Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Jenderal Pemburu Teroris Berdarah Maluku Ini Ternyata Pernah Ikut Meringkus Imam Samudera

Foto : Istimewa

Densus 88 dan Irjen Martinus Hukom, Kadensus 88/Antiteror Polri.

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Tanggal26 November 2002, pukul 17.30 WIB, menjadi hari sial bagi Imam Samudra alias Hudama alias Abdul Aziz. Salah satu aktor perancang bom Bali II yang menewaskan ratusan orang ini, berhasil disergap Tim Gabungan Antiteror Bom dan Buser Polwil Banten.

Imam Samudra diringkus di atas sebuah bus di Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakauheni. Saat ini Imam hendak kabur menggunakan bus Kurnia jurusan Jakarta-Aceh. Tapi sial, saat bus yang ditumpanginya hendak masuk KMP Nusa Agung di Dermaga I Pelabuhan Merak, serombongan pasukan anti teror langsung menerobosnya masuk bus dan meringkus Imam Samudra.

Imam Samudera pun tak berkutik. Ia ditangkap tanpa perlawanan. Pada 10 September 2003, Imam Samudra divonis mati. Pentolan teroris bom Bali II ini pun sudah dieksekusi. Nah, di balik peristiwa penangkapan Imam Samudra, ada andil seorang polisi yang kini dipercaya jadi komandan Densus 88, pasukan pemburu teroris Polri.

Polisi tersebut, adalah jenderal kelahiran Maluku. Dia adalah Martinus Hukom. Pangkatnya kini telah bintang dua alias sudah Inspektur Jenderal (Irjen). Jenderal Martinus merupakan perwira kelahiranAmeth, Nusalaut, Maluku Tengah, Maluku. Jenderal bintang dua yang lahir pada 30 Januari 1969 ini merupakan lulusan Akpol tahun 1991.

Saat menjadi anggota tim Ditserse Polda Metro Jaya, Martinus adalah polisi yang ikut menyergap Imam Samudra. Atas prestasinya, ia mendapat kenaikan pangkat luar biasa. Kini sang jenderal yang pernah bertugas di BNPT ini didapuk jadi orang nomor satu di Densus 88 Antiteror Polri atau Kadensus 88/Antiteror Polri. Jabatan ini mulai dipegangnya sejak 1 Mei 2020. Martinus juga pernah menjadi Wakadensus 88/Antiteror Polri pada tahun 2018.



(ags/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto

Komentar

Komentar
()

Top