Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Edisi Weekend Foto Video Infografis
Kemiskinan Ekstrem

Intervensi Pengendalian Kerawanan Pangan Bukan Solusi Permanen

Foto : ISTIMEWA

YB. SUHARTOKO Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta - Oleh karena itu, pendekatan terhadap kelompok rawan pangan jangan sekadar karitatif saja yang juga menimbulkan risiko ketergantungan masyarakat kepada pemerintah.

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Upaya Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di seluruh Indonesia dengan menggencarkan intervensi pengendalian kerawanan pangan ke keluarga rentan dinilai hanya bersifat sesaat, bukan solusi permanen. Sebab, intervensi hanya terasa saat menerima bantuan dan setelah program tersebut selesai, maka mereka akan kembali jatuh dalam jurang kemiskinan ekstrem.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB. Suhartoko, di Jakarta, Senin (17/6), mengatakan pemberian bantuan pangan kepada keluarga rawan pangan dalam jangka sangat pendek memang akan mempercepat penghapusan kemiskinan ekstrem, namun bisa jadi sangat sementara, apabila tidak dicari akar masalahnya.

Baca Juga :
Penanganan Kemiskinan

Menurut Suhartoko, penyebab kemiskinan ekstrem bukan sekadar pendapatan saja, tetapi akses pasar, biaya yang tinggi untuk mencapai tempat kerja, jumlah tanggungan keluarga, lingkungan yang tidak sehat, keterampilan yang dimiliki, dan berbagai variabel lain.

"Oleh karena itu, pendekatan terhadap kelompok rawan pangan jangan sekadar karitatif saja yang juga menimbulkan risiko ketergantungan masyarakat kepada pemerintah. Keluarga rawan pangan perlu ditingkatkan menjadi keluarga yang mandiri," tegas Suhartoko.

Peran pemerintah lebih pada fungsi fasilitator dengan memberi pendampingan dan konsultasi. "Kelembagaan masyarakat yang bersifat gotong royong perlu didorong untuk menjadi katalisator perubahan masyarakat," katanya.
Halaman Selanjutnya....


Redaktur : Vitto Budi
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini

Komentar

Komentar
()

Top