Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Kim Jong Un Beruntung, Dua Sekutu Ideologinya Melindungi Korea Utara dari Sanksi yang Akan Dijatuhkan PBB

Foto : ANTARA/Reuters/Carlo Allegri

Duta Besar PBB mengheningkan cipta untuk Ukraina selama pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang resolusi mengenai tindakan Rusia terhadap Ukraina, di Markas Besar PBB di New York City, AS, 25 Februari 2022.

A   A   A   Pengaturan Font

PBB - Tiongkok dan Rusia menggunakan hak veto mereka untuk menggagalkanupaya pimpinan Amerika Serikat agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap Korea Utara atas peluncuran terbaru balistik yang dilakukan Korut.

Tindakan Tiongkok dan Rusia pada Kamis itu memperlihatkan perpecahan di Dewan Keamanan PBB untuk pertama kalinya sejak Dewan mulai menjatuhkan sanksi terhadap Pyongyang pada 2006.

Berbeda dengan Tiongkok dan Rusia, 13 anggota lainnya Dewan Keamanan menyatakan mendukung resolusi yang disusun AS tersebut.

Rancangan resolusi itu berisi usulan untuk menerapkan larangan ekspor tembakau dan minyak ke Korut, negara pimpinan Kim Jong Ung, sang perokok berat.

Rancangan itu juga akan menempatkan Lazarus ke dalam daftar hitam. Kelompok peretas itu dikatakan AS punya hubungan kuat dengan Korut.

Pemungutan suara di Dewan Keamanan tersebut dilakukan satu hari setelah Korut menembakkan tiga peluru kendali, termasuk benda yang diyakini sebagai rudal balistik antarbenua (ICBM) pascakunjungan Presiden AS Joe Biden ke Asia.

Peluncuran rudal-rudal itu merupakan yang terbaru dilakukan tahun ini serta pelanggaran atas larangan yang ditetapkan Dewan Keamanan.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan kepada Dewan, "Penerapan sanksi baru terhadap Korea Utara mengarah ke jalan buntu."

Duta Besar Tiongkok untuk PBB Zhang Jung mengatakan sanksi tambahan terhadap Korut tidak akan membantu keadaan dan hanya akan meningkatkan "efek negatif dan konfrontasi."

Dalam 16 tahun terakhir ini, Dewan Keamanan telah dengan suara bulat terus-menerus meningkatkan sanksi untuk memutus kemampuan Pyongyang mendanai program senjata nuklir dan rudal balistik.

Dewan terakhir kali mengetatkan sanksi terhadap Pyongyang pada 2017.

Sejak itu, Tiongkok dan Rusia kerap mendorong negara-negara agar melonggarkan sanksi atas alasan kemanusiaan.

Korut menghentikan perundingan setelah tiga kali pertemuan antara Kim Jong Un dan presiden AS saat itu, Donald Trump, tidak membuahkan hasil.

Tiongkok sudah mendesak AS untuk mengambil langkah, termasuk mencabut beberapa sanksi sepihak, agar Pyongyang mau kembali melakukan perundingan.


Redaktur : Lili Lestari
Penulis : Antara

Komentar

Komentar
()

Top