Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Myanmar "Rush" Bank Militer

Myanmar Rush Bank Militer
Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

YANGON - Warga Myanmar ramai-ramai menarik dana (rush) dari bank-bank yang dikelola militer. Ini sebagai pembangkangan karena militer mengudeta pemerintah sah. Mereka juga menarik dana-dana dari bank-bank berafiliasi ke Tiongkok dan Russia yang mendukung militer.

Protes ala Generasi Z, meluasnya sikap anti-Tiongkok dan Rusia yang dituding pro-junta terus meluas. Rakyat Myanmar juga menyerang peretas terhadap corong militer. Ini menunjukkan bahwa gerakan antijunta Myanmar semakin besar saja.

Gerakan anti-junta Myanmar melibatkan semua kalangan dari biksu sampai pegawai negeri sipil, dari mahasiswa sampai profesional dan seniman. Militer Myanmar yang biasa disebut Tatmadaw sepertinya tak menyangka akan sebesar ini perlawanan rakyat terhadap kudeta 1 Februari tersebut.

Situasi itu bertambah pelik oleh kian hebatnya tekanan dunia, sampai memunculkan pertanyaan apakah gerakan anti-kudeta kali ini bakal berhasil. Di pusat gerakan yang seperti unjuk rasa di Thailand dan Hong Kong beberapa waktu mengalir tanpa pemimpin tetapi terkoordinasi rapi ini, ada anak-anak Gen Z.

Kaum muda Myanmar memang terilhami gerakan massa pro demokrasi serupa di Thailand dan Hong Kong. Seorang gadis berusia 28 tahun bernama Myat sampai membaca manual taktik demonstrasi Hong Kong yang diterjemahkan ke dalam bahasa Burma dan sudah ribuan kali dibagikan di media sosial.

Beberapa penentang kudeta 1 Februari membuat asosiasi dalam tagar #MilkTeaAlliance untuk menyatukan diri dengan para pegiat demokrasi di Thailand dan Hong Kong. Media sosial telah membuat mereka meminjam simbol dan gagasan gerakan massa, termasuk menggunakan flashmob ala Hong Kong, tagar dan juga meme.

Kaum muda ini sendiri adalah bagian dari lima juta pemilih baru pemilu 8 November tahun lalu yang kebanyakan pro Aung San Suu Kyi. Tidak mengherankan jika mereka menjadi kekuatan amat penting dalam gerakan anti-junta pimpinan jenderal dari generasi "baby boomer", Min Aung Hlaing, yang lahir pada 3 juli 1956, dan menahan Suu Kyi.

Jenderal ini mungkin tak menyangka pada besarnya perlawanan sipil yang tak bisa segera dihentikan seperti pada kudeta-kudeta sebelumnya di negeri itu. Sayang, seperti biasa sikap Asean memble. Myanmar mestinya meninggalkan "tidak campur politik dalam negeri" kalau terhadap kasus pengambilalihan kekuasaan secara paksa seperti ini karena melawan demokrasi. Militer Myanmar harus dikucilkan.



(Ant/G-1)
Redaktur : Aloysius Widiyatmaka

Komentar

Komentar
()

Top