Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Pemerintah Harus Terus Naikkan Nilai Tukar Petani

Foto : ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj

Petani menabur benih padi di area persawahan Lambaro, Aceh Besar, Aceh, Selasa (4/1/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) melansir Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional mengalami kenaikan 1,08 persen pada Desember 2021 jika dibandingkan November 2021 yang disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa di 34 Provinsi di Indonesia.

A   A   A   Pengaturan Font

Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan petani sehingga lahir petani generasi penerus yang akan menghasilkan pangan bagi rakyat Indonesia, bukan dari impor. Pangan untuk rakyat Indonesia harus bisa dihasilkan dari dalam negeri oleh petani kita sendiri.

Indonesia pernah menyandang status sebagai negara agraris karena banyaknya penduduk yang mata pencahariannya sebagai petani. Namun status itu kini sudah tidak melekat pada Indonesia karena semakin turunnya jumlah petani yang ada. Bahkan Indonesia bisa kekurangan petani jika turunnya jumlah penduduk yang bekerja di bidang pertanian terus menurun.

Data Bank Dunia menunjukkan penduduk yang bekerja sebagai petani menyusut menjadi 28,5 persen pada 2019. Padahal tiga dekade sebelumnya jumlahnya mencapai 55,5 persen dari total angkatan kerja.

Sementara di sektor lain, justru meningkat. Seperti industri yang naik dari 15,2 persen pada 1991 menjadi 22,36 persen pada 2019. Kenaikan lebih pesat terjadi pada sektor jasa dari 29,3 persen menjadi 49,1 persen.

Terus turunnya penduduk yang bekerja sebagai petani karena memang sektor ini tidak menjanjikan hidup yang layak. Lihat saja data Nilai Tukar Petani (NTP) yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tiap bulan, tidak jauh di atas 100. Sangat mepet. Itu artinya pendapatan yang diperoleh petani hanya sedikit lebih tinggi dibanding pengeluarannya. Bahkan tidak jarang, NTP di bawah angka 100 yang artinya petani rugi karena pendapatannya lebih kecil dibanding biaya produksi yang mereka keluarkan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono melansir bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami kenaikan 1,08 persen pada Desember 2021 jika dibandingkan November 2021. "Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 34 provinsi di Indonesia pada Desember 2021, NTP secara nasional naik 1,08 persen dibandingkan NTP November 2021, yaitu dari 107,18 menjadi 108,34," kata Margo saat menggelar konferensi pers secara virtual belum lama ini.
Halaman Selanjutnya....


Redaktur : Koran Jakarta
Penulis : Koran Jakarta

Komentar

Komentar
()

Top