Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Jangan Ada Gelombang III

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Namun itu bukan berarti kita baik-baik saja karena jumlah orang yang diperiksa juga turun drastis. Jumlah kasus positif 38.325 tersebut berasal dari 114.674 orang yang diperiksa, artinya positivity rate-nya 33,42 persen, jauh di ambang batas WHO (organisasi kesehatan dunia) sebesar 5 persen.

Jadi selain penurunan jumlah kasus harian, pemerintah seharusnya juga mengejar positivity rate. Positivity rate harus serendah mungkin, harus di bawah standar WHO.

Yang tidak kalah berbahaya adalah kemungkinan terjadinya false negative atau negatif palsu dalam PCR Test terhadap pasien yang diduga terpapar Covid-19. Jangan bayangkan PCR Test itu akurat 100 persen. False negative bisa terjadi saat mengambil swab dilakukan dengan cara yang tidak benar.

Dan yang sulit dideteksi adalah saat kapan pengambilan swab itu dilakukan. Pada awal infeksi, virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 biasanya masih berada di saluran napas atas. Kalau saat itu dilakukan pemeriksaan PCR kemungkinan besar akan terdeteksi positif atau tidak. Tetapi ketika virus tersebut sudah masuk ke paru-paru, maka virus tersebut tidak dapat lagi dideteksi dengan pemeriksaan PCR yang biasanya dilakukan dengan swab tenggorokan dan hidung.

Hasil pemeriksaan yang negatif terhadap orang yang bergejala Covid bisa jadi karena virus tidak terdeteksi, padahal sebenarnya dia sudah terpapar virus SARS CoV-2. Ini sangat berbahaya jika pasien tersebut berkegiatan layaknya orang yang tidak mengidap Covid-19. Ia berpotensi menularkan virus ke orang lain yang ia jumpai.
Halaman Selanjutnya....


Redaktur : Aloysius Widiyatmaka
Penulis : M. Selamet Susanto

Komentar

Komentar
()

Top