Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Covid-19 di India Jadi Pembelajaran

Foto : Prakash SINGH / AFP

Family members and ambulance workers in PPE kits (Personal Protection Equipment) carry the bodies of victims who died of the Covid-19 coronavirus at a crematorium in New Delhi on April 27, 2021.

A   A   A   Pengaturan Font

India, yang awalnya dipandang sebagai panutan bagi negara-negara berkembang dalam menahan virus, kini runtuh di bawah pengaruh wabah terbaru.

S

ituasi Covid-19 di India saat ini sangat memilukan. Berbagai kisah tragis terjadi, warga mulai frustasi.

Seorang anak tega menelantarkan ibunya yang menderita Covid-19 di jalanan di Kanpur, Uttar Pradesh, karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Kisah pilu muncul silih berganti saat negara itu dihantam "tsunami" kedua pandemi Covid-19. Seorang pria bunuh diri dengan meloncat dari atap rumah sakit di Bengal Barat, Sabtu (24/4) waktu setempat. Laki-laki itu bunuh diri setelah dinyatakan positif Covid-19 pada 22 April.

Gelombang penularan yang diyakini disebabkan mutasi ganda itu membuat sistem kesehatan kewalahan, dan krematorium bekerja ekstra keras membakar jenazah.

Ibu Kota New Delhi harus menerapkan lockdown demi mengurangi penularan. Setiap menit, empat orang meninggal di negara dengan populasi 1,3 miliar itu.

Pejabat di New Delhi diinstruksikan menebang pohon di taman kota untuk membantu memenuhi kebutuhan kayu proses kremasi korban Covid-19, seiring peningkatan kematian yang meroket di seluruh negeri.

Kini, India menjadi episentrum baru penularan korona yang total telah membunuh tiga juta orang di seluruh dunia itu.

Sejak Covid-19 pertama terdeteksi di Tiongkok akhir 2019, 147 juta orang di dunia terpapar, dengan 3,1 juta di antaranya meninggal. Saat ini terdapat kenaikan kasus skala global dalam sembilan pekan terakhir.

Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara yang paling parah terdampak di dunia, dengan 32 juta kasus dan 572.200 kematian. Meski begitu, India terus mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir, dengan lebih dari 195.000 kematian.

Pada Senin (26/4) saja, rival Pakistan itu melaporkan 352.991 kasus infeksi dan 2.812 korban meninggal. Pertumbuhan eksponensial itu benar-benar mencengangkan.

Pemerintah India mendapat banyak kritikan karena dianggap lengah dan terlalu cepat percaya diri dengan mengizinkan berbagai kegiatan keagamaan dan politik ketika kasus Covid-19 sempat turun ke angka di bawah 10 ribu per hari.

Pemerintah India membiarkan orang berkumpul dalam jumlah besar untuk festival keagamaan Kumbh Mela di utara kota Haridwar. Sekitar lima juta peziarah Hindu datang dari berbagai daerah ke festival itu. Sebagian besar yang datang ke acara itu tidak mengenakan masker.

Kini, para dokter dan warga banyak yang putus asa untuk mendapatkan tabung oksigen untuk pasien mereka yang sekarat. Cuitan di media sosial pun ramai meminta pertolongan. Masyarakat India beralih ke pasar gelap ketika kebutuhan medis di rumah sakit tidak tersedia.

Di tengah himpitan dan tekanan ekonomi, mereka harus membayar dengan harga berkali lipat. Tabung gas yang biasanya seharga 1,2 juta rupiah, harus merogoh kantongnya menjadi 9,7 juta rupiah untuk satu tabung oksigen.

India, yang awalnya dipandang sebagai panutan bagi negara-negara berkembang dalam menahan virus, kini runtuh di bawah pengaruh wabah terbaru.

Masyarakat Indonesia harus menjadikan "tsunami" Covid-19 di India ini sebagai pelajaran agar kasus serupa tidak terulang di negeri kita.

Meningkatnya kasus Covid-19 di India disebabkan kurang ketatnya kebijakan dari pemerintah dan tidak disiplinnya masyarakat untuk menerapkanprotokol kesehatan.

(ril/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto

Komentar

Komentar
()

Top