Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Pencegahan Penyimpangan

Napi Korupsi Diminta Jadi Agen Antikorupsi

Foto : ANTARA/Desca Lidya Natalia

Ketua KPK Firli Bahuri pada penyuluhan antikorupsi bagi para narapidana korupsi, di Lembaga Pemasyarakata (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Rabu (31/3).

A   A   A   Pengaturan Font

BANDUNG - Para narapidana (Napi) korupsi diharapkan dapat menjadi agen antikorupsi di tempat masing-masimng setelah nantinya bebas dari hukuman penjara. Dengan begitu, mereka dapat membantu dan mencegah kejahatan korupsi terjadi di masyarakat.
"Kami berharap dalam program ini dapat memberikan pemahaman bahaya korupsi, sehingga menjadi agen dalam memberikan penyadaran agar masyarakat tidak korupsi, bukan hanya dari kalangan pendidikan tapi dari orang yang pernah korupsi," kata Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri, di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (31/3).
KPK melakukan kegiatan penyuluhan antikorupsi bagi 25 orang narapidana kasus korupsi sebagai bagian program asimilasi, yaitu masa tahanannya akan berakhir. Kegiatan tersebut rencananya juga dilangsungkan di Lapas Tangerang pada 20 April 2021.
"Hari ini adalah hari pertama dan tidak akan berhenti, terus berlanjut. Program ini dilakukan di Sukamiskin karena warga binaan di sini paling banyak kasus korupsi, KPK memiliki kepentingan untuk melakukan pemberantasan korupsi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat termasuk warga binaan," ujar Firli.

Pengulangan Korupsi
Menurut Firli, KPK melakukan program penyuluhan di lapas, karena tidak ingin ada pengulangan kasus korupsi yang dilakukan para napi. "Lapas jadi perhatian kami karena tidak ingin terjadi penyimpangan kedua, para pelaku yang sudah berkekuatan hukum tetap dan dibina di lapas jangan sampai terjerembab ke perbuatan kedua padahal di sini sedang melakukan pembinaan," kata Firli.
Sebelumnya, narapidana korupsi Fahmi Darmawansyah kembali dihukum karena menyuap Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husein. Fahmi saat itu sedang menjalani hukuman karena menyuap pejabat Bakamla, sehingga menjadi penghuni Lapas Sukamiskin selama 2 tahun dan 8 bulan, selanjutnya Fahmi juga menambah masa hukumannya karena menyuap kalapas, sehingga dihukum 3,5 tahun penjara meski akhirnya dikurangi berdasarkan putusan Peninjauan Kembali (PK) menjadi 1,5 tahun penjara.
Dalam program ini, KPK menggunakan pendekatan ilmu psikologi untuk memetakan narapidana asimilasi, antara lain dengan menggunakan metode komunikasi dua arah, mengenali kepribadian, analisis gesture, vibrasi suara, goresan tulisan, dan lain-lain.
Pemetaan ini diharapkan akan menghasilkan data narapidana yang siap untuk dilibatkan dalam program antikorupsi. KPK melakukan kegiatan penyuluhan sebagai bentuk pelibatan seluruh elemen masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.



(Ant/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto

Komentar

Komentar
()

Top