Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Bencana Alam di NTT

Foto : ANTARA/Aditya Pradana Putra
A   A   A   Pengaturan Font

Bencana alam banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang telah meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (4/4).

Sebelas daerah di NTT mengalami kerusakan parah, yakni Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Malaka Tengah, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Ende. Sementara itu, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ada Kabupaten Bima yang terdampak.

Memasuki hari ketiga pascabencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 117 orang meninggal dunia. Selain korban meninggal, sebanyak 76 orang dinyatakan hilang dan 123 orang luka-luka. Lalu, sebanyak 2.683 jiwa dinyatakan terdampak.

Pemerintah, baik pusat dan daerah, masih terlihat gagap dalam menanganibencanadi NTT. Kegagapan tersebut dimulai dari ketidaksiapan mengantisipasi bencana. Korban banyak dan banyak yang tidak terselamatkan.

Baca Juga :
Siaga Bencana

Mitigasi dan penanganan pascabencana juga seolah-olah tak berjalan dengan baik. Alhasil, jatuhnya korban jiwa akibat bencana tersebut menjadi tak terelakkan. Hingga saat fasilitas kesehatan dihampir semua lokasi terdampak bencana sudah tersedia, namun tenaga medis masih kurang. Alat medis untuk merawat pasien patah tulang juga masih kurang.

Ada beberapa aspek yang seharusnya menjadi fokus pemerintah dalam menangani bencana. Pertama, yakni langkah antisipasi atau preventif. Kedua, yakni langkah mitigasi usai bencana. Dua aspek tersebut masih sangat lemah dipraktikkan oleh pemerintah di bencana NTT saat ini.

Dari sisi antisipasi bencana, seharusnya pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah dalam status siaga. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan risiko cuaca buruk di NTT, beberapa hari sebelumnya.

Pemerintah daerah seharusnya sudah harus memberikan penjelasan atau kesiapsiagaan kepada warganya saat BMKG memberikan peringatan tersebut. Yang terjadi saat ini adalah setelah terjadi bencana, semua berteriak-teriak.

Tak hanya itu, hal lain yang patut dipertanyakan adalah upaya mitigasi saat terjadinya hingga pascabencana. Saat kejadian, tak ada sistem peringatan dini hingga upaya evakuasi dilakukan secara besar-besaran.

Padahal, NTT adalah salah satu wilayah yang rawan terjadi bencana alam berupa banjir dan longsor. Faktor geografis yang terdiri dari wilayah kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri untuk lakukan evakuasi saat terjadi bencana.

Peringatan dini itu seharusnya bisa dilakukan melalui media sosial, pesan singkat atau notifikasi aplikasi yang cepat diterima warga. Tapi, lagi-lagi kita ini lemah dalam koordinasi dan kerja sama.

Dari sisi status bencana, seharusnya pemerintah pusat cepat menetapkan status bencana NTT sebagai bencana nasional. Apalagi dampak dan kerusakan di provinsi itu sudah masuk dalam skala luas. Status bencana nasional bisa mempercepat pemulihan (recovery) pascabencana terjadi.

(ril/P-4)
Redaktur : Khairil Huda

Komentar

Komentar
()

Top