Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Pengamat Nilai Indonesia Bisa Kembangkan Wisata Berbasis Personal

Foto : ANTARA/Adiwinata Solihin

Sejumlah wisawatan melihat Hiu Paus (Rhincodon Typus) dengan menggunakan perahu wisata di pantai Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Selasa (5/12/2023). Sejak tahun 2016 hingga Desember 2023 tercatat sebanyak 59 hiu paus yang dapat diidentifikasi berdasarkan dari corak totol di badannya.

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia Azril Azahari menilai saat ini wisatawan menginginkancustomized-tourismatau wisata berbasis personalsehingga berbagai potensi wisata yang ada di berbagai daerah bisa dikembangkan berdasarkan perubahan perilaku dalam berwisata tersebut.

"Sekarang itu kan sudahcustomized-tourism, personalisasi, lokal dan memiliki wawasan. Itu keinginan dari wisatawan. Artinya apa? Dia maunya jadicustomized-tourism, personalsekali yang diinginkannya, kearifan lokal," kata Azril saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat (5/1).

Wisatawan, kata Azril, mencari keunikan dan kearifan lokal dari tempat-tempat yang dikunjungi. Merekatidak hanya menginginkan atraksi, namun, juga daya tarik yang memiliki ciri khas yang tidak dapat ditemukan di negara lain serta adanya nilai eksotisme di daerah tersebut.

Sang pakar melihatperilaku wisatawan telah berubah sejak era 1980-an hingga 2000-an, target wisata yang awalnya dihitung dari pariwisata massal, bergeser kepada wisata alternatif. Memasuki era 2020, perilaku berwisata berubah menjadi wisata yang berbasis kualitas dandisesuaikan dengan minat.

Azriljuga melihatwisatawan saat ini mendambakan kegiatan perjalanan yang sesuai dengan minat,sepertigreen and blue healingyang berkaitan dengan alam. Melihat tren tersebut,daerah dengan keanekaragaman alam harus menggali potensi mereka supaya bisa menjadi daya tarik untuk wisatawan,seperti melihat kawanan lumba-lumba di Sabang, atau pengalaman berinteraksi dengan hiu paus di Gorontalo.?????

World Travel Tourism Council (WTTC) juga mengatakan bahwa, target nilai pariwisata daerah bukan lagi dihitung dari jumlah wisatawan, namun, seberapa besar kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan negara. Kontribusi bisa dilihat dari periode wisatawan menginap dan berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berbelanja di tempat wisata.

Azrilmenilai perubahan nilai pariwisata dan perilaku wisatawan tersebut juga perlu diantisipasi pemerintahdalam mengembangkan wisata di Indonesia.

Potensi wisata lain yang juga dinilai perlu diantisipasi menurut Azriladalah wellnesstourismalias wisata berasiskesehatan dan kesejahteraan, termasuk di dalamnyagastronomi tourismatau wisata memuaskan hasrat mencari makanan berkualitas dan enak.

Indonesia, kata Azril, memiliki potensi untuk mengembangkan pariwisata gastronomi karena banyak kuliner unik yang kebanyakan hanya bisa ditemukan di Indonesia seperti sagu dan rempah-rempah.

"Kemudian jangan lupa juga,UNWTO bahwa itu sudah mensyaratkan pariwisata kita itu harus mengacu kepadacommunity-based tourism. Jadi, pariwisata yang berbasis kepada komunitas, tidak lagi kepada investor," katanya.

Di tengah tantangan secara global maupun nasional, seperti kasus COVID-19 yang meningkat, Azril masih menaruh optimisme terhadap pariwisata Indonesia dan berharap tantangan tersebut menjadi peluang Indonesia menghadirkan pariwisata yang nyaman dan aman bagi pengunjung. Ant


Redaktur : -
Penulis : Antara, Opik

Komentar

Komentar
()

Top