Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Krisis di Myanmar

Junta Mulai Sensus Prapemilu

Foto : AFP/Soe Than WIN

Petugas Sensus | Petugas sedang mendatangi warga di Desa Bumay di pinggiran Kota Sittwe, Myanmar, saat dilaksanakan sensus pada Maret 2014 lalu. Jelang pelaksanaan pemilu pada 2025, junta kembali menggelar sensus hingga pertengahan Oktober.

A   A   A   Pengaturan Font

YANGON - Junta Myanmar pada Minggu (1/10) mengumumkan bahwa mereka telah memulai sensus percontohan di 20 kota di seluruh negara yang terpecah tersebut. Menurut para kritikus sensus itu merupakan sebuah langkah yang akan digunakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap oposisi.

Militer telah membenarkan kudeta yang dilakukannya pada tahun 2021 dengan klaim yang tidak berdasar mengenai kecurangan yang meluas pada pemilu 2020 yang dimenangkan secara mutlak oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin oleh pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Pejabat Junta mengatakan sensus nasional harus diselesaikan sebelum pemilu baru, yang menurut pemerintah mungkin akan dilaksanakan pada tahun 2025.

"Kami akan melakukan (sensus) mulai 1 hingga 15 Oktober 2023, di 20 kota yang dipilih di Naypyidaw dan negara bagian serta wilayah lain," demikian pernyataan pejabat junta tanpa merinci wilayah mana saja yang akan dilibatkan. "20 kota otonom ini akan menjadi percontohan," imbuh dia.

Media pemerintah melaporkan sensus percontohan tersebut dimulai di wilayah Karen, Bago, dan Mandalay.

Sementara kritikus mengatakan junta akan menggunakan sensus tersebut untuk meningkatkan pemantauan terhadap penentang kudeta, termasuk ribuan pegawai negeri, dokter, dan guru, yang belum kembali bekerja sebagai bentuk protes.

Saat ini Myanmar masih terpecah belah akibat konflik, dimana warga sipil hampir setiap hari jadi korban dalam ledakan bom dan pertempuran. Militer mengakui bahwa mereka tidak sepenuhnya menguasai wilayah tertentu. AFP/I-1


Redaktur : Ilham Sudrajat
Penulis : AFP

Komentar

Komentar
()

Top