Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Stabilitas Keuangan

Asean+3 Sepakati Fasilitas Pembiayaan Baru untuk Cegah Krisis

Foto : ANTARA

MASATO KANDA Wakil Menteri Keuangan Urusan Internasional Jepang - Pembentukan skema baru yang disebut Fasilitas Pembiayaan Cepat dan isi spesifiknya akan dikonfirmasi secara resmi pada pertemuan tingkat menteri.

A   A   A   Pengaturan Font

TOKYO - Deputi kelompok negara-negara Asean+3, pada Kamis (7/12), sepakat untuk membentuk fasilitas pinjaman regional baru guna menanggapi keadaan darurat di wilayah tersebut, di tengah meningkatnya ketidakpastian atas perlambatan ekonomi global dan kenaikan suku bunga AS.

Inflasi di kawasan Asean+3 tahun depan diproyeksikan tetap di level tinggi. Kondisi tersebut diperkirakan akibat dampak kenaikan harga komoditas global dan tingginya perkembangan inflasi inti di beberapa negara.

Dikutip dari The Straits Times, pengelompokan Asean+3 menandai kedekatan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (Asean).

"Pembentukan skema baru yang disebut Fasilitas Pembiayaan Cepat dan isi spesifiknya akan dikonfirmasi secara resmi pada pertemuan tingkat menteri yang dijadwalkan pada musim semi dan musim panas mendatang," kata Wakil Menteri Keuangan Urusan Internasional Jepang, Masato Kanda, setelah pertemuan dua hari kelompok tersebut di Kanazawa.

Fasilitas baru ini dimaksudkan untuk melengkapi jaringan pertukaran mata uang multilateral yang sudah ada yang dikenal sebagai Chiang Mai Initiative Multilateralisation (CMIM) yang dapat digunakan pada saat krisis.

Menurut para deputi dalam pernyataan bersama, ini akan ditempatkan di bawah payung CMIM.

"CMIM diciptakan oleh kita semua demi stabilitas keuangan," kata Kanda kepada wartawan.

"Kami menyesal, mereka tidak pernah dimobilisasi bahkan di tengah pandemi Covid-19. Anda tidak pernah tahu kapan bencana alam atau pandemi akan terjadi. Negara-negara anggota sangat menginginkan fasilitas yang dapat memenuhi permintaan neraca pembayaran dalam situasi seperti ini," tambahnya.

Jepang berkeinginan untuk mewujudkan fasilitas yang meningkatkan penggunaan jalur pertukaran mata uang yang sudah ada, yang seharusnya lebih mudah diakses, sehingga memungkinkan anggota untuk memanfaatkan dana dalam keadaan darurat.

Kelompok Asean+3 menciptakan jalur pertukaran mata uang pada tahun 2000, setelah krisis keuangan Asia pada akhir tahun 1990-an, dan mengubahnya menjadi jaringan multilateral pada tahun 2010 untuk membantu satu sama lain mencegah atau memerangi arus keluar modal yang tajam.

Meskipun para pembuat kebijakan di Asia menekankan bahwa negara mereka memiliki cadangan devisa dan cadangan devisa yang cukup untuk menangkis krisis berikutnya, mereka juga melihat adanya ruang untuk perbaikan dalam pengaturannya.

Rentan Guncangan

Sementara itu, Kantor Penelitian Makroekonomi Asean+3 (AMRO) dalam laporan stabilitas keuangan atau Asean+3 Financial Stability Report/AFSR) 2023 menyatakan tingkat utang yang tinggi menyebabkan stabilitas keuangan Asean+3 rentan terhadap guncangan yang muncul mendadak.

Kepala Ekonom AMRO, Hoe Ee Khor, mengatakan akumulasi utang yang cepat baik oleh sektor swasta maupun publik membuat sistem keuangan lebih rentan terhadap guncangan yang tiba-tiba.


Redaktur : andes
Penulis : Selocahyo Basoeki Utomo S

Komentar

Komentar
()

Top