Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Dahsyat, 14 Orang Pemberani Ini Siap Berantas Kejahatan Jalanan Malam di Yogya

Foto : Istimewa

Ilustrasi kejahatan jalanan.

A   A   A   Pengaturan Font

YOGYAKARTA - Pembaca pasti sering membaca adanya kejahatan malam di jalanan Yogyakarta yang menyasar korban secara acak. Tak main-main, sering kali korban meninggal dunia atau bahkan cacat tetap. Berlangsung puluhan tahun, kejahatan yang sering disebut sebagai klitih ini sulit sekali diberantas oleh pihak berwajib.

Harus diakui, selama ini aparat berwajib dan pemerintah sudah terus berupaya menangani kejahatan jalanan ini. Akan tetapi, persoalan ini lebih dari tanggung jawab satu pihak.

Karena itulah, sejumlah masyarakat di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membentuk sebuah komunitas Jawil Jundil pada Maret 2020 lalu yang siap membantu aparat kepolisian memberantas kejahatan jalanan malam atau klitih.

"Kita anggota inti 14. Untuk secara keseluruhan ada sekitar 250 se-Sleman," ujar Yoga Restu AD, salah seorang anggota inti, di Yogyakarta, Kamis (17/6)

Yoga mengatakan bahwa komunitas ini tak punya motif apa-apa kecuali membawa ketenangan bagi kehidupan warga DIY. Para anggota yang tersebar di empat sektor mulai dari barat, utara, timur, dan selatan ini saling berkomunikasi melalui grup WhatsApp. Mereka juga terkadang standby di titik-titik yang dinilai rawan kejahatan.

"Bukan karena gagah-gagahan tapi karena prihatin dan murni memgakomodasi karakter kerelawanan teman-teman, istilahnya memang tanpa pamrih panggilan hati prihatin dengan keadaan ini. Biar Jogja itu nyaman, kondusif," tandasnya.

Dia menceritakan penamaan Jawil Jundil itu dari perumpamaan bahasa Jawa. Artinya, ketika ada hal yang dirasa mengindikasikan kejahatan komunitas akan dengan segera cepat merespons. Termasuk apabila ada informasi yang masuk ke anggota soal indikasi klitih segera disampaikan ke pihak berwajib.

"Setahun ini kita sudah menangkap klitih dua kali. Itu sudah standar SOP tersangka sudah kita serahkan ke Polsek," ujarnya.

Selain itu pihaknya juga sering menengahi tawuran seperti antar desa. Dengan komunikasi yang baik persoalan antar kedua belah pihak bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

"Kemarin juga kita menangani pendamaian 5 desa terlibat di situ biar tidak terjadi perkembangan yang saling (bentrok) agar dikondisikan," ujarnya.

Meski tidak mengedepankan kekerasan para anggota terutama 14 anggota inti ini memiliki dasar kemampuan bela diri. Hal itu untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.

Sejauh ini komunitas tersebut baru ada di Sleman. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan akan di wilayah lain seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

Dia pun menegaskan komunitas ini tidak hanya soal pencegahan klitih saja. Namun, juga kegiatan sosial lain.

"Jadi JJ itu sebenarnya tidak untuk klitih aja tapi untuk giat kita itu Jumat berkah juga ada," katanya.

Pembina Jawil Jundil (JJ), Waljito mengatakan pihaknya telah berkunjung ke Polres Sleman. Harapannya aksi peduli ini bisa menjadi sumbangsih dalam pencegahan klitih.

"Kita itu ingin membantu masyarakat dalam rangka mengurangi keresahan yang saat ini sedang terjadi terkait dengan klitih," kata Waljito.

Dia pun selalu menegaskan bahwa JJ merupakan komunitas masyarakat seperti yang lain dan bukan hakim jalanan. Untuk itu dia menilai perlu bersinergi dengan kepolisian.

Di sisi lain dia berharap agar kepolisian, pakar kriminolog, pemerintah daerah bisa terus mencari formula menangani klitih.

"Karena kan klitih ini simultan, tidak hanya kepolisian, relawan tapi juga kebijakan," pungkasnya.


Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Eko S

Komentar

Komentar
()

Top