Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Presiden Xi Jinping dan Joe Biden Bahas Isu Tiongkok-AS melalui Telepon

Foto : Antara/Xinhua/Ding Lin

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) bertemu Presiden AS Joe Biden di Filoli Estate, California, AS, pada 15 November 2023.

A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta - Presiden Xi Jinping berbicara melalui telepon dengan Presiden Joe Biden untuk membahas isu bilateral Tiongkok dan Amerika Serikat.

Percakapan telepon itu berlangsung pada Selasa (2/4) malam waktu Beijing atau Selasa pagi waktu Washington atas permintaan Presiden Joe Biden.

"Presiden Xi Jinping menekankan bahwa persepsi strategis selalu menjadi hal mendasar dalam hubungan Tiongkok-AS, seperti kancing baju pertama yang harus dipasang dengan benar," demikian disebutkan dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang diterima ANTARA pada Selasa.

Pembicaraan tersebut adalah pembicaraan pertama kedua pemimpin negara besar tersebut pasca pertemuan San Fransisco pada November 2023.

"Dua negara besar seperti Tiongkok dan AS tidak boleh memutuskan hubungan atau mengabaikan satu sama lain, apalagi terjerumus ke dalam konflik atau konfrontasi. Kedua negara harus saling menghormati, hidup berdampingan secara damai dan berupaya untuk mewujudkan kerja sama yang saling menguntungkan," kata Presiden Xi dalam pernyataan tersebut.

Presiden Xi Jinping menggarisbawahi tiga prinsip yang harus memandu hubungan Tiongkok-AS pada 2024.

"Pertama, perdamaian harus dihargai. Kedua negara harus menetapkan landasan tanpa konflik dan tanpa permusuhan sembari terus memperkuat pandangan positif dalam hubungan tersebut," ungkap Presiden Xi.

Prinsip kedua adalah memprioritaskan stabilitas. Kedua negara harus menahan diri untuk tidak memperburuk hubungan, memprovokasi insiden atau melewati batas, demi menjaga stabilitas hubungan secara menyeluruh.

"Ketiga, kredibilitas harus dijunjung tinggi. Kedua negara harus menghormati komitmen satu sama lain dalam bentuk tindakan, dan mewujudkan visi San Francisco agar dapat menjadi kenyataan," ungkap Presiden Xi.

Kedua negara, menurut Xi, perlu memperkuat dialog dengan cara yang saling menghormati, mengelola perbedaan dengan bijak, memajukan kerja sama dengan semangat saling menguntungkan dan meningkatkan koordinasi dalam isu internasional dengan cara yang bertanggung jawab.

"Masalah Taiwan adalah garis merah pertama yang tidak boleh dilampaui dalam hubungan Tiongkok-AS," tegas Presiden Xi.

Dalam menghadapi aktivitas separatisme yang menginginkan "kemerdekaan Taiwan" dan dukungan eksternal terhadap kelompok tersebut, Presiden Xi menyebut Tiongkok tidak akan berdiam diri.

"Tiongkok mendesak AS untuk menerjemahkan komitmen Presiden Biden yang tidak mendukung 'kemerdekaan Taiwan' menjadi tindakan nyata," ungkap Presiden Xi.

Lebih lanjut, AS juga telah mengadopsi serangkaian tindakan yang membatasi perdagangan dan perkembangan teknologi Tiongkok serta makin banyaknya entitas Tiongkok yang masuk ke dalam daftar sanksi AS.

"Tindakan ini bukannya 'mengurangi risiko' namun malah menciptakan risiko. Jika AS benar-benar bersedia mengupayakan kerja sama yang saling menguntungkan dan berbagi keuntungan dari perkembangan Tiongkok, maka pintu Tiongkok akan selalu terbuka, namun jika AS bersikeras untuk membendung perkembangan teknologi Tiongkok dan merampas hak Tiongkok atas pembangunan, maka kami tidak akan tinggal diam dan hanya menonton," kata Presiden Xi.

Dalam pembicaraan itu, disebutkan Presiden Xi Jinping juga menyampaikan posisi Tiongkok mengenai Hong Kong, hak asasi manusia, Laut Cina Selatan, dan isu lainnya.

Xi Jinping dan Joe Biden juga bertukar pandangan mengenai krisis Ukraina, situasi di Semenanjung Korea dan masalah internasional lainnya.

"Hubungan Tiongkok-AS mulai stabil, dan hal ini disambut baik oleh masyarakat kedua negara dan komunitas internasional. Namun di sisi lain, faktor negatif hubungan juga berkembang dan hal ini memerlukan perhatian kedua belah pihak," demikian disebutkan dalam pernyataan tersebut.

Kedua presiden juga menilai panggilan telepon itu dilakukan dengan jujur dan konstruktif. Mereka sepakat untuk tetap berkomunikasi dan menugaskan tim masing-masing untuk mewujudkan visi San Francisco, termasuk meningkatkan mekanisme konsultasi mengenai isu diplomatik, ekonomi, keuangan, komersial, militer, kerja sama di berbagai bidang seperti pemberantasan narkotika, kecerdasan buatan, merespons masalah perubahan iklim, upaya perluasan pertukaran antarmasyarakat dan meningkatkan komunikasi soal isu-isu internasional dan regional.

Tiongkok juga menyambut baik rencana kunjungan Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken ke Tiongkok dalam waktu dekat.


Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Antara

Komentar

Komentar
()

Top