Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Penelusuran Penyakit

Jejak Penyakit dari Plak Gigi

Foto : Universitas McMaster
A   A   A   Pengaturan Font

Tempat terbaik untuk mencari DNA mikroba purba adalah dari plak gigi. Pada plak seseorang yang tidak menyikat gigi dengan benar terdapat residu menempel lalu memerangkap bakteri, yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan gigi dan penyakit gusi.

Residu yang disebut plak itu mengalami proses mineralisasi yang kemudian mengeras, menjebak DNA bakteri dan virus mulut di dalamnya. Dari DNA yang ada digunakan untuk menguraikan kode genom mikroba ini memberi para ilmuwan akses informasi tentang kesehatan manusia di zaman lalu.

Sebuah proyek medis multinasional menggunakan plak gigi manusia untuk mengumpulkan sejarah pengobatan kusta pada abad pertengahan di Eropa. Dipimpin oleh Emanuela Cristiani dari Sapienza University of Rome, tim ini menganalisis karang gigi yang digali dari pemakaman abad pertengahan St Leonard's di Peterborough, Inggris, dan Saint-Thomas d'Aizier, di Prancis.

Tim menemukan jejak jahe pada beberapa individu, menunjukkan bahwa ada upaya yang dilakukan untuk mengobati kondisi tersebut. Misalnya, Constantine the African, seorang dokter terkenal pada abad ke-11 M, menulis tentang menyiapkan pengobatan oral yang mengandung jahe dan tumbuhan lainnya untuk meringankan sakit perut yang dipicu oleh kusta.

Merkuri juga ditemukan pada beberapa pasien, yang dapat digunakan untuk menutupi ketidaksempurnaan kulit dan sebagai salep pereda nyeri. Hal ini menunjukkan bahwa alih-alih hanya menstigmatisasi penderita, para korban juga mendapatkan perawatan.

Mengurutkan DNA gigi tidak hanya memberi tahu tentang penyakit menular apa yang diderita seseorang ketika mereka meninggal. Di masa depan, teknologi ini juga dapat mengungkap mikrobioma mulut seseorang kumpulan bakteri,archaea, dan jamur yang sangat besar dan beragam yang hidup di dalam dan sekitar mulut.

Informasi ini, pada gilirannya, dapat memberi tahu tentang prevalensi penyakit tidak menular (PTM) di zaman dahulu. PTM adalah kondisi kronis yang bukan disebabkan oleh satu agen infeksius saja. Penyakit tersebut termasuk kondisi seperti penyakit jantung, diabetes, rheumatoid arthritis, dan Alzheimer.

"Ada penelitian selama beberapa dekade yang menunjukkan bagaimana kesehatan mulut dan mikrobioma mulut berhubungan dengan kondisi ini," kata Abigail Gancz, antropolog biologi di Pennsylvania State University kepadaBBC.

Dalam sebuah artikel baru-baru ini, Gancz berpendapat bahwa karena hubungan antara mikrobioma mulut dan PTM sudah sangat jelas. Para ilmuwan mungkin dapat menggunakan DNA mikroba purba untuk menyimpulkan apakah populasi manusia purba juga mengalami kondisi ini.

Meskipun penyakit ini sering dianggap sebagai penyakit modern yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, sebenarnya tidak tahu sejauh mana penyakit ini umum terjadi pada populasi nenek moyang manusia. Sayangnya sebagian besar penyakit tidak menular tidak meninggalkan jejak yang jelas pada kerangka manusia. Namun, ada tanda-tanda kehadirannya, meski tidak sebesar saat ini. hay/I-1


Redaktur : Ilham Sudrajat
Penulis : Haryo Brono

Komentar

Komentar
()

Top