya, Jenderal Gatot Nurmantyo. Dia diangkat jadi Panglima TNI setelah sebelumnya menjabat sebagai KSAD. Begitu juga dengan Jenderal Wiranto atau Jenderal Moeldoko. Walau memang ada juga jenderal yang dijadikan Panglima TNI tanpa melewati jabatan KSAD dulu. Misalnya, Jenderal Feisal Tanjung. Ia diangkat jadi Panglima TNI, ketika menjabat sebagai Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI).

Nah, berbeda dengan jenderal angker ini. Ia sama sekali tak pernah jadi Pangdam. Tidak pernah pula sempat memegang posisi KSAD. Bahkan, tidak pernah jadi Danrem. Karirnya dirintis di Korps Baret Merah (Kopassus). Setelah itu, karirnya lebih banyak malang melintang di dunia intelijen.

Tapi, ia sukses melesat hingga ke puncak. Dipercaya Presiden jadi Panglima TNI. Bahkan kemudian jadi Menteri Pertahanan (Menhan). Siapa dia?

Dia tidak lain adalah Jenderal Leonardus Benny Moerdani atau lebih dikenal dengan panggilan Jenderal LB Moerdani. Ya, Jenderal Benny, selama karirnya di militer tidak pernah jadi Pangdam atau jadi KSAD. Bahkan, tidak pernah sekalipun memegang jabatan Danrem.

Dia hanya pernah jadi komandan batalyon di RPKAD atau Kopassus. Setelah itu, malang melintang di dunia intelijen. Beberapa jabatan penting di dunia intelijen yang pernah dipegang jenderal kelahiran Cepu, Blora, Jawa Tengah pada 2 Oktober 1932 ini antara lain sebagai Asisten Intelijen Menteri Pertahanan dan Keamanan, Asisten Intelijen Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), Kepala Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat), dan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara.

Pada tanggal 28 Maret 1983, Jenderal Benny ditunjuk Presiden Soeharto sebagai orang nomor satu di TNI atau jadi Panglima TNI (ABRI). Jabatan Panglima TNI dipegangnya sampai tanggal 27 Februari 1988, sebelum akhirnya dia digantikan yunior sekaligus sahabatnya, Jenderal Try Sutrisno.

Setelah itu ia digeser jadi Menteri Pertahanan. Ketika santer isu, bahwa Jenderal Benny diganti karena berani mengkritik praktik bisnis anak-anak Soeharto. Kritik itu dilontarkan Benny saat bermain bilyar berdua dengan Soeharto di Cendana, rumah pribadi Soeharto. Menariknya, ketika Benny diangkat jadi Panglima TNI, oleh Soeharto, ia juga dipercaya untuk memegang jabatan lain yakni sebagaiPangkopkamtib, Kepala Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat) yang kemudian berganti nama menjadi Badan Intelijen Strategis (BAIS). Benny sendiri kemudian meninggal pada tanggal 29 Agustus 2004.

(ags/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Agus Supriyatna

Komentar

Komentar
()

Top