Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Impor Beras

Foto : ANTARA/Oky Lukmansyah
A   A   A   Pengaturan Font

Sudah berulang kali Presiden Joko Widodo menggaungkan agar kita mencintai produk dalam negeri. Itu artinya, kita harus menekan impor guna mengembangkan industri dalam negeri sekaligus memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Seruan Presiden kembali dikumandangkan awal bulan Maret ini yang meminta agar kampanye mencintai produk-produk Indonesia terus digaungkan supaya masyarakat loyal terhadap karya anak bangsa. Dan ajakan Presiden langsung disambut Menteri Perdagangan, M Lutfi, yang akan menyiapkan aturan khusus agar masyarakat semakin banyak membeli produk dalam negeri.

Namun sayangnya, di saat yang hampir bersamaan, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, berencana mengimpor beras sebanyak 1-1,5 juta ton. Hal itu dilakukan demi menjaga ketersediaan di dalam negeri supaya harga tetap stabil.

Rencana tersebut tampaknya tidak akan berjalan mulus. Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, menegaskan bahwa Bulog akan memprioritaskan penyerapan produksi gabah petani dalam negeri untuk memenuhi stok cadangan beras pemerintah ketimbang impor seperti yang diminta Menko Perekonomian. Alasannya, saat ini sedang panen raya di berbagai wilayah di Indonesia. Walau mendapat tugas impor satu juta ton, Bulog belum tentu melaksanakan karena tetap memprioritaskan produk dalam negeri yang sekarang sedang mencapai puncak panen raya.

Apalagi stok beras pemerintah dinilai masih cukup untuk kebutuhan penjualan, program kesejahteraan sosial anak dan tanggap darurat bencana sesuai dengan kebutuhan Perum Bulog. Per 14 Maret 2021, total stok beras di gudang Bulog sebanyak 883.585 ton dengan rincian 859.877 ton merupakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 23.708 ton merupakan stok beras komersial. Jumlah stok beras tersebut termasuk sisa beras impor tahun 2018 yang sebagian sudah mengalami turun mutu. Tentu Bulog akan kewalahan menyalurkannya jika harus melakukan impor lagi sebanyak 1-1,5 juta ton.

Mengingat hal-hal di atas, pemerintah sebaiknya mengurungkan niat impor beras. Apalagi sejak beredar informasi impor beras, harga gabah di sejumlah daerah langsung terjun bebas. Rencana impor beras semakin membuktikan tidak ada keberpihakan pemerintah terhadap petani. Petani menjerit. Di hulu, mereka sudah kesulitan mendapatkan pupuk subsidi, kini giliran panen dengan harapan mendapat keuntungan malah sirna.

Pemerintah seolah tidak banyak belajar dari kejadian 2018 lalu. Kala itu, dengan tingkat produksi yang bisa dikatakan tidak buruk, datangnya beras impor membuat CBP naik menjadi 4 juta ton dan Bulog pun kewalahan mengelola stok sebanyak itu. Akibatnya harga turun, bahkan terendah selama sembilan bulan terakhir.

Memang aneh juga, di satu sisi Presiden Joko Widodo meminta kita untuk mencintai produk dalam negeri, tetapi di sisi lain, ada rencana impor beras dalam jumlah besar di saat panen raya. Untuk apa ada anggaran puluhan triliun guna mendorong produksi, tetapi ujung-ujungnya impor juga. Kita berharap pemerintah mau mendengar jeritan petani dengan meninjau ulang rencana impor beras.




Redaktur : M. Selamet Susanto
Penulis : M. Selamet Susanto

Komentar

Komentar
()

Top