Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Polri Harus Semakin Profesional

Foto : ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/foc

Sejumlah anggota polisi mengamankan pendemo saat membubarkan aksi unjuk rasa memprotes ketimpangan pembangunan di Banten yang berlangsung di depan Gedung DPRD Banten di Serang, Senin (4/10/2021). Aksi digelar dalam menyambut HUT ke-21 Provinsi Banten.

A   A   A   Pengaturan Font

Masyarakat yang makin percaya Polri harus dijawab ­dengan ­selalu bertindak profesional dan berintegritas.

Unik untuk menyimak ulang tulisan pembaca di ruang ini edisi Jumat (15/10) berjudul "Kapolri Banyak Tugas Berat". Pembaca tersebut menyatakan bahwa Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit belakangan terbebani berbagai kejadian yang dilakukan kepolisian. Para bawahan Kapolri tengah disorot tajam masyarakat karena berbagai kejanggalan penanganan kejahatan.

Selain itu, Polri juga disorot karena perilaku di tengah masyarakat atas anggota-anggotanya. Ada baiknya kita mencantumkan utuh surat pembaca tersebut agar kita mudah menganalisis. "Pekan-pekan belakangan, Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit tentu memiliki tugas cukup berat. Sebab, polisi tengah dalam sorotan tajam mata masyarakat. Beberapa kasus dianggap "aneh" seperti wanita pedagang yang dihajar preman, lapor polisi, malah menjadi tersangka. Belum lagi kasus ayah memperkosa tiga putrinya. Ada juga kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang yang juga "aneh" karena tak kunjung terkuak pelakunya.

Terbaru yang menjadi beban Kapolri adalah bawahannya yang membanting satu mahasiswa yang mengadakan aksi unjuk rasa di Tangerang. Ini pun tak lepas dari sorotan tajam mata masyarakat lewat medsos. Bagaimana mungkin polisi yang harus mengayomi malah bertindak seperti itu. Semoga Kapolri tidak putus asa untuk membentuk polisi yang arif, tegas, tapi bijaksana." Surat yang ditulis Y Widodo tersebut rasanya cukup beralasan.

Konsep "Presisi" atau prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan belum sepenuhnya dipahami dan dijiwai bawahan. Misalnya, terkait transparansi berkeadilan, rasanya belum diterapkan dalam kasus di Luwu Timur, Medan, atau Subang. Sebab, ada kecurigaan masyarakat bahwa dalam tiga kasus ini Polri belum benar-benar menjalankan tugas secara transparan, apalagi berkeadilan.
Untuk itu, kasus-kasus tersebut harus cepat dibongkar supaya masyarakata dapat membaca kejadian sesungguhnya.

Berbagai kasus tersebut harus dijawab Polri secepatnya dan terbuka. Dengan begitu, jangan sampai kasus yang hanya sedikit, merusak karya dan kinerja Polri yang sudah bagus, seperti kerja Tim Densus 88 yang boleh dibilang luar biasa bagus. Tim mampu mendeteksi dan menggagalkan rencana-rencana aksi teror. Malahan terakhir mampu menemukan puluhan kilogram bahan bom di Gunung Ciremai. Ini tentu berkat keberhasilan deradikalisasi dan pembinaan mantan teroris, sehingga mereka terbuka memberi tahu masih menyimpan bom tersebut.
Halaman Selanjutnya....

Penulis : Aloysius Widiyatmaka

Komentar

Komentar
()

Top