Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Biaya Tes Antigen Masih Mahal

Foto : ANTARA FOTO/Siswowidodo/hp

Petugas kesehatan Polres Madiun melakukan tes usap Antigen COVID-19 pada seorang pengunjung objek wisata Waduk Bening Saradan di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (29/5/2021). Polres Madiun menggelar tes usap Antigen COVID-19 dan rapid test antibodi di ruang publik secara acak diprioritaskan pada pelanggar protokol kesehatan guna pengendalian penyebaran COVID-19.

A   A   A   Pengaturan Font

Dengan tarif tes antigen yang semakin terjangkau dan masuk akal, diyakini banyak warga yang secara sukarela ­memeriksakan dirinya, bukan karena terpaksa.

Kampanye masif yang dilakukan pemerintah akan pentingnya 3M, menggunakan masker, encuci tangan, dan menjaga jarak guna memutus mata rantai penularan Covid-19 boleh dibilang cukup berhasil. Kini, sebagian besar warga secara sadar sudah banyak yang melakukan hal itu. Kalau pun lengah atau abai, begitu diingatkan dengan senang hati mereka menurut.

Tentu saja 3M saja harus diikuti dengan 3T, yaitu testing (pemeriksaan dini), tracing (pelacakan), dan treatment (perawatan). Sayangnya pemahaman masyarakat terhadap 3T tidak sebagus 3M, padahal keduanya adalah satu paket.

Buktinya, masyarakat masih enggan berinisiatif memeriksakan apakah dirinya tertular virus Covid-19 atau tidak. Kalau sudah tidak mau tes awal, bagaimana kita bisa melacak apalagi melakukan perawatan.

Ada yang beranggapan, engganya masyarakat melakukan pemeriksaan dini karena takut stigma buruk. Orang yang positif Covid banyak dilakukan berbeda, dilecehkan, dan didiskriminasi. Itu ada benarnya, tetapi jumlahnya makin hari makin berkurang. Masyarakat semakin sadar bahwa penyakit ini tidak ada kaitannya dengan perilaku negatif sesorang ataupun kutukan.

Karena itu pemerintah harus lebih gencar lagi mengkampanyekan 3T seperti mengkampanyekan 3M pada masa awal pandemi. Dan yang sudah menjadi rahasia umum, hambatan utama pelaksanaan 3T adalah mahalnya biaya pemeriksaan. Meski pemerintah sudah menetapkan batas atas biaya rapid test antigen sebesar Rp 250.000, namun masih ada beberapa lembaga pelayanan kesehatan yang memasang tarif lebih tinggi dari itu.

Kalau toh ada orang yang mau tes antigen, bukan karena kesadaran tetapi terpaksa karena akan melakukan perjalanan. Atau juga karena akan menghadiri suatu acara yang mensyaratkan surat bebas Covid-19.

Seandainya pemerintah mau menurunkan tarif batas atas pemeriksaan antigen, misalnya 100 ribu rupiah atau 125 ribu rupiah saja, mungkin akan lebih banyak orang yang secara sukarela memeriksakan diri. Dengan pemeriksaan dini, bukan saja menyelamatkan jiwanya, tetapi juga bisa menyelamatkan keluarga, kerabat, teman, maupum orang lain dari kemungkinan tertular Covid-19 darinya. Kalau sudah tidak testing, bagaimana mau tracing dan treatment?

Memang saat pemerintah menentukan tarif tertinggi rapid test antigen sebesar 250 ribu rupiah telah melalui pertimbangan matang meliputi semua komponen, mulai dari biaya dokter, tenaga kesehatan pengambilan swab, pengolahan, tenaga administrasi, dan termasuk juga biaya alat-alat yang hanya sekali pakai. Namun yang mengherankan, ada beberapa klinik layanan kesehatan di Jakarta Selatan yang memasang tarif rapid test antigen sebesar 79 .000 rupiah. Dengan harga 79.000 rupiah saja sudah untung, kenapa ada yang pasang tarif sampai dengan 350.000 rupiah?

Tarif tertinggi 250.000 rupiah masih terlalu mahal. Karena itu, pemerintah harus segera menetapkan batasan tarif tertinggi rapid test antigen-swab yang baru. Tidak juga harus 79.000 rupiah, tetapi juga jangan 250.000 rupiah.

Dengan tarif tes antigen yang semakin terjangkau dan masuk akal, diyakini banyak warga yang secara sukarela memeriksakan dirinya, bukan karena terpaksa. Dengan melakukan pemeriksaan dini (testing) maka tracing dan treatment akan lebih mudah dilakukan dan rantai penyebaran covid-19 bisa diredam.

(ruf/N-3)
Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Muhamad Ma'rup

Komentar

Komentar
()

Top