Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Babak Baru Hubungan AS-Iran

Babak Baru Hubungan AS-Iran
Foto : SAUL LOEB / AFP
A   A   A   Pengaturan Font

Hubungan bilateral Amerika Serikat (AS)-Iran kembali memasuki babak baru, Jumat (19/2). PresidenJoe Biden mencabut seluruh sanksi terhadapIranyang diberlakukan di era Presiden Donald Trump. Dengan kebijakan baru ini, AS berharap Iran mau kembali menaati perjanjian pembatasan program nuklir yang disepakati pada 2015.

Perjanjian nuklirJoint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) diteken Iran dengan enam negara besar (Inggris, Prancis, Jerman, Tiongkok, Russia, dan AS), pada 2015. Perjanjian nuklir ini mengatur pembatasan untuk memperlama waktu yang dibutuhkan Iran dalam memproduksi sebuah bom nuklir jika negara itu ingin melakukannya. Waktu yang dibutuhkan menjadi setahun dari awalnya 2-3 bulan.

Perjanjian Nuklir ini dianggap berhasil memaksa Iran menyerahkan hak pengolahan uranium kepada Russia dan berkomitmen membuka data aktivitas nuklirnya agar mencegah produksi senjata massal.

Sebagai gantinya, Iran mendapat kelonggaran sanksi, mulai dari ekonomi hingga yang terakhir embargo senjata.

Iran memiliki dua fasilitas pengayaan uranium yaitu Natanz dan Fordow. Fasilitas Natanz terdapat jauh di bawah permukaan tanah, sedangkan Fordow terletak di dalam sebuah gunung yang tidak aktif. Ini dirancang untuk menghindari serangan udara musuh.

Kesepakatan nuklir ini mengizinkan Iran untuk melanjutkan pengayaan uranium di Natanz dengan batasan. Perjanjian nuklir ini juga mengatur Fordow menjadi pusat teknologi fisika dan nuklir. Centrifuges nuklir akan digunakan untuk memproduksi isotop, yang bermanfaat untuk kegiatan damai nonmiliter.

Perjanjian nuklir ini juga mengatur pengawasan oleh lembaga atom internasional atauInternational Atomic Energy Agency. Lembaga ini memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai inspeksi dan melakukan ratifikasi atau memaksa masuk ke sebuah fasilitas. IAEA juga berwenang melakukan pengecekan harian di instalasi Natanz dan Fordow selama 15 tahun.

AS menarik diri dari perjanjian nuklir (JCPOA) pada era pemerintahan Trump. Trump mendasari keputusan itu karena Iran masih mengembangkan persenjataan rudal dan terlibat dalam sejumlah konflik di Timur Tengah, yakni Suriah dan Yaman. Pemerintahan Trump lantas menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap para pejabat, pengusaha, hingga perusahaan Iran.

Murka dengan keputusan Trump, Iran lantas meningkatkan pengayaan uranium hingga 20 persen, walau masih jauh dari tingkat pengayaan untuk membuat senjata yakni 90 persen. Bahkan, mereka kini mulai menjajaki produksi logam uranium.

Biden tentu punya pertimbangan strategis dalam memperbaiki hubungan dengan Iran. Satu titik sentral yang harus diperhatikan di kawasan ini adalah Teluk Persia. Inilah urat nadi pengiriman minyak dunia. Setiap hari, kapal-kapal tanker wara-wiri di teluk ini mengangkut 18 juta barel atau 30 persen pasokan minyak mentah dunia.

Yang ditakutkan negara-negara besar adalah jika Iran sampai menutup Selat Hormuz, satu-satunya jalan untuk keluar dari Teluk Persia. Selama ini, negara-negara Timur Tengah memproduksi sepertiga dari total minyak bumi dunia. Iran di posisi kedua, yakni 4,7 juta barel per hari, setelah Arab Saudi dengan produksi 12,3 juta barel per hari.

(ril/P-4)
Redaktur : Khairil Huda

Komentar

Komentar
()

Top