• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kerajaan Apalache yang Hil...

Kerajaan Apalache yang Hilang: Misteri Kota Makmur di Pegunungan Appalachian

Senin, 09 Nov 2026, 05:35 WIB

Jauh sebelum pedalaman Amerika Utara dipetakan secara luas oleh bangsa Eropa, kawasan Pegu nungan Appalachian di bagian tenggara benua itu menyimpan banyak cerita tentang kerajaan pribumi yang kaya dan berkuasa. Salah satu kisah paling menarik datang dari seorang penulis Prancis ­bernama Charles de Rochefort pada abad ke-17.

Dalam bukunya yang terbit pada 1658, Histoire naturelle et morale des îles Antilles de l’Amérique atau Natural and Moral History of the Antilles of America, Rochefort menyisipkan kisah tentang sebuah kerajaan bernama Apalache. Kera­jaan itu digambarkan berada di tengah Pegunungan Appalachian, di wilayah yang seka­rang dikenal sebagai bagian barat North Carolina, AS.

Ket. Foto: Ibu kota Apalache, Melilot, yang diidentifikasi oleh Richard Thornton sebagai Lembah Nacoochee di Georgia Utara, digambarkan oleh Edouard Graeves pada tahun 1653. — Sumber: Domain Publik

Menurut penuturannya, Apalache merupakan negeri makmur dengan ibu kota bernama Melilot, yang berdiri tidak jauh dari tepian Danau Theomi dan berada di bawah sebuah gunung suci bernama Olaimy.

Kerajaan tersebut konon memiliki masyarakat yang maju, pemerintahan yang kuat, serta kehidupan yang da­mai. Bahkan, sejumlah pengungsi Eropa, termasuk orang Prancis dan Inggris, disebut telah menetap di sana dan diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Kisah itu semakin menarik karena para pendatang tersebut dikabarkan berhasil memperkenalkan agama Kristen kepada sang raja dan sebagian penduduk Apalache. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat setempat tanpa harus menaklukkan ataupun menguasai wilayah tersebut.

Dalam edisi bukunya pada 1665, Rochefort bahkan menyertakan ilustrasi yang menggambarkan Kota Melilot dan Gunung Olaimy. Gambar tersebut konon dibuat oleh seorang Inggris bernama Edward Graves, yang menyebut Apalache menyerupai Fortunate Isles, negeri-negeri keberuntungan yang sering muncul dalam kisah-kisah klasik.

Namun, benarkah kerajaan seperti itu pernah berdiri?

Jejak Cerita dari Pengungsi Eropa

Untuk memahami asal-usul kisah Apalache, perlu melihat kembali sejarah kedatang­an bangsa Eropa ke Amerika Utara.

Sejak penjelajah Spanyol Juan Ponce de León mencapai Florida pada 1513, berbagai kabar tentang kekayaan masyarakat pribumi di pedalaman Amerika mulai beredar. Cerita mengenai kerajaan besar dengan kekayaan emas dan perak bahkan mendorong ekspedisi-ekspedisi Eropa untuk menjelajahi wilayah yang belum mereka kenal.

Salah satu penjelajah yang terobsesi menemukan kerajaan semacam itu adalah Hernando de Soto. Sejak 1534, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun menjelajahi pedalaman Amerika Utara untuk mencari kekuasaan pribumi yang dianggap mampu menandingi kemegahan kerajaan Aztek dan Inka. Namun, pencarian tersebut tidak menghasilkan temuan seperti yang diharapkan.

Sekitar tiga dekade kemudian, kolonis Protestan Prancis tiba di Florida. Mereka mendengar cerita dari masyarakat Mocama mengenai sebuah bangsa kuat bernama Apalatci yang konon tinggal di wilayah pegunungan dan memiliki kekayaan emas serta perak.

Koloni Prancis tersebut akhirnya dihancurkan oleh serangan Spanyol. Namun, cerita tentang negeri di pedalaman itu tidak sepenuhnya hilang.

Pada dekade 1630-an, Rochefort mengaku telah mendengar berba­gai kisah me­nge­­nai Apalache. Sebagian besar informasinya, menurut pengakuannya, berasal dari seorang Ing­­gris bernama Brigstock.

Rochefort menggambarkan Brigstock sebagai sosok yang sa­ngat ingin tahu dan pernah melakukan perjalanan hingga ke jantung kerajaan tersebut. Melalui orang inilah kisah mengenai sejarah, masyarakat, dan kehidupan politik Apalache disampaikan kepada Rochefort.

Dalam cerita itu, sejarah kerajaan bermula dari seorang raja bernama Mayrdok. Ia disebut berhasil mengubah kehidupan masyarakatnya dari kelompok pengembara menjadi komunitas yang menetap dan mengembangkan pertanian.

Perubahan tersebut menjadi awal kemakmuran Apalache. Masyarakatnya kemudian membangun kehidupan sosial yang teratur dan memiliki hubungan baik dengan pendatang dari luar wilayah.

Pengungsi Eropa ­Menemukan Negeri Damai

Bagian paling menarik dari cerita Rochefort berkaitan dengan kedatangan para pengungsi Eropa ke Apalache.

Menurut kisah Brigstock, tidak lama setelah 1565, sekelompok orang Prancis beragama Protestan atau Huguenot tiba di kerajaan tersebut. Mereka sebelumnya melarikan diri setelah koloni Prancis di Florida diserang Spanyol.

Para pengungsi itu awalnya berharap menemukan emas dan perak sebagaimana kabar yang mereka dengar. Namun, mereka justru menemukan sesuatu yang dianggap lebih berharga, yakni masyarakat yang hidup damai di bawah pemerintahan seorang raja yang bersahabat dengan orang asing.

Rochefort menggambarkan Apalache sebagai negeri dengan tanah subur, lingkungan yang indah, serta penduduk yang memiliki adat istiadat santun.

Sang raja mengizinkan para pendatang menetap. Mereka kemudian memperoleh tempat terhormat dalam masyarakat, memperkenalkan sejumlah kosakata bahasa Prancis, dan mengajarkan dasar-dasar agama Kristen kepada penduduk setempat.

Gelombang pendatang berikutnya dikisahkan datang pada dekade 1620-an. Kali ini, mereka terdiri atas orang Inggris dan Irlandia yang melarikan diri dari konflik dengan masyarakat pribumi di wilayah koloni mereka, serta gejolak politik dan perang saudara di Inggris.

Para pendatang tersebut disebut berhasil memperkenalkan agama Kristen kepada sang raja dan sebagian masyarakat. Bahkan, mereka dikabarkan mendirikan sebuah gereja.

Menariknya, Rochefort menekankan bahwa orang-orang Eropa tersebut bukanlah penjajah ataupun penakluk. Mereka datang bukan untuk mencari kekayaan atau menguasai wilayah, melainkan untuk memperoleh kehidupan yang damai.

Dalam gambaran tersebut, Apalache justru menjadi kebalikan dari Eropa yang saat itu dilanda perang, perselisihan agama, dan intoleransi.

Apalache, Sebuah Negeri Utopia?

Kisah kerajaan Apalache ternyata memiliki kemiripan dengan tradisi sastra utopia yang berkembang di Eropa pada awal zaman modern.

Pada masa itu, banyak penulis menciptakan gambaran tentang negeri-negeri ideal yang biasanya ditempatkan di wilayah Amerika atau Asia. Negeri-negeri tersebut menjadi sarana untuk mengkritik kehidupan politik, sosial, dan keagamaan di Eropa.

Salah satu karya paling terkenal adalah Utopia yang ditulis filsuf Inggris Thomas More pada 1516. Buku tersebut menceritakan sebuah masyarakat ideal di sebuah pulau yang berada di lautan menuju Amerika.

Dalam karya itu, Thomas More menggambarkan masyarakat Utopia sebagai kelompok yang memiliki kehidupan lebih baik dibandingkan sebagian besar masyarakat lain. Toleransi beragama menjadi salah satu gagas­an penting yang ditonjolkan.

Pola serupa terlihat dalam kisah Apalache. Rochefort menghadirkan sebuah masyarakat tempat umat Katolik dan Protestan dapat hidup berdampingan dengan pemeluk kepercayaan tradisional.

Bahkan, menurut ceritanya, sejumlah misionaris Spanyol tinggal di salah satu wilayah kerajaan tersebut.

Gambaran itu dapat dibaca sebagai kritik terhadap situasi keagamaan di Prancis pada masa pemerintahan Raja Louis XIV. Ketika itu, kelompok minoritas Protestan menghadapi tekanan dan penganiaya­an.

Dengan menghadirkan Apalache sebagai negeri yang menjunjung toleransi, Rochefort seolah menawarkan gambaran tentang masyarakat ­ideal yang sulit ditemukan di Eropa.

Namun, berbeda dengan Thomas More yang dikenal sebagai penulis karya utopia, Rochefort pernah melakukan perjalanan dan memiliki hubungan dengan jaringan informasi lintas Samudra Atlantik. Karena itu, kisah Apalache tidak serta-merta dapat dianggap sebagai fiksi sepenuhnya.

Fragmen Sejarah di Balik Legenda

Ada kemungkinan bahwa kisah Rochefort berangkat dari peristiwa sejarah yang kemudian berkembang menjadi cerita yang lebih fantastis.

Keberadaan pengungsi Prancis di wilayah pegunung­an setelah kehancuran koloni mereka di Florida pada 1565 memiliki dasar sejarah. Dalam sebuah laporan pada tahun yang sama, penakluk Spanyol Pedro Menéndez de Avilés menyebut sedikitnya 150 orang Prancis melarikan diri. Sebagian di antaranya dikabarkan menuju kawasan pegunungan.

Rochefort mungkin memperoleh cerita dari para penyintas atau keturunan mereka. Pengalaman nyata tersebut kemudian bercampur dengan kisah masyarakat pribumi dan imajinasi penulis Eropa.

Unsur lain yang mungkin memengaruhi narasi Apalache adalah legenda masyarakat pribumi Mesoamerika mengenai Aztlan, sebuah tanah asal leluhur yang diyakini berada di wilayah utara. Dalam sejumlah tradisi, tempat tersebut digambarkan memiliki danau serta kawasan pegunungan dan gua suci.

Rochefort juga menyebut bahwa pada masa lampau sekelompok orang Apalache bermigrasi ke selatan dan membentuk komunitas di Meksiko bernama Tlatuici, yang berarti masyarakat dari pegunungan.

Mereka konon menetap di kawasan subur di kaki pegunungan yang memiliki kondisi alam menyerupai tempat asal mereka.

Kemiripan berbagai unsur tersebut memperlihatkan kemungkinan terjadinya percampuran cerita lintas budaya. Legenda pribumi, pengalaman pengungsi Eropa, dan gagasan tentang masyarakat ­ideal mungkin bertemu dalam satu narasi yang kemudian ditulis Rochefort.

Kerajaan yang ­Mungkin Terinspirasi dari ­Peradaban Nyata

Meski belum ditemukan bukti arkeologis mengenai keberadaan Kota Melilot atau kerajaan Apalache sebagaimana digambarkan Rochefort, kawasan tenggara Amerika Utara pada masa itu bukanlah wilayah kosong tanpa peradaban.

20261108214715_Appalachians_NC_BLRI9242.jpg

Pegunungan Appalachian di dekat Blue Ridge Parkway di North Carolina.Foto : Wikimedia Commons

Wilayah tersebut pernah menjadi pusat berbagai masyarakat pribumi dengan sistem pemerintahan dan kehidupan sosial yang kompleks. Salah satu kebudayaan penting adalah tradisi Mississippian, yang melahirkan sejumlah pusat permukiman besar dan pemerintahan berbasis kepemimpinan kepala suku atau paramount chiefdoms.

Salah satu pusat peradaban paling terkenal adalah Cahokia, yang berada di dekat lokasi St. Louis saat ini. Kota tersebut pernah berkembang menjadi metropolis besar pada abad pertengahan akhir, meskipun mengalami kemunduran sejak abad ke-12. Pengaruh kebudayaannya kemudian berlanjut melalui berbagai komunitas penerus di kawasan sekitarnya.

Di wilayah Georgia utara, terdapat pula kerajaan atau pemerintahan pribumi Coosa yang berkembang pada abad ke-15 dan ke-16. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan tempat Rochefort menempatkan Apalache.

Sejumlah penjelajah Spanyol pernah mencapai pusat pemerintahan Coosa setelah melakukan perjalanan melintasi pegunungan. Mereka melaporkan bahwa ibu kota wilayah tersebut dihuni sekitar 5.000 orang.

Para penjelajah juga mencatat keberadaan seorang penguasa yang dibawa menggunakan tandu oleh para pengikutnya. Gambaran tersebut menunjukkan adanya struktur kekuasaan dan tatanan sosial yang cukup kompleks. hay

  • sejarah dunia

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.