Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Pembangunan Nasional

RI Harus Dapat Manfaat dari Ekonomi Hijau

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrembangnas) di Jakarta, Selasa (4/5), mengatakan Indonesia harus memperoleh manfaat dari perkembangan dunia yang mengarah pada green economy.

"Ini hati-hati, ke depan mengenai green economy. Kita juga harus menyadari bahwa kita adalah salah satu paru-paru terbesar dunia, dan bisa memperoleh manfaat besar dari hutan tropis dan hutan mangrove yang kita miliki. Oleh sebab itu, transformasi energi menuju energi baru dan terbarukan harus dimulai. Green economy, green technology, dan green product harus diperkuat agar kita bisa bersaing di pasar global," kata Presiden.

Pemerintah, kata Presiden, sudah merencanakan untuk membuat green industrial park/kawasan industri hijau yang disiapkan di Kalimantan Utara. Pemilihan wilayah tersebut, kata Presiden, karena ingin memanfaatkan hydropower yang ada di Sungai Kayan.

"Ini akan menghasilkan energi hijau, energi baru terbarukan, yang akan disalurkan kepada kawasan industri hijau, sehingga muncul produk-produk hijau dari sana. Inilah kekuatan kita ke depan," kata Jokowi.

Selain memiliki kekuatan di blue economy, Indonesia, jelas Presiden, tercatat sebagai negara terkaya dalam hal biodiversity di laut. "Kita harus memanfaatkan secara bijak anugerah Tuhan ini, menyejahterakan rakyat dengan tetap menjaga alam dan keberlanjutan produksi. Sustainable blue economy menjadi agenda yang harus diprioritaskan di semua wilayah pantai yang kita miliki," kata Kepala Negara.

Transformasi Ekonomi

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Menteri PPN)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, menyatakan tantangan Indonesia tidak hanya pemulihan ekonomi nasional, namun juga transformasi ekonomi jangka menengah panjang.

Pemulihan ekonomi, jelasnya, didukung oleh berjalannya reformasi struktural yang meliputi sistem kesehatan nasional, sistem perlindungan sosial, serta pendidikan.

Untuk keterampilan, pemulihan, papar Suharso, melalui dua strategi utama yaitu pemulihan daya beli dan usaha serta diversifikasi ekonomi. Dalam RKP Tahun 2022 telah ditentukan sasaran pembangunan yang terdiri dari beberapa indikator utama yaitu pertumbuhan ekonomi antara 5,2 persen hingga 5,8 persen dan tingkat pengangguran terbuka 5,5 persen sampai 6,2 persen. Sedangkan tingkat kemiskinan 8,5 persen hingga 9 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 73,44 hingga 73,48, penurunan emisi gas rumah kaca 26,8 persen sampai 27,1 persen dan rasio gini 0,376 sampai 0,378.

"RKP juga menekankan pencapaian target nilai tukar petani dan nilai tukar nelayan," katanya. n ers/SB/E-9

(SB/ers/E-9)
Redaktur : Vitto Budi

Komentar

Komentar
()

Top