Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Kata Eks Bos Intel Indonesia, Jenderal Kopassus Ini Pernah Bentuk Pasukan yang Mengerikan

Foto : Istimewa

Prabowo Subianto bersama pasukannya saat masih aktif bertugas di Kopassus.

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA- Jenderal (Purn) Hendropriyono adalah salah satu dedengkot intelijen Indonesia. Ia juga adalah guru besar intelijen pertama di Indonesia. Jenderal Hendro pernah menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) di era Megawati Soekarnoputri jadi Presiden.

Sang jenderal merupakan mantan serdadu pasukan khusus TNI. Jenderal didikan langsung Kopassus. Semasa aktif di TNI, mertua dari Jenderal Andika Perkasa, Kepala Staf Angkatan Darat ini malang melintang di berbagai palagan operasi militer.

Ia pernah ditugaskan di belantara Kalimantan, berhadapan langsung dengan pasukan khusus Inggris, SAS. Ketika itu, Hendro ditugaskan untuk memburu kelompok Paraku-PGRS.

Nah, ada satu cerita menarik yang sempat dituturkan jenderal baret merah ini. Cerita menarik sang jenderal Kopassus ini tentang sebuah pasukan dengan kemampuan mengerikan yang pernah dibentuk oleh seorang jenderal Kopassus juga.

Dalam sebuah wawancara, mantan Kepala BIN di era Megawati Soekarnoputri ini bercerita, ia sempat berkomunikasi dengan Prabowo Subianto, eks Danjen Kopassus yang kini menjabat Menteri Pertahanan yang juga yuniornya di baret merah soal Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Papua yang ia sebut OPM.

"Soal Papua itu kalau kita hanya fokus kepada pertempuran regu antigerilya menghadapi gerilya OPM di hutan, tak usah sampai Panglima TNI, itu hanya perkara pertempuran kecil antigerilya. Biar Pak Prabowo saja kirim timnya," kata Jenderal Hendro saat itu.

Sang jenderal pun lantas berkisah. Kata dia, dulu ketika Prabowo masih jadi Danjen Kopassus, sempat membuat tim pasukan dengan kemampuan mengerikan. Tim Kopassus yang dibentuk Prabowo itu, andal untuk menghadapi OPM. "Timnya itu kan sersan, kopral jago-jago, tidak usah kita ke sana yang ngurusinnya," ungkap Hendro.

Intinya, kata Hendro, permasalahan KKSB di Papua ini jangan sampai berlarut-larut. Jika dibiarkan, persoalan di Papua, bisa seperti di Timor-Timur.

"Dulu Tim-Tim itu perjalanannya persis. Ramos Horta main di luar negeri, dia dapat hadiah Nobel, sementara yang bertempur? Saya 74, 75, 77, kapan kalah bertempur? Tidak pernah. Iya kalah iya karena politik dan 25 tahun kemudian kita serahkan Timtim free of charge. Belajarlah yang baik dari sejarah, jangan tidak pernah belajar. Ini, kan, baru kebetulan saya mengalami semuanya. Kami mengalami semuanya. Kalau saya diam saja namanya saya warga negara apatis," tutur Hendro.

(ags/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Agus Supriyatna

Komentar

Komentar
()

Top