Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Dampak Perang

Amerika Serikat Tambah Bantuan Senjata dan Peralatan ke Ukraina Senilai 3,8 Triliun Rupiah

Foto : ANTARA/REUTERS/Stringer

Tentara Ukraina menembakan mortir dari meriam M777 Howitzer di dekat garis terdepan di tengah-tengah berlanjutnya invasi Russia ke Ukraina di kawasan Donetsk, Ukraina, baru-baru ini.

A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS), pada Rabu (27/12), mengumumkan mereka akan memberikan tambahan paket bantuan senjata dan peralatan senilai 250 juta dollar AS (sekitar 3,84 triliun rupiah) bagi Ukraina.

Paket tersebut mencakup amunisi pertahanan udara, komponen sistem pertahanan udara lain, amunisi tambahan untuk sistem roket artileri mobilitas tinggi, amunisi artileri 155 mm dan 105 mm, amunisi antilapis baja dan lebih dari 15 juta butir amunisi senjata kecil.

"Bantuan kami sangat penting untuk mendukung mitra Ukraina kami dalam membela negara dan kebebasan mereka melawan agresi Russia," kata Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dalam sebuah pernyataan.

Seperti dikutip dari Antara, mengingat koalisi lebih dari 50 negara terus memberikan dukungan bagi Ukraina, Blinken mengatakan sangat penting bagi Kongres untuk bertindak cepat, sesegera mungkin, untuk memajukan kepentingan keamanan nasional AS dengan membantu Ukraina mempertahankan diri dan mengamankan masa depannya.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan setelah pengumuman tersebut bahwa AS terus menunjukkan komitmen abadinya terhadap pertahanan Ukraina dalam melawan agresi brutal Russia.

Pentagon mengatakan dalam sebuah pernyataan terpisah bahwa paket senilai 250 juta dollar AS itu meliputi rudal antipesawat Stinger dan amunisi tambahan untuk Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS).

"Kemampuan ini akan mendukung kebutuhan paling mendesak Ukraina guna memungkinkan pasukannya untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan mereka," tambah Pentagon.

Sejak awal perang Russia di Ukraina pada Februari 2022, AS telah mengirim bantuan militer sekitar 44,3 miliar dollar AS (sekitar 681,8 triliun rupiah) ke Kiev.

Permintaan Tambahan

Pengumuman itu disampaikan ketika dorongan untuk bantuan perang Ukraina melemah di Kongres, sekaligus sebagai bagian dari permintaan dana tambahan senilai 105 miliar dollar AS (sekitar 1,63 kuadriliun rupiah) yang diajukan oleh Presiden AS, Joe Biden.

Anggota Kongres dari Partai Republik telah membuat persetujuan paket tersebut bergantung pada pembatasan migrasi dalam kebijakan perbatasan.

Sekitar 61,4 miliar dollar AS (sekitar 945 triliun rupiah) dialokasikan untuk mengirimkan bantuan militer tambahan bagi Ukraina, termasuk pendanaan untuk mengisi kembali persediaan AS yang akan ditransfer ke Kiev berdasarkan usulan tersebut.

Selain bantuan bagi Ukraina, yang sejauh ini menjadi penerima paket bantuan terbesar, AS juga memberikan bantuan senilai 14,3 miliar dollar AS (sekitar 220,2 triliun rupiah) untuk Israel, lebih dari 13 miliar dollar AS (sekitar 200,1 triliun rupiah) untuk keamanan perbatasan dan pendanaan untuk prioritas kebijakan lainnya, termasuk bantuan kemanusiaan.

Sebelumnya, Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan Ukraina dan AS sepakat memproduksi senjata bersama sehingga membuat Kiev mulai memproduksi sistem pertahanan udara.

Dalam pidato kepada warga Ukraina, Zelenskyy mengatakan perjanjian jangka panjang itu akan menciptakan lapangan kerja dan basis industri baru di Ukraina, yang perekonomiannya hancur akibat invasi Russia.

"Ini sungguh kunjungan yang sangat penting ke Washington, hasil yang sangat penting," kata Zelenskyy dalam sebuah video yang diunggah dalam laman kepresidenan Ukraina.

"Dalam sebuah perjanjian jangka panjang, kami akan bekerja sama sehingga Ukraina memproduksi senjata yang diperlukannya, bersama dengan AS. Produksi bersama dalam (sektor) pertahanan dengan AS ini adalah hal bersejarah," sambung dia.

Kiev berusaha menggenjot produksi senjata dalam negeri sebanyak mungkin karena perang selama 19 bulan telah memperbesar permintaan senjata dan amunisi untuk menangkis serangan Russia di garis depan sepanjang 1.000 km.


Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Selocahyo Basoeki Utomo S

Komentar

Komentar
()

Top