Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Ayo Serius Bangun EBT

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) jelas lebih murah karena tidak membutuhkan pasokan matahari dari daerah lain, tidak ada biaya transportasi.

Listrik sangat penting bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Sebagian besar kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan konsumsi, membutuhkan energi dan tenaga listrik.

Bisa dikatakan tersedianya tenaga listrik menjadi syarat mutlak mau tidaknya investor menanamkan modalnya. Karena itu, bagi negara berkembang seperti Indonesia, perekonomian tidak akan tumbuh jika jaminan energi dan pasokan listrik (security of supply) tidak tersedia.

Sayangnya pemerintah bisa dibilang kurang serius dalam memberikan jaminan energi dan pasokan listrik. Kurang serius karena tidak berusaha maksimal untuk meningkatkan kapasitas energi listrik dari Enegri Baru Terbarukan (EBT). Selama ini terlalu mengandalkan energi fosil yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan. Ini tentu sangat aneh. Bagaimana bisa wilayah yang lokasinya berada di garis khatulistiwa yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun seperti Indonesia, masih terdapat daerah yang belum teraliri listrik.

Memang, dalam beberapa tahum terakhir rasio elektrifikasi di Indonesia meningkat lumayan tingi meski itu pun sering terjadi mati listrik yang membuat industri kecil tidak optimal berproduksi. Ini sungguh tidak adil. Bagaimana warga di daeah terpencil bisa bersaing dalam pembangunan berbasis teknologi jika listrik saja mereka tidak punya.

Tidak usah untuk industri, untuk belajar secara online seperti di masa pandemi sekarang ini saja susah. Apa iya mengisi batere laptop dan handphone menggunakan accu? Terus bagaimana penduduk wilayah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan) bisa sejajar dengan penduduk wilayah lain Indonesia. Jangan-jangan 3T sudah berubah menjadi termiskin, terpencil, dan terlupakan.

Pemerintah selama ini selalu beralasan tenaga listrik dari EBT lebih mahal dibanding tenaga listrik dari fosil seperti batubara. Ini jelas pemutarbalikan fakta. Ini jelas jurus berkelit karena tidak serius membangun EBT.

Kenyataannya, EBT lebih efisien dibanding energi fosil. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di daerah terpencil biayanya sekitar 31 sen dollar AS per kWh, sedangkan biaya EBT (tenaga surya) hanya 15 sen dollar AS per kWh.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) jelas lebih murah karena tidak membutuhkan pasokan matahari dari daerah lain, tidak ada biaya transportasi dan sebagainya. Hanya tinggal memasang panel, matahari sudahnya sudah tersedia. Kalau menggunakan energi fosil sangat tergantung dengan pasokan diesel dan batubara dari wilayah lain.

Pemerintah, ayo serius kembangkan EBT. Masa kita mau terus menerus menggunakan energi yang tidak ramah lingkungan. Hasil riset Global Alliance on Healtgh and Pollution (GAHP) yang dipublikasikan beberapa waktu lalu menempatkan Indonesia sebagai negara keempat penyumbang kematian terbesar akibat polusi.

Sebagai anggota G-20 yang baru bertemu di Pitsburg belum lama ini, Indonesia diminta berkomitmen menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26 persen dengan usaha sendiri dan bisa mencapai 41 persen jika mendapat bantuan internasional.

Jangan sampai Indonesia dituduh tidak puntya komitmen menurukan GRK. Apalagi lembaga Think Tank Carbon Tracker Initiative dalam laporannya berjudul Do Not Revive Coal menyebut ada lima negara, termasuk Indonesia yang berpotensi menyebabkan Perjanjian Paris soal Perubahan Iklim tidak tercapai.


Redaktur : Aloysius Widiyatmaka
Penulis : M. Selamet Susanto

Komentar

Komentar
()

Top