Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya) Mayjen Dudung Abdurachman

Masyarakat Harus Tetap Tenang Pascaaksi Terorisme

Foto : ANTARA/DHEMAS REVIYANTO
A   A   A   Pengaturan Font

TNI-Polri siap mengantisipasi setiap adanya perkembangan aksi terorisme.

Untuk mencegah dan mengantisipasi adanya peristiwa teror seperti yang terjadi di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/3), dan di Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta Selatan, pada Rabu (31/3) lalu, Panglima Kodam Jaya (Pangdam) Mayjen Dudung Abdurachman melakukan patroli bersama dengan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran.

Pangdam bersama dengan Kapolda Metro Jaya melakukan pengecekan pengamanan ke Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Upaya itu dilakukan untuk mencegah adanya aksi teror di wilayah DKI Jakarta, terutama berkaitan dengan Peringatan Wafat Yesus Kristus atau Jumat Agung, Jumat (2/4).

Terkait dengan upaya pengamanan di DKI Jakarta, wartawan Koran Jakarta, Yohanes Abimanyu, berkesempatan mewawancarai Pangdam Jaya, Mayjen Dudung Abdurachman, dalam beberapa kesempatan. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana dengan pengamanan dan pencegahan aksi teror di wilayah DKI Jakarta?

Malam ini (Kamis, 1/4 malam) saya dengan Kapolda Metro Jaya mengadakan pengecekan ke tempat-tempat ibadah, khususnya saudara-saudara kita umat kristiani, kita mengecek kesiapan anggota, kita antisipasi adanya kejadian yang lalu (serangan teror).

Peninjauan pengamanan ini merupakan protokol tetap (protap), setiap ada kegiatan keamanan. Karena TNI-Polri berjaga untuk memperketat keamanan. Ini sudah protap ya, kalau ada kegiatan keagamaan, TNI-Polri mengecek kesiapan secara material dan personel TNI-Polri sudah siap.

Apakah hal itu terkait dengan pengamanan Jumat Agung?

Bersama Kapolda akan meninjau tempat-tempat yang diantisipasi. Hal ini tidak lain untuk mencegah peristiwa teror seperti yang terjadi di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3), dan di Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (31/3). Selain itu, kita patroli ke tempat-tempat yang kita antisipasi.

Berapa personel yang dikerahkan untuk kegiatan ini?

Personel gabungan yang diturunkan dalam kegiatan ibadat pada Jumat Agung sekitar 5.990 TNI-Polri. Pihaknya juga mengerahkan intel untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sampai saat ini kondusif karena beberapa hari sebelumnya kita patroli.

Bagaimana Bapak melihat pengamanan untuk pencegahan aksi teror di DKI Jakarta?

Intinya, TNI-Polri siap mengantisipasi setiap adanya perkembangan-perkembangan seperti itu (aksi terorisme).

Apa imbauan Bapak terhadap masyarakat?

Kita mengimbau pada masyarakat agar tetap tenang pascapenyerangan para terorisme tersebut. Saya meminta pada warga agar mempercayakan terkait keamanan kepada TNI-Polri. Bila ada hal-hal yang mencurigakan, segera laporkan aparat keamanan, sehingga kita bahu-membahu untuk mengatasi itu (hal mencurigakan).

Dalam peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad lalu, apa pesan Bapak?

Salat harus diimplementasikan seluruh anggota, baik prajurit maupun PNS, karena dengan salat dapat terhindar dari pelanggaran dan dapat meningkatkan disiplin anggota.

Di samping itu, salat juga dapat mencegah perbuatan keji dan munkar sehingga terdapat nilai kebenaran dan akhlak mulia terhadap seluruh anggota.

Bagaimana dengan persatuan serta kesatuan bangsa dan hubungan dengan tokoh lintas agama?

Kegiatan Isra Mi'raj ini bertujuan untuk merangkai interaksi dan komunikasi serta berdiskusi tentang banyak hal berikut mencari solusi, terutama persoalan-persoalan krusial yang tengah terjadi di masyarakat.

Untuk itu, sudah menjadi kewajiban kita agar terus berupaya memupuk hubungan yang harmonis dilandasi kebersamaan dan persaudaraan yang kuat.

Saya mengingatkan pentingnya berkehidupan berbangsaan dan bernegara dengan berpedoman pada Pancasila karena di dalam sila-sila Pancasila memuat norma kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, kekompakan antar-instansi pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat menjadi syarat utama dan layak untuk terus kita pertahankan.

Apa harapan Bapak dengan penanaman nilai-nilai nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI?

Pertemuan ini memberikan bukti Kodam Jaya masih tetap konsisten dalam upaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI, serta mengajak seluruh masyarakat agar bersama-sama mencegah upaya-upaya provokasi dan hasutan yang pada akhirnya dapat menimbulkan perpecahan antar-umat beragama dan tidak adanya sinergitas di dalam kerukunan umat beragama serta kekerasan ataupun konflik komunal.

Bagaimana dengan datangnya bulan Ramadan sebentar lagi?

Dengan akan datangnya bulan Ramadan yang kurang beberapa hari lagi, Pangdam mengajak khususnya umat Islam untuk melaksanakan ibadah Puasa, salat Tarawih, tadarus Al-Quran dan ibadah-ibadah lainnya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk mencegah terpaparnya Covid-19.

Bagaimana tanggapan Bapak dengan keberadaan ormas yang meresahkan masyarakat?

Apabila organisasi masyarakat (ormas) bertindak seenaknya dan meresahakan, maka ormas itu sebaiknya dibubarkan. Mereka jangan sembarangan memasang baliho tanpa izin.

Jangan coba-coba, kalau perlu bubarkan saja. Kok, mereka yang atur suka-suka sendiri. Ingatkan saya katakan itu perintah saya. Tidak hanya itu, saya akan bersihkan semua tidak ada baliho-baliho ajak revolusi dan sebagainya.

Saya peringatkan dan saya tidak segan-segan untuk menindak keras. Jangan coba-coba ganggu persatuan dan kesatuan bangsa dengan merasa mewakili umat Islam, padahal Islam tidak semua seperti itu.

Bisa diceritakan bagaimana kisah Bapak sejak remaja?

Pada saat remaja, kehidupan saya tidak seperti yang dibayangkan karena harus berjuang membantu perekonomian keluarga. Setelah ayah meninggal dunia pada pada tahun 1981, sang Ibu harus membesarkan delapan orang anak.

Bapak hanya PNS golongan II D, kami tinggal di rumah barak saat itu. Demi memutar roda perekonomian keluarga saya rela jualan kue klepon buatan Ibu saya. Saya waktu itu masih berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Jadi, saya berjualan kuenya dengan mengirimkan kue itu ke kantin-kantin, salah satunya berada di Markas Kodam (Komando Daerah Militer) yang ada di Bandung.

Seperti apa sosok Ibunda?

Ibu saya orang hebat. Selain itu, Ibu yang berjuang mati-matian membesarkan delapan anaknya, sampai saya bisa sukses seperti saat ini. Ibu membesarkan delapan anak hingga bangku kuliah. Untuk itu, saya percaya, tidak semua orang punya gaji, tetapi semua orang punya rezeki.

Berapa lama Bapak membantu perekonomian keluarga saat itu dengan berjualan kue?

Saya melakukan rutinitas mengantar kue klepon dilakukan hingga SMA dan baru berhenti sebelum ujian sekolah. Kemudian, saat kelas 3 SMA saya sudah punya pacar, tetapi masih dagang kue klepon.

Ternyata tidak hanya menjadi seorang penjual klepon saja, tetapi juga mengisi waktu menjadi loper koran. Biasanya pukul 04.00 atau pukul 05.00 WIB saya menjadi pengantar koran, lalu pulang. Memasuki pukul 08.00 WIB, saya baru antar kue klepon dan mencari kayu bakar sampai jam 10.00 WIB, setelah itu istirahat, baru sekolah.

Pada Sabtu dan Minggu bukan bermain, tetapi mencoba mencari penghasilan tambahan lewat berjualan es bonbon dengan cara menjajakannya berkeliling.

Setelah lulus SMA, di mana Bapak melanjutkan pendidikan?

Setelah lulus SMA, saya mendaftarkan diri untuk masuk Akabri, ternyata lolos juga. Di waktu yang bersamaan, saya juga lolos tes di perguruan tinggi negeri. Tapi karena ibu tidak punya biaya, saya memutuskan memilih menjadi TNI.

Singkat cerita, pada akhirnya karier saya sampai sekarang mengemban tanggung jawab menjadi Pangdam Jaya. Menurut saya, menjadi seorang Pangdam merupakan tugas mulia yang harus dijalankan dengan ikhlas.

Apa saja yang tengah menjadi fokus dari Kodam Jaya saat ini?

Tentang pokok-pokok kebijakan pembinaan kesatuan secara umum, yang meliputi bidang intelijen, bidang operasi, bidang personel, bidang logistik, bidang teritorial, bidang perencanaan dan anggaran, dan bidang pengawasan.

Terkait berbagai bidang yang dipaparkan oleh Pangdam Jaya secara keseluruhan merupakan evaluasi pelaksanaan tugas di berbagai bidang guna meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan tugas, serta guna mendapatkan solusi dihadapkan dengan kendala atau kekurangan atas kondisi satuan saat ini.

Lantas apa pesan Bapak dalam sidang Parade kemarin?

Pangdam Jaya menyampaikan bahwa sidang parade merupakan salah satu upaya pembenahan terhadap tahapan atau proses seleksi, agar dapat berjalan lebih efektif dan berhasil guna dalam menjaring calon prajurit dari ribuan peserta yang telah mendaftar dan memiliki atensi serupa untuk menjadi seorang prajurit.

Tugas ini tidaklah ringan, selama proses seleksi diperlukan ketelitian dan kecermatan dengan senantiasa mengedepankan objektivitas yang tinggi.

Suksesnya sidang ini adalah cerminan komitmen dan tanggung jawab kita atas kepercayaan yang telah diberikan oleh pimpinan TNI AD, sekaligus merupakan dedikasi serta pengabdian kepada bangsa dan negara.

Riwayat Hidup*

Nama : Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman, S.E., M.M.

Tempat, tanggal lahir : Bandung, Jawa Barat, 16 November 1965

Pendidikan:

  • Akademi Militer (1988)
  • Sesarcabif (1988)

Karier:

  • Aspers Kasdam VII/Wirabuana (2010-2011)
  • Danrindam II/Sriwijaya (2011)
  • Dandenma Mabes TNI (2011-2015)
  • Wagub Akmil (2015-2016)
  • Staf Khusus Kasad (2016-2017)
  • Waaster Kasad (2017-2018)
  • Gubernur Akmil (2018-2020)
  • Pangdam Jaya (2020-sekarang)

*BERBAGAI SUMBER/LITBANG KORAN JAKARTA/AND

(jon/S-2)
Redaktur : Sriyono

Komentar

Komentar
()

Top