Kawal Pemilu Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Inflasi Jerman Mereda, Euro Terangkat, Dolar AS Anjlok

Foto : ANTARA/REUTERS/Kacper Pempel

Gambar ilustrasi uang kertas dolar AS, franc Swiss, pound Inggris dan euro, diambil di Warsawa 26 Januari 2011.

A   A   A   Pengaturan Font

NEW YORK - Dolar AS jatuh ke level terendah satu minggu terhadap euro pada akhir perdagangan Kamis (30/3) atau Jumat pagi WIB, karena data inflasi Jerman membantu mengangkat mata uang bersama atau euro di tengah kekhawatiran terhadap sektor perbankan surut.

Inflasi mereda secara signifikan di Jerman pada Maret, karena harga energi yang lebih rendah tetapi di atas perkiraan, menambah tekanan pada Bank Sentral Eropa (ECB) untuk lebih memperketat kebijakan moneternya.

Secara terpisah, data menunjukkan bahwa harga konsumen Spanyol naik 3,3 persen secara tahun ke tahun pada Maret, laju paling lambat sejak periode 12 bulan hingga Agustus 2021 dan kurang dari yang diharapkan oleh para analis.

Bank Sentral Eropa, yang telah memperjelas kenaikan suku bunga di masa depan akan tergantung pada data ekonomi, telah meningkatkan suku bunga simpanan utama sebesar 350 basis poin menjadi 3,0 persen sejak Juli ketika berusaha menjinakkan inflasi yang melonjak.

"Ada perbedaan yang berkembang antara ECB dan Fed yang akan membebani dolar," kata Bipan Rai, kepala strategi valas Amerika Utara di CIBC Capital Markets di Toronto.

"(Data inflasi Eropa) menunjukkan ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan ECB dan itu dapat menutup kesenjangan suku bunga kebijakan antara ECB dan Fed ke depan," katanya.

Pekan lalu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, seperti yang diharapkan, tetapi mengambil sikap hati-hati terhadap prospek karena gejolak sektor perbankan.

"Kami percaya pilar utama penguatan dolar AS tahun lalu pengetatan agresif oleh Federal Reserve dan ekonomi AS yang tangguh tidak mungkin mendukung mata uang ke depan," Mark Haefele, kepala investasi di UBS Global Wealth Management, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis (30/3).

Haefele merekomendasikan peningkatan eksposur untuk memilih mata uang G10, termasuk dolar Australia, yen Jepang, dan franc Swiss.

Pada Kamis (30/3), euro menguat 0,55 persen pada 1,09035 dolar, tertinggi sejak 23 Maret. Untuk tahun ini, euro naik hampir 2,0 persen setelah merosot 5,7 persen pada tahun 2022.

"Euro dilanda badai kejutan yang sempurna hampir sepanjang tahun lalu, tetapi segala sesuatinya telah berubah jauh lebih positif sekarang," kata ahli strategi di BofA Global Research dalam sebuah catatan.

"Namun, kami memperingatkan bahwa pasar sekali lagi berjalan dengan sendirinya, memperkirakan pemotongan awal suku bunga Fed, denganre-pricingkemungkinan akan membebani euro/dolar dalam jangka pendek," tulis para ahli strategi.

Data pada Kamis (30/3) menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran naik moderat minggu lalu, belum menunjukkan tanda-tanda bahwa kondisi pengetatan kredit memiliki dampak material pada pasar tenaga kerja AS, yang tetap ketat.

Indeks dolar, yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,468 persen menjadi 102,16.

Pound naik 0,58 persen terhadap dolar, mendorong kenaikan hampir 3,0 persen untuk Maret, kinerja bulanan terkuat sejak November, karena inflasi utama di Inggris tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.

Di pasar uang kripto, bitcoin turun sekitar 1,6 persen menjadi 27.913 dolar AS, setelah naik ke level tertinggi hampir 1 minggu di 29.170 dolar AS di awal sesi.

Mata uang digital berada di bawah tekanan baru-baru ini karena investor khawatir atas bursa kripto Binance dan kepala eksekutifnya Changpeng Zhou dituntut oleh Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC) AS atas pelanggaran peraturan.


Redaktur : Lili Lestari
Penulis : Antara

Komentar

Komentar
()

Top