Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

BI Proyeksikan Inflasi Inti Kembali ke Sasaran pada Kuartal III 2023

Foto : ANTARA/Citro Atmoko

Direktur Depertemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho memberIkan keterangan kepada awak media di Ubud, Bali, Sabtu (1/10).

A   A   A   Pengaturan Font

UBUD - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi inti yang saat ini dalam tren kenaikan akan kembali ke kisaran target bank sentral yakni tiga persen plus minus satu persen pada kuartal ketiga tahun depan.

"Kami yakini dengan langkah-langkah stabilisasi yang kami lakukan saat ini paling tidak pada triwulan III 2023 nantinya inflasi inti akan kembali ke kisaran sasaran tiga persen plus minus satu persen," kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho saat diskusi dengan awak media di Ubud, Bali, Sabtu (1/10).

Inflasi Agustus 2022 tercatat sebesar 4,69 persen (yoy) seiring dengan meningkatnya inflasi kelompok harga diatur pemerintah atau administered prices yang sebesar 6,84 persen (yoy) dan inflasi inti yang menjadi 3,04 persen (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya 2,86 persen (yoy).

Tekanan inflasi diperkirakan meningkat didorong oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah masih tingginya harga energi dan pangan global.

Inflasi inti dan ekspektasi inflasi diprediksi meningkat akibat dampak lanjutan atau second round effect dari penyesuaian harga BBM dan menguatnya tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Berbagai perkembangan tersebut diperkirakan mendorong inflasi tahun 2022 melebih batas atas sasaran tiga persen plus minus satu persen. Pada akhir 2022, BI memperkirakan inflasi inti dapat mencapai 4,6 persen (yoy).

Oleh karena itu, diperlukan sinergi kebijakan yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan BI, baik dari sisi pasokan maupun sisi permintaan untuk memastikan inflasi kembali ke sasarannya.

Wahyu menyampaikan, salah satu masalah yang sekarang sedang berusaha untuk diselesaikan adalah tekanan inflasi dari sisi inflasi pangan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (Gernas PIP).

Gernas PIP menjadi langkah komitmen bersama untuk mengoptimalkan langkah-langkah pengendalian inflasi dari sisi suplai dan mendorong produksi guna mendukung ketahanan pangan secara integratif, masif, dan berdampak nasional.

"Ini sudah kita implementasikan di banyak daerah dan hasilnya seperti kita lihat inflasi volatile food pada September sudah mulai menurun dibandingkan sebelumnya. Yang dulunya double digit sekarang sudah 8 persen dan harapannya nanti inflasi volatile food ini bisa turun sampai 6 persen atau bahkan 5 persen," ujar Wahyu.


Redaktur : Lili Lestari
Penulis : Antara

Komentar

Komentar
()

Top