Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Porang

Foto : ANTARA FOTO/Anis Efizudin/wsj

Petani merawat tanaman porang (Amorphophallus muelleri) di Desa Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (23/2/2021). Sejumlah petani padi dan palawija di kawasan tersebut beralih menanam porang karena mempunyai nilai ekonomi tinggi yaitu dalam satu hektare lahan bisa menghasilkan 80 ton porang dengan harga jual Rp10 ribu - Rp13 ribu per kilogram.

A   A   A   Pengaturan Font

Porang adalah bisnis masa depan. Mari kita jadikan kekayan keanekaragaman hayati kita untuk kemakmuran anak bangsa, bukan hanya menjadi hiasan.

Sudah lama dikenal Indonesia adalah negara yang subur. Sampai-sampai lirik grup band legendaris Koes Plus dalam salah satu lagunya menyebut tongkat kayu dan batu jadi tanaman untuk menggambarkan betapa suburnya bumi nusantara ini.

Indonesia juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa, terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Istilah kerennya Indonesia adalah negara megabiodiversity karena begitu banyaknya kehidupan di atas bumi nusantara mulai tumbuhan, hewan, jamur, dan mikroorganisme serta materi genetik yang dikandungnya dan sistem ekologi di mana mereka hidup.

Hal ini terjadi karena Indonesia (dan juga Brasil) terletak di daerah tropis dengan posisi geografis tepat di garis khatulistiwa dan posisi geologisnya merupakan pertemuan lempeng tektonik sehingga menghasilkan banyak mineral.

Dan yang belakangan ramai dibicarakan belakangan ini, Indonesia juga menjadi tempat yang subur untuk tanaman porang (Amorphophallusmuelleri Blume), jenis umbi-umbian yang bernilai ekonomi tinggi. Porang bisa diolah menjadi tepung, shirataki, konyaku. Industri obat-obatan memanfaatkan porang untuk menurunkan kolesterol dan gula darah, mencegah kanker, serta menurunkan obesitas dan mengatasi sembelit.

Saat ini ada 20.000 hektare lahan di Indonesia yang bisa ditanami porang. Jumlah ini akan terus bertambah mengingat nilai ekonominya yang begitu tinggi. Di 2020 lalu, porang dari Indonesia telah diekspor ke 16 negara dalam bentuk chips, tepung, dan juga lainnya dengan tujuan utama Tiongkok, Jepang, Thailand, dan Vietnam sebanyak 32.000 ton dengan nilai ekspor 1,42 triliun rupiah, meningkat sebesar 160 persen dibandingkan 2019.

Angka tersebut masih bisa terus bertambah mengingat tidak semua negara tanahnya bisa ditanami Porang. Kita masih bisa meningkatkan ekspor kita lagi misalnya ke negara-negara Eropa. Belum lagi pasar dalam negeri yang belum disentuh. Apalagi kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan akhir-akhir ini meningkat.

Tidak ada salahnya mulai saat ini kita mengembangkan tanaman porang karena memang prospeknya yang bagus. Jangan hanya berpusat di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur atau beberapa wilayah, tetapi juga harus ke seluruh tempat di mana tanaman Porang bisa tumbuh subur.

Tentu saja juga harus memperhatikan kualitas porang yang kita hasilkan dengan memacu riset pengolahan dan produk turunannya ke arah industri pangan. Strategi lainnya adalah peningkatan pengawasan larangan ekspor porang segar (umbi, bulbil, biji) dalam rangka mengamankan plasma nutfah lokal porang.

Mungkin tantangannya adalah penyediaan logistik benih dan pengolahan porang menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Untuk itu peran serta penerapan teknologi inovasi juga menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan porang.

Karenanya, terobosan Kementerian Pertanian ingin mencetak petani milenial menggenjot produksi porang untuk meningkatkan perekonomian nasional patut kita dukung. Porang adalah bisnis masa depan. Mari kita jadikan kekayan keanekaragaman hayati kita untuk kemakmuran anak bangsa, bukan hanya menjadi hiasan.

(MSS/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : MSS

Komentar

Komentar
()

Top