Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Pemanasan Global

Perubahan Iklim Dapat Usir 216 Juta Orang Tinggalkan Rumah

Foto : AHMAD AL-RUBAYE / AFP

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM I Seorang anak laki-laki berjalan melalui ladang pertanian yang kering di Saadiya, Diyala, Irak beberapa waktu lalu. Bank Dunia memperingatkan dampak buruk perubahan iklim dapat menyebabkan hingga 216 juta orang meninggalkan rumah dan bermigrasi pada 2050.

A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON - Bank Dunia memperingatkan produksi pertanian yang turun, kelangkaan air, naiknya permukaan laut, dan dampak buruk dari perubahan iklim lainnya dapat menyebabkan hingga 216 juta orang meninggalkan rumah mereka dan bermigrasi di negara mereka sendiri pada 2050, Selasa (14/9).

Perkiraan dari pemberi pinjaman pembangunan yang berbasis di Washington memperbarui laporan 2018 dengan angka-angka baru dari Eropa Timur dan Asia Tengah, Afrika Utara dan Asia Timur dan Pasifik, untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang potensi korban dari kenaikan suhu global.

"Perubahan iklim adalah pendorong migrasi yang semakin kuat. Kekurangan makanan dan air bersama dengan naiknya air laut menyoroti urgensi untuk bertindak karena mata pencaharian dan kesejahteraan manusia berada di bawah tekanan yang meningkat," tutur Wakil Presiden Bank Dunia untuk pembangunan berkelanjutan, Juergen Voegele.

Dia mengatakan data tersebut memberikan "perkiraan global" tentang skala potensi migrasi.

"Tanpa tindakan tegas, mungkin ada titik panas migrasi iklim yang akan muncul dalam dekade berikutnya dan meningkat pada tahun 2050, ketika orang meninggalkan tempat yang tidak dapat lagi menopangnya dan pergi ke daerah yang menawarkan peluang," tegas Voegele memperingatkan.

Laporan Peneliti

Para peneliti bank itu, pada 2018, merilis laporan tentang dampak perubahan iklim terhadap migrasi di Asia Selatan, Amerika Latin, dan Afrika sub-Sahara, dan memproyeksikan 143 juta orang di wilayah tersebut dapat dipaksa pindah pada 2050. Perkiraan yang diperbarui mewakili sekitar tiga persen dari populasi yang diproyeksikan dari wilayah yang dicakup.

"Penting untuk dicatat bahwa proyeksi ini tidak dibuat-buat," kata Voegele.

"Jika negara-negara mulai sekarang untuk mengurangi gas rumah kaca, menutup kesenjangan pembangunan, memulihkan ekosistem vital dan membantu orang beradaptasi, migrasi iklim internal dapat dikurangi hingga 80 persen, menjadi 44 juta orang pada tahun 2050," terangnya.

Namun, jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena data tidak termasuk negara-negara kaya, seperti di Eropa atau Amerika Utara, atau Timur Tengah atau negara-negara pulau kecil.

Tren tersebut dapat memiliki implikasi yang signifikan bagi negara-negara tuan rumah, yang sering kali tidak siap untuk menghadapi masuknya migran baru.

"Lintasan migrasi iklim internal dalam setengah abad ke depan tergantung pada tindakan kolektif kita terhadap perubahan iklim dan pembangunan dalam beberapa tahun ke depan," tulis Voegele.

"Tidak semua migrasi dapat dicegah dan jika dikelola dengan baik, pergeseran distribusi penduduk dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi yang efektif, yang memungkinkan orang keluar dari kemiskinan dan membangun mata pencaharian yang tangguh," ujarnya.

Menurut Bank Dunia, mengelompokkan data berdasarkan wilayah, migran internal akibat perubahan iklim dapat mencapai 86 juta di Afrika sub-Sahara pada 2050, 49 juta di Asia Timur dan Pasifik, 40 juta di Asia Selatan, 19 juta di Afrika Utara, 17 juta di Latin Amerika dan lima juta di Eropa Timur dan Asia Tengah.

Laporan tersebut memusatkan perhatian pada masalah akses air di Afrika Utara, yang disebutnya sebagai "pendorong utama migrasi iklim internal".

Pertumbuhan penduduk telah melambat di daerah pesisir dan pedalaman yang menghadapi kekurangan air, termasuk pantai barat laut Aljazair, Maroko barat dan selatan, dan kaki pegunungan Atlas.

"Kota Alexandria di Mesir dan bagian timur dan barat delta Sungai Nil bisa menjadi titik panas migrasi keluar karena ketersediaan air yang menurun dan kenaikan permukaan laut," kata laporan itu.

Laporan itu juga memperingatkan ibu kota negara di kawasan itu diprediksi menjadi titik panas migrasi masuk iklim.


Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

Komentar

Komentar
()

Top