Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Jangan Ada Gelombang III

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Jika nanti PPKM Darurat dicabut karena kasus baru sudah turun, sebaiknya kita semua tetap mematuhi protokol kesehatan. Jangan lengah. Jangan sampai ada gelombang ketiga Covid di Indonesia.

Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakast (PPKM) Darurat diperpanjang hingga 25 Juli. Jika tren kasus Covid-19 terus turun pemerintah secara bertahap pada tanggal 26 Juli akan mengizinkan pasar tradisional yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari buka hingga pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung 50 persen.

Kemudian pasar tradisional selain yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari diiznkan buka sampai dengan pukul 15.00 dengan kapasitas maksimal 50 persen. Itu pun dengan menerapkan protokol kesehatan yang pengaturannya ditetapkan oleh pemerintah daerah. Pedagang kaki lima dan usaha kecil diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat sampai dengan pukul 21.00.

Untuk warung makan, pedagang kaki lima, lapak jajanan dan sejenisnya yang memiliki tempat usaha di ruang terbuka diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat sampai pukul 21.00. Waktu makan di tempat untuk setiap pengunjung maksimal 30 menit.

Kita sadar, PPKM Darurat sejak 3 Juli 2021 lalu adalah kebijakan yang tidak bisa dihindari, yang harus diambil pemerintah meski dengan berat hati. Tujuannya jelas untuk menurunkan penularan Covid-19 dan mengurangi kebutuhan masyarakat untuk pengobatan di rumah sakit sehingga tidak membuat lumpuh karena banyaknya pasien yang berobat sehingga pasien dengan gejala kritis, tidak terganggu dan terancam jiawanya.

Dan kita bersyukur setelah dilakukan PPKM Darurat, jumlah kasus menurun. Selama dua hari, Senin (19/7) dan Selasa (20/7) , penambahan kasus Covid-19 di Indonesia sudah kembali di bawah angka 40.000, tepatnya 38.325 kasus, jauh lebih rendah dari rekor tertinggi yaitu 56.757 kasus pada 15 Juli lalu.

Namun itu bukan berarti kita baik-baik saja karena jumlah orang yang diperiksa juga turun drastis. Jumlah kasus positif 38.325 tersebut berasal dari 114.674 orang yang diperiksa, artinya positivity rate-nya 33,42 persen, jauh di ambang batas WHO (organisasi kesehatan dunia) sebesar 5 persen.

Jadi selain penurunan jumlah kasus harian, pemerintah seharusnya juga mengejar positivity rate. Positivity rate harus serendah mungkin, harus di bawah standar WHO.

Yang tidak kalah berbahaya adalah kemungkinan terjadinya false negative atau negatif palsu dalam PCR Test terhadap pasien yang diduga terpapar Covid-19. Jangan bayangkan PCR Test itu akurat 100 persen. False negative bisa terjadi saat mengambil swab dilakukan dengan cara yang tidak benar.

Dan yang sulit dideteksi adalah saat kapan pengambilan swab itu dilakukan. Pada awal infeksi, virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 biasanya masih berada di saluran napas atas. Kalau saat itu dilakukan pemeriksaan PCR kemungkinan besar akan terdeteksi positif atau tidak. Tetapi ketika virus tersebut sudah masuk ke paru-paru, maka virus tersebut tidak dapat lagi dideteksi dengan pemeriksaan PCR yang biasanya dilakukan dengan swab tenggorokan dan hidung.

Hasil pemeriksaan yang negatif terhadap orang yang bergejala Covid bisa jadi karena virus tidak terdeteksi, padahal sebenarnya dia sudah terpapar virus SARS CoV-2. Ini sangat berbahaya jika pasien tersebut berkegiatan layaknya orang yang tidak mengidap Covid-19. Ia berpotensi menularkan virus ke orang lain yang ia jumpai.

Ada baiknya kita memakai prinsip bahwa setiap gejala Covid-19 yang kita alami, demam, flu, atau radang tenggorokan, hendaknya kita anggap bahwa kita positif Covid-19 meski hasil pemeriksaan menyatakan kita negatif sampai terbukti kita benar-benar negatif. Jangan beranggapan, ah itu hanya flu biasa. Itu hanya batuk biasa. Ini bukan ketakutan yang berlebihan karea bisa menurunkan imun kita..

Baca Juga :
Klaster Baru Lebaran

Karena itu, jiba nanti PPKM Darurat dicabut karena kasus baru sudah turun, sebaiknya kita semua tetap mematuhi protokol kesehatan. Jangan lengah. Jangan sampai ada gelombang ketiga Covid di Indonesia.

(wid/G-1)
Redaktur : Aloysius Widiyatmaka
Penulis : Aloysius Widiyatmaka

Komentar

Komentar
()

Top