Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Klaster Baru Lebaran

Foto : ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/wsj

Pemudik sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di jalur Pantura Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, Selasa (11/5/2021) dini hari. Petugas gabungan memutar balik pemudik yang melintasi jalur pantura Subang pada H-2 jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H.

A   A   A   Pengaturan Font

Pemerintah jangan lengah, di satu sisi mencegah penularan virus korona ke ­berbagai pelosok daerah, tetapi kecolongan di kota-kota besar.

Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1442 Hijriyah atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Kamis 13 Mei 2021. Hari ini, Rabu (12 Mei) adalah hari terakhir Umat Islam menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Ketetapan pemerintah tersebut kompak dengan keputusan dua organisasi Islam terbesar di tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Pengurus Besar NU dan Pengurus Pusat Muhammadiyah dalam keterangannya juga menetapkan 1 Syawal 1442 Hijriyah jatuh pada 13 Mei 2021.

Lebaran kali ini merupakan lebaran kedua selama pandemi Covid-19. Sama dengan tahun lalu, pemerintah meminta masyarakat untuk tidak merayakannya secara berlebihan dan tetap mengikuti protokol kesehatan. Shalat Idul Fitri boleh dilakukan di daerah angka penularan Covid-19 nya rendah, yaiu hanya di zona hijau dan kuning saja.

Pemerintah Provinsi DKI bahkan menganjurkan kepada warganya untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di dalam rumah atau di halaman rumah. Bila tidak memungkinkan, lakukan di lapangan terbuka di sekitar rumah. Shalat Idul Fitri tidak harus dilakukan di masjid. Masjid terbesar di Indonesia, mungkin terbesar di Asia Tenggara, yaitu Masjid Istiqlal kali ini meniadakan shalat Idul Fitri.

Langkah Masjid Istiqlal ini bisa dijadikan contoh masjid-masjid lain. Hal-hal seperti di atas bisa dimaklumi mengingat gelombang baru penularan Covid-19 yang ditandai dengan ditemukannya varian baru virus korona yang lebih ganas, telah terjadi di beberapa negara seperti India, Inggris, dan Afrika Selatan. Dan varian baru tersebut sudah masuk ke Indonesia.

Karena itu, jauh-jauh hari pemerintah membuat peraturan pengetatan mudik lebaran mulai 22 April - 24 Mei. Bahkan pada periode 6 Mei - 17 Mei, mudik benar-benar tidak diperbolehkan. Semua angkutan umum baik itu bus, kereta api, kapal laut, dan kapal udara sama sekali dilarang mengangkut penumpang. Begitu juga kendaraan pribadi.

Sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19, larangan mudik kali ini harus diapresiasi. Kita tidak ingin tsunami Covid-19 yang terjadi di India yang berawal dilangsungkannya perayaan agama, terjadi di sini. Pemerintah jangan lengah, di satu sisi mencegah penularan virus korona ke berbagai pelosok daerah, tetapi kecolongan di kota-kota besar. Jangan sampai warga Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar yang tidak mudik ke kampung halaman justru berjubel di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat wisata sehingga timbul klaster baru Idul Fitri. Dua dan tiga hari lalu saja sudah terjadi seperti di Pasar Tanah Abang Jakarta dan Jalan Dalem Kaum Bandung.

Pemerintah harus terus menerus mengumumkan bahaya penularan virus korona dilibur panjang lebaran. Meski demikian, yang tidak kalah penting adalah kesadaran kita semua sebagai anggota masyarakat untuk menaatinya dengan menghindari kerumunan.

Merayakan lebaran di kota tidak harus mengunjungi pusat perbelanjaan atau tempat-tempat wisata. Gunakan libur panjang lebaran bersama keluarga di rumah. Silaturahmi dengan keluarga di kampung halaman bisa dilakukan dengan telpon atau berbagai media sosial yang ada.

Dan yang tidak kalah penting, semangat ramadhan yang menguji kita dari berbagai godaan, baik itu godaan haus, lapar, dan hawa nafsu, bisa terus terjaga di bulan-bulan berikutnya. Jadikan semangat Ramadhan terus terjaga sepanjang tahun.

(MSS/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : M. Selamet Susanto

Komentar

Komentar
()

Top