Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Eksperimen Konser Musik di Inggris di Tengah Pandemi Covid, Tanpa Masker, Tanpa Jaga Jarak

Foto : BBC/EPA
A   A   A   Pengaturan Font

Ribuan orang berpartisipasi dalam eksperimen konser musik yang digelar di Liverpool, Inggris. Untuk satu malam, mereka merasakan lagi masa-masa indah sebelum pandemi.

LIVERPOOL - Eksperimen konser musik yang digelar di Liverpool pada Minggu (2/5) mengumpulkan ribuan orang secara legal berdesakan di ruang kecil di Inggris, pertama kali sejak pandemi menyebar Maret tahun lalu. Mereka mengalami euforia malam itu.

Ini adalah pemandangan yang banyak diingat banyak orang muda dan memudar selama 13 bulan terakhir. Momen ini membawa lagi gegap gempita yang terjadi pada masa pra-Covid dengan sekitar 5.000 orang penggemar musik, berjoget, melompat, dan bernyanyi bersama.

Tidak ada masker. Tidak ada jarak sosial. Tidak ada aturan. Tidak ada risiko denda. Hanya bersenang-senang dengan teman Anda, minum bir dari gelas kertas, mengantri ke toilet portabel, kehujanan dan mendengarkan musik live dalam huru-hara orang asing yang mendengar, melihat dan merasakan hal yang sama seperti Anda. Seperti dulu. Dan semoga saja akan terjadi lagi di masa mendatang.

Festival musik mini yang digelar di Sefton Park, Liverpool tersebut adalah salah satu acara uji coba resmi pemerintah Inggris untuk meneliti seberapa besar kerumuman besar dapat berlangsung secara aman lagi.

Semua pemegang tiket harus mengikuti tes yang diawasi di salah satu dari empat pusat pengujian di kota sehari sebelumnya, dan hanya diizinkan masuk jika tesnya negatif.

Mereka juga sangat dianjurkan untuk melakukan tes PCR yang lebih sensitif pada hari pertunjukan dan melakukannya lagi lima hari kemudian, pada Jumat (7/5) mendatang. Langkah ini sangat penting untuk mengetahui apakah ada penyebaran virus.

Para ilmuwan juga mempelajari faktor-faktor lain, seperti pergerakan dan interaksi penonton, ventilasi, durasi, katering, dan konsumsi alkohol.

Selama festival berlangsung, orang-orang misterius dengan papan klip berkeliaran membuat catatan. Semuanya bertujuan untuk mengetahui bagaimana festival musik musim panas dapat berlangsung setelah 21 Juni, tanggal dilonggarkannya semua pembatasan oleh pemerintah Inggris, yang secara teori, menjadi akhir dari pembatasan kontak sosial.

Ketika gerbang di Sefton park dibuka pada Minggu (2/5) pukul 16.30 waktu setempat, orang pertama yang masuk ke area itu langsung melepas maskernya dengan penuh kelegaan.

Pada pukul 17.30, sebelum band-band memulai aksi mereka, segerombolan orang telah berkerumun di depan panggung, tempat di mana seorang DJ memainkan lagu-lagu indie yang menjadi lagu kebangsaaan mereka.

Mereka tidak hanya berdekatan, lengan diangkat, gelas kertas mulai beterbangan kala lagu Common People milik salah satu band indie Inggris, Pulp, mulai dimainkan. Pukul 18.30, penyanyi-penulis lagu Liverpool, Zuzu mulai beraksi.

"Halo!," sapanya, dan kerumunan yang haus akan stimulasi meraung seolah-olah dia telah mencetak gol kemenangan dalam pertandingan derby antara klub-klub sepakbola Liverpool.

"Konser ini rasanya seperti tidak nyata," katanya tentang pengalaman yang baru saja dilaluinya. "Rasanya seperti melompat keluar dari pesawat. Jantungku berdebar kencang. Pengalaman ini sangat emosional. Saya mencoba untuk tetap bersama di atas panggung. Tapi selama lagu terakhir saya tersendat, dan ketika saya turun dari panggung, saya bahkan tidak malu untuk mengakui bahwa saya menangis. Saya menangis. Sungguh menakjubkan," ungkap Zuzu.

Penonton semakin bersemangat saat band indie Blossoms yang menduduki puncak tangga lagu Inggris beraksi dua jam kemudian.

Konser uji coba ini semestinya menguji pertunjukan "normal", tetapi jumlah energi terpendam yang dilepaskan, dan tensi yang dilepaskan, membuat atmosfer menjadi lebih tinggi daripada biasanya di tahun-tahun sebelum pandemi.

"Konser ini jauh lebih seru dari biasanya," kata seorang penggemar musik, Aneesa Habib, 19 tahun. "Sungguh gila bisa kembali bersama banyak orang," kata temannya Joby Mathew, 20 tahun. "Sungguh luar biasa. Berada di tengah semua orang, hanya bergerak, Anda merasa seperti Anda bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri Anda sendiri," imbuh dia.

Pengunjung festival musik, Jack Young, yang berusia 21 tahun, mengatakan berada di sebuah acara tanpa batasan adalah seperti ada beban yang diangkat dari pundak semua orang.

Pengunjung lainnya bernama Chloe berkata: "Senang rasanya berada pada momen ini. Anda merasa hidup kembali. Kami membutuhkan lebih banyak. Saya sangat merindukannya."

Sementara Alex Druce, yang berusia 26 tahun berkata rasanya seperti mengalami kilas balik ke dua tahun lalu. Dia menambahkan: "Rasanya seperti kembali ke keadaan dulu. Kita pada dasarnya sudah seperti binatang yang dikurung selama sekitar dua tahun, bukan?"

Beberapa dari mereka yang menghadiri eksperimen konser itu mengaku merasa cemas berada dalam kerumunan lagi setelah sekian lama. Betapapun, proses pengetesan pada umumnya terbukti meyakinkan, dan kesuksesannya akan membantu menentukan apakah konser semacam ini dapat dilakukan lagi.

Konser berdurasi enam jam itu menyusul uji coba lainnya di dua klub malam, yang dihadiri 3.000 orang tiap malam pada Jumat dan Sabtu lalu. Eksperimen konser musik ini diselenggarakan Festival Republik, promotor yang menggelar sejumlah festival musik di Inggris seperti Reading, Leeds dan Latitude.

"Kami telah bekerja sangat keras untuk melakukan semuanya dengan benar di belakang layar - semua pengetesan - untuk menciptakan suasana yang tidak terasa steril dan tidak terasa seolah-olah Anda sedang dalam pengujian atau pertunjukan percontohan atau eksperimen," kata direktur pelaksana Melvin Benn. "Dan kami telah menciptakan suasana yang akan diingat orang mulai tahun 2019. Orang akan berpikir, inilah yang telah mereka lewatkan," imbuh dia.

Sejumlah festival, seperti Glastonbury, yang rencananya digelar musim panas nanti telah dibatalkan, sedangkan festival lain masih menanti kepastian.

"Banyak sekali festival yang bersandar pada kesuksesan ini," kata Benn. "Secara ekonomi [nilainya] sangat besar, tapi juga sangat besar dari sudut pandang emosional, dari sudut pandang kesejahteraan manusia. Saya telah melihat orang-orang menangis di sini dengan penuh emosi ketika melihat orang lagi, dan saya takut jika kita tidak membawanya kembali, isolasi yang dialami banyak orang hanya akan menjadi tak tertahankan," imbuh dia.

Nasib dari musim festival musik yang akan datang tidak hanya bergantung pada kemampuan untuk membuktikan bahwa acara seperti ini bisa aman. Penyelenggara juga meminta pemerintah untuk memberikan jaminan jika ada lonjakan kasus Covid lain dan festival harus dibatalkan dalam waktu singkat, setelah menghabiskan banyak uang untuk persiapan.

"Sebenarnya, kecuali pemerintah menyediakannya, ada kerentanan nyata selama sisa musim panas," kata Benn.

Dia mengundang Menteri Kesenian Inggris, Caroline Dinenage, untuk melihat sendiri eksperimen konser musik di Sefton Park. Berbicara di lokasi festival musik itu, Dinenage mengatakan jaminan pemerintah terkait penyelenggaraan acara seperti ini masih dalam agenda dan dibicarakan dengan Kementerian Keuangan. Ia juga menambahkan: "Jika kami bisa, kami ingin melakukannya."

Reading dan Leeds, festival musik terbesar yang tersisa di kalender musim panas ini, telah terjual habis.

Ditanya apakah festival itu bisa digelar tanpa jaminan persetujuan pemerintah, Benn mengangkat bahu dan tidak berkomentar.

Di panggung, seiring Blossom memainkan musik pembuka lagu terakhir mereka Charlemagne, seseorang di kerumunan menyalakan suar, lebih banyak orang lagi memeluk bahu temannya dan lebih banyak tangan dinaikkan ke udara.

"Kita akan bertemu lagi segera," janji vokalis Blossom, Tom Ogden, seiring dengan berakhirnya lagu itu, meninggalkan kerumunan yang satu per satu beranjak pergi, kembali ke kenyataan. BBC/I-1


Redaktur : Ilham Sudrajat
Penulis : Ilham Sudrajat

Komentar

Komentar
()

Top