Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kampung Terakhir di Singapura Mencoba Bertahan di Tengah Modernisme

24 Sabtu, 29 Mei 2021, 05:42 WIB | Oleh:
Kampung Terakhir di Singapura Mencoba Bertahan di Tengah Modernisme Kampung Terakhir di Singapura Mencoba Bertahan di Tengah Modernisme Doc: AFP/SIMIN WANG
Ket. Kampung Asri l Sng Mui Hong berdiri di luar Kampong Lorong Buangkok yang asri beberapa waktu lalu. Saat ini, Lorong Buangkok merupakan satu-satunya desa terakhir di daratan utama di Singapura.

K

ampung, yang dalam bahasa Melayu berarti desa, bagi Singapura merupakan oasis di negara-kota yang identik dengan kehidupan urbannya. Namun oasis ini kini tinggal tersisa satu-satunya di sebuah lokasi sebelah timur laut Singapura.

Oasis itu adalah Kampong Lorong Buangkok, desa terakhir di Singapura yang masih hidup, di mana sisa-sisa kehidupan era '60-an masih bisa disaksikan.

Di kampung dengan luas tiga hektare itu, tak ada panorama gedung pencakar langit yang lazin dtemukan di setiap penjuru Singapura. Alih-alih bangunan beton tinggi, yang ada adalah bungalow yang tampak seperti dalam sebuah kartu pos kuno.

Ada sekitar 25 rumah kayu berlantai satu dengan atap seng tersebar di sekitar surau di Kampong Lorong Buangkok. Tanaman yang sebelumnya menutupi Singapura, sebelum pembangunan dengan beton yang masif, seperti ketapang, terlihat tumbuh dengan bebas.

Di dekatnya, kabel listrik tergantung di atas kepala dan hal itu merupakan pemandangan yang langka karena sebagian besar kabel listrik di Singapura kini berada di bawah tanah.

Penghuni lansia terlihat duduk di beranda rumah mereka dan paduan suara kicau jangkrik dan koko ayam, menghilangkan polusi suara kota dan memberikan alunan musik pedesaan yang menenangkan.

Hingga awal era '70-an, kampung-kampung seperti Lorong Buangkok ada di mana-mana di seluruh Singapura. Peneliti dari National University of Singapore memperkirakan ada sebanyak 220 kampung yang tersebar di sana. Saat ini, meski hanya sedikit yang masih ada di pulau-pulau sekitarnya dan Lorong Buangkok adalah desa terakhir di daratan utama Singapura.

Sebagai negara muda dengan aspirasi internasional, Singapura mengalami urbanisasi dengan cepat pada era '80-an dan dengan cepat beralih dari ekonomi pertanian ke ekonomi industri.

Ruko yang penuh sesak diganti dengan flat bertingkat tinggi dan gedung pencakar langit yang luas. Masifnya pembangunan membuat harga tanah di pulau itu meroket dan kampung-kampung pedesaan harus menyingkir.

Ratusan desa tradisional dibuldoser, tanaman asli dilucuti, jalur tanah diratakan dan kehidupan asli pedesaan dihancurkan sebagai bagian dari program pemukiman kembali di seluruh pemerintah.

Penduduk desa kemudian digiring ke rumah susun bersubsidi yang dibangun pemerintah yang didirikan di atas lahan tempat rumah lama mereka berada. Saat ini, tercatat ada lebih dari 80 persen orang Singapura tinggal di bangunan rumah susun ini.

Digemari Wisatawan

Salah satu alasan Lorong Buangkok berhasil lolos dari nasib yang menimpa kampung-kampung lain adalah karena kawasan sekitarnya tidak begitu diminati untuk pengembangan komersial, industri, dan pemukiman seperti di tempat lain di Singapura, meski perlahan hal itu berubah.

Alasan lain adalah karena adanya warga yang keras kepala memegang teguh komitmen untuk melestarikan satu-satunya kampung yang masih hidup di Singapura yang bernama Sng Mui Hong, 70 tahun.

Hong telah menjalani hampir seluruh hidupnya di desa. Dia adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan dia adalah satu-satunya anak yang tinggal desa itu. Mendiang ayahnya, seorang penjual obat tradisional Tiongkok, membeli tanah itu pada 1956, tahun yang sama dengan desa itu didirikan dan sembilan tahun sebelum Singapura merdeka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage

UNDP Desak Percepatan Investasi Hijau

29 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
UNDP Desak Percepatan Inves...

Lisa Blackpink Rilis Video Musik “Tarantino”

32 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Lisa Blackpink Rilis Video ...
Luar Negeri
Tiongkok Tetapkan Status Si...

NASA: El Nino 2026 Mirip Peristiwa 1997

47 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
NASA: El Nino 2026 Mirip Pe...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.