Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Memberantas Praktik Pungli

Foto : ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp

Truk bermuatan peti kemas melintas di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (11/6/2021). Petugas kepolisian merespon keluhan supir kontainer dihadapan Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan di Pelabuhan Tanjung Priok dengan mengamankan 49 pelaku pungli yang melakukan aksi di kawasan Tanjung Priok.

A   A   A   Pengaturan Font

Ke depan, jika perlu, Polri mengajak TNI untuk bersama-sama membasmi sampah ­masyarakat tersebut.

Saat ini Polda-polda hingga Polres-polres seluruh Indonesia sepertinya serentak atau ramai-ramai memberantas aksi-aksi premanisme. Di antaranya, praktik-praktik pemalakan, penghambatan kerja kalau tidak ada uang 'pelicin,' atau urusan diperlambat. Inilah pungutan liar (pungli) di berbagai kawasan bisnis.

Ada apa ini? Tak lain adalah buntut dari keluhan pengemudi kontainer di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, kepada Presiden Joko Widodo, pekan lalu. Pengemudi mengeluh karena segala urusan harus menggunakan uang 'pelicin'. Besarannya mulai dari 2.000 rupiah hingga 5.000 rupiah.

Dalam sehari satu pengemudi bisa kena 15.000-20.000 rupiah. Sedikit? Kalau satu sopir dan hanya sehari! Tapi dalam satu kawasan bisnis, truk kontainer yang keluar masuk dalam sehari bisa 200 sampai 300. Hitung saja kalau hanya sebulan. Padahal praktik ini sudah bertahun-tahun.

Baca Juga :
Bencana Alam di NTT

Pertanyaannya, mengapa "hanya" urusan pungli harus menunggu perintah Presiden? Sebab setelah Presiden minta Kapolri Jenderal Pol Sigit L Prabowo, ternyata bisa hari pertama saja sudah 49 preman di Priok ditangkap. Hari-hari selanjutnya ratusan preman ditangkapi di berbagai daerah. Maka, perintah Presiden mesti dijadikan momentum pemberantasan praktik-praktik pungli di kawasan bisnis, kawasan berikat, pelabuhan-pelabuhan peti kemas, dan bandara-bandara. Kemudian juga di jalan-jalan, pasar-pasar, stasiun, terminal dan tempat bisnis lainnya.

Sebenarnya kasus-kasus ini di depan mata. Artinya selalu ada dan dalam berbagai modus. Jadi, jangan hanya karena diperintah Presiden, selanjutnya operasi besar-besaran seperti ini harus dilakukan secara periodik. Katakanlah paling lama sebulan sekali.

Harapannya, dengan sering dilakukan operasi besar-besaran... walau tidak mungkin hilang.. pungli di tempat-tempat tersebut terkikis. Jangan menjadi tradisi buruk preman. Pungli akan terus berevolusi modusnya, maka kalau tidak terus digerebek, bakal hidup terus.

Terima kasih kepada kepolisian yang telah serentak memberantas preman hari-hari ini. Semoga orang-orang yang ditangkap benar-benar preman. Jangan hanya demi angka-angka, sehingga orang 'dipinjam' untuk ditangkap guna melahirkan angka atau target.

Ke depan, jika perlu, Polri mengajak TNI untuk bersama- sama membasmi sampah masyarakat tersebut.




Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Muhamad Ma'rup

Komentar

Komentar
()

Top