Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Likuidasi Opsi Terakhir Garuda

Foto : ANTARA FOTO/Ampelsa/wsj

Pekerja membongkar muat kargo dari pesawat Garuda Indonesia setibanya di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Sabtu (22/5/2021). Maskapai Garuda Indonesia akan menambah jadwal penerbangan di Provinsi Aceh yang saat ini hanya satu kali dalam sehari jika ada peningkatan penumpang dengan tetap menjalankan prosedur protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

A   A   A   Pengaturan Font

Dari empat opsi yang disiapkan Kementerian BUMN, hendaknya likuidasi menjadi pilihan terakhir. Kita semua berharap Garuda Indonesia tetap terbang.

Pandemi Covid-19 membuat bisnis penerbangan berdarah-darah. Penguncian (lockdown) di beberapa wilayah membuat pergerakan manusia menjadi terbatas. Bukan hanya pergerakan antarnegara saja, tetapi juga pergerakan domestik dalam satu negara. Jumlah penumpang pesawat terbang turun drastis.

Maka tak heran jika ada kabar yang menyebutkan ada 40-an maskapai komersial di seluruh dunia kini menjelang ajal. Asosiasi Transportasi Udara Internasional memperingatkan bahwa kerugian di industri penerbangan akan terus terjadi. Bahkan per bulan di 2021, industri akan menderita hingga enam miliar dollar AS (Rp88 triliun).

Nasib yang dialami maskapai global itu juga yang dialami maskapai kebanggan kita, Garuda Indonesia. Turun drastisnya jumlah penumpang selama pandemi yang entah kapan akan berakhir membuat Garuda Indonesia dililit masalah keuangan. Tidak tanggung-tanggung, per Mei 2021, utang Garuda sebesar 70 trilun rupiah. Setiap bulan, potensi utang terus bertambah lebih dari satu triliun rupiah.

Sebenarnya tanda-tanda tidak sehatnya keuangan Garuda Indonesia sudah tampak saat manajemen mengumumkan laporan keuangan 2018 yang secara mengejutkan membukukan laba 11,33 miliar rupiah. Namun dua orang perwakilan pemegang saham tidak happy dengan laporan keuangan tersebut. Akhirnya setelah dilakukan pelaporan ulang (restatement), ternyata perusahaan yang di Bursa Efek Indonesia diperdagangkan dengan kode GIAA itu, rugi 3,6 triliun rupiah.

Baca Juga :
Kapal Selam Alugoro

Pemerintah telah menyiapkan empat opsi tentang nasib Garuda Indonesia ke depan. Pertama menambah suntikan modal. Kedua, merestrukturisasi kewajiban dengan menggunakan legal bankruptcy. Ketiga, melakukan restrukturisasi namun di saat bersamaan mendirikan perusahaan penerbangan domestik baru yang akan mengambil sebagian besar rute domestik Garuda dan nantinya menjadi national flag carrier. Opsi terakhir, melikuidasi Garuda.

Sebagai perusahaan yang sudah go public, sebenarnya Garuda mempunyai opsi melakukan penawaran terbatas kepada pemegang saham atau right issue (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, HMETD) dengan tujuan untuk menambah modal kerja. Namun rupanya, opsi ini tidak dipilih pemerintah.

Dari empat opsi yang disiapkan Kementerian BUMN, hendaknya opsi likuidasi menjadi pilihan terakhir. Kita tentu ingat bagaimana Malaysia tetap memperjuangkan Malaysia Airlines yang kondisinya lebih parah dibanding Garuda. Malaysia Airlines mengalami masalah keuangan sejak MH-370 hilang misterius dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing dan MH-17 ditembak di wilayah Ukraina dalam penerbangan dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur pada 2014.

Tentu kita semua berharap Garuda Indonesia tetap terbang. Mungkin rutenya tidak seperti dulu. Rute-rute internasional yang merugi ditutup saja, banting stir fokus ke penerbangan domestik yang potensial.

Baca Juga :
Keadilan bagi Murid

Pasarnya domestik Garuda memang ada. Sekitar 78 persen pendapatan Garuda berasal dari penumpang yang bepergian antarpulau, sisanya berasal dari turis asing. Dan Garuda pernah dinobatkan SkyTrax, lembaga pemeringkat independen berkedudukan di London sebagai maskapai paling dicintai di selutuh dunia dengan nilai kepuasan 85.

(ruf/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Muhamad Ma'rup

Komentar

Komentar
()

Top