Kawal Pemilu Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Pemerintah Pacu Kontribusi Manufaktur ke PDB hingga 30%

Foto : ISTIMEWA

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menginginkan tingkat pertumbuhan industri manufaktur dapat memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 30 persen. Menurut dia, industri manufaktur bisa menjadi salah satu penunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia agar mampu keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah/ Middle Income Trap (MIT).

"Berdasarkan Growth Diagnostics, sebenarnya kita mampu tumbuh di 6,7-7 persen, kita punya potensial pertumbuhan seperti itu, tapi kita tidak bisa ke sana dan akibatnya kita hanya berada di 5 persen," ujarnya dalam acara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait Rakornas Pelaksanaan Anggaran 2023: Belanja Berkualitas Untuk Transformasi Ekonomi Indonesia yang dipantau secara virtual di Jakarta, Rabu (17/5).

Menurut Suharso, jika bisa tumbuh, potensial ekonomi Indonesia adalah 6,7-7 persen, graduasi terhadap MIT diharapkan bisa lebih cepat. Awalnya perhitungan Bappenas kira-kira pada 2036 Indonesia bisa lepas dari MIT, tapi akibat Covid-19 dan sebagainya, akan mundur kemungkinan pada 2038 paling cepat atau 2041.

Sejak 1980-an, industri manufaktur mulai mengalami penurunan hingga di bawah 20 persen. Padahal, salah satu syarat menjadi negara industri adalah ada kontribusi 20 persen dari sektor manufaktur terhadap PDB.

"Nah, kita berharap kita bisa mencapai 30 persen. Jika instrumen industri manufaktur bisa berkontribusi terhadap GDP (Gross Domestic Product atau PDB) sekitar 30 persen, tingkat pertumbuhan dari sektor industri manufaktur harus di atas (tumbuh dengan kecepatan yang lebih tinggi) daripada pertumbuhan makro kita," ucap Kepala Bappenas.

Industri manufaktur yang dikembangkan di Indonesia harus menyesuaikan dengan isu-isu terkini, misalnya, industri manufaktur tidak bisa lagi mengandalkan non renewable resources mengingat saat ini sedang berkembang pembicaraan soal perubahan iklim (climate change) dan keberlanjutan (sustanability).


Redaktur : Muchamad Ismail
Penulis : Antara

Komentar

Komentar
()

Top